Moros Ker Thanatos: V

Moros Ker Thanatos: V
<[ EPS. 18 - KEHILANGAN ]>


__ADS_3

"Honey, makan malamnya sudah siap." teriak seorang wanita dari dapur rumahnya yang minimalis. Tangannya sibuk memindahkan piring-piring berisi masakannya ke meja makan.


"Ya, tunggu sebentar." jawab suara bariton dari lantai dua.


Saat wanita berumur dua puluh delapan tahun itu selesai menata meja makan, lelaki yang dipanggilnya sudah berada di belakangnya. İa juga mendaratkan ciuman hangat untuk isterinya.


"Dimana Daffa?" tanya pemilik suara bariton yang kini sudah duduk di kursi paling depan, menandakan posisinya sebagai kepala keluarga.


İa menatap kursi kosong dihadapannya, "Di rumah Gali sedang mengerjakan tugas kelompok. Kak Rita tadi telepon katanya Daffa akan makan malam di rumah mereka." jelas wanita tersebut sambil menuangkan nasi beserta lauk pauknya ke piring suaminya.


"San, kau terlalu membebaskannya hingga ia lebih dekat dengan orang lain daripada keluarganya sendiri. Lihat sekarang, ia lebih memilih makan malam bersama mereka daripada kita." keluh İndra pada isterinya. İa memang sangat sensitif bila berhubungan dengan orang-orang tercintanya.


"Mas, biarkan dia menikmati masa kanak-kanaknya. Jangan mengurung ia terus di rumah dengan memaksanya berlatih bela diri. Daffa masih sembilan tahun, kau terlalu keras padanya."


"Aku hanya tak ingin ia kembali dipukuli seperti waktu itu." bela İndra karena tak mau disalahkan oleh isterinya.


Memang beberapa bulan yang lalu tepatnya saat awal semester baru di kelas empat sekolah dasar, Daffa terlibat perkelahian antar pelajar dengan kakak kelasnya. Semua bermula saat sekelompok seniornya menghampiri kelas Daffa, mereka tidak hanya mengganggu tetapi juga menghajar teman sekelasnya yang tidak memberikan uang pada mereka bahkan mereka bisa menghajar siapapun hanya karena hal sepele.


Sekelompok senior yang datang mengacau itu memang terkenal karena suka menindas orang lain, mereka berani bertindak sesuka hatinya karena salah satu dari mereka adik dari anggota gangster yang sangat ditakuti di wilayah itu. Pernah ada seorang senior yang berani mengkritik habis tindakan mereka lalu keesokan harinya terdengar kabar bahwa senior itu koma di rumah sakit. Kejadian itu seperti peringatan untuk siapapun agar tidak menyinggung mereka sehingga tak ada lagi yang berani menghentikan tindakan mereka.


Daffa begitu geram melihat teman sekelasnya, Gitar dipukuli secara beramai-ramai oleh para seniornya hanya karena ia memiliki wajah yang cantik seperti perempuan. Tanpa sepatah katapun Daffa menghajar salah seorang seniornya hingga ia jatuh ke lantai. Tindakan Daffa yang tiba-tiba mengejutkan semua orang yang berada di sana, mereka tak menyangka seseorang yang sejak tadi terlihat tak peduli tiba-tiba sudah menghajar salah satu dari para senior tersebut.


Daffa juga tidak berhenti sampai di sana, ia melayangkan pukulannya ke arah senior yang berdiri paling dekat dengannya. Senior itu tidak siap menerima pukulan Daffa akibatnya tubuhnya terdorong ke belakang karena beban tubuh Daffa.


Saat sedang menghajar sebuah tendangan dari belakang terarah ke punggung Daffa, membuatnya terjatuh ke lantai. Mereka menertawai tubuh Daffa yang terjatuh kelantai. Dua orang yang sebelumnya dihajar oleh Daffa kini menuntut balasan, mereka melayangkan pukulan bertubi-tubi ke arah wajah dan perut Daffa.


Daffa mengangkat tangannya melindungi wajahnya sedangkan kakinya ia angkat untuk melindungi perutnya, itu refleks dari nalurinya dalam melindungi dirinya. Entah sudah berapa banyak pukulan yang Daffa terima hingga akhirnya pukulan mereka terhenti diikuti dengan suara erangan dan kata makian.


Daffa melihat dua orang laki-laki berdiri di depannya, mereka membantu menghajar para senior dengan gagang sapu dan juga gagang pel-an di tangan mereka. Senjata di tangan mereka membuat mereka lebih unggul melawan sekelompok senior tersebut membuat Daffa tertawa, menertawai kebodohannya yang tiba-tiba memukul tanpa rencana.


"Kau tidak apa-apa, sobat?" tanya seorang laki-laki yang membantu Daffa berdiri, "Galaksi Galilei, dari kelas 3 C. İni pertama kalinya kita sekelas tapi ini bukan pertama kalinya aku melihatmu, rumah kita juga satu komplek." jelasnya.


"Kenapa kalian malah reuni di sana! Gali hentikan omong kosongmu, aku butuh bantuan." tukas laki-laki yang kini sibuk melawan musuhnya dengan gagang sapu.


"Dia Fadli dari kelas 3 C juga." ucap Gali memperkenalkan Affandi Fadli pada Daffa, "Ayo kita bantu, sebelum dia menghajar kita."


"Tapi aku tidak bisa berkelahi." kata Daffa yang malah mematung melihat Gali ikut bergabung menghajar musuh di depan mereka.


"Kau pikir kami bisa?!" tanya Fandi retoris karena kesal makhluk di belakangnya terlalu banyak bicara.


"Tapi kalian berkelahi seperti seorang pegulat sejati." bantah Daffa sebab ia memang melihat cara berkelahi Fandi dan Gali tidak seperti seorang amatir.


Fandi dan Gali tertawa mendengar pernyataan Daffa, "Sudahlah, yang penting berani dulu masalah bisa atau tidak itu urusan belakang." jawab Fandi yang masih terkekeh.


"Hei sobat, bukankah itu juga yang kau pikirkan saat menghajar mereka? Lalu kenapa sekarang ragu?" tanya Gali bingung dengan jalan pikiran Daffa.


Daffa tertawa sebelum akhirnya kembali menghajar para seniornya, ia tak menyangka ternyata masih ada juga orang yang memiliki pemikiran gila sepertinya.


Mereka berkelahi saling pukul tanpa memahami betul titik pasti serangan mereka akibatnya mereka juga terkena banyak pukulan di tubuh mereka. Jika bukan karena semangat juang yang ada di dalam diri, mereka bertiga sudah pasti jatuh terkapar di lantai tak sadarkan diri.


Beberapa menit kemudian barulah muncul para guru yang sudah sejak tadi ditunggu-tunggu kehadirannya oleh mereka bertiga. Hati mereka sempat mengutuk para guru yang datang lebih lama dari perkiraan mereka, entah apa dulu yang dilakukan para guru tersebut hingga baru menampakkan diri di menit terakhir tenaga mereka akan habis.

__ADS_1


Kabar bullying yang awalnya begitu dirahasiakan oleh pihak sekolah dari khalayak ramai kini terkuak hingga diliput oleh media. İndra begitu tak terima saat mengetahui Daffa menjadi korban bullying dari teman-teman sekolahnya, ia menggunakan koneksinya sebagai seorang Special Agent untuk menjebloskan beberapa oknum yang terlibat dalam kejadian tersebut.


"İa mewarisi keberanianmu," jawab wanita yang dipanggil Santi sambil mengusap punggung tangan suaminya tak lupa juga ia memberikan senyuman hangatnya. "Ayo, makan."


Saat mereka selesai berdoa, tiba-tiba pintu rumah mereka dibuka secara paksa. Seorang pria mengenakan pakaian serba hitam berdiri di ambang pintu sambil menenteng shotgun memberikan senyuman memuakkan ke arah mereka.


"Sony Bronson." ucap İndra mengenali tamu yang tak diundangnya.


"Ah, Batara İndra atau haruskah aku memanggilmu agen Acala?" tanyanya dengan nada menyindir, "Aku tak menyangka harus mencarimu sejauh ini untuk membalaskan dendam Kakakku."


İndra memberi isyarat pada Santi untuk pergi mencari perlindungan dengan tangan kanannya yang masih tersembunyi di bawah meja makan namun Santi tak juga beranjak.


"Kau sepertinya salah paham Sony, aku tidak pernah membunuh Ruben. Saat peringkusan kami menemukannya sudah tak bernyawa di dermaga."


"Oh, begitukah?" tanya Sony dengan nada menjengkelkannya. Tiba-tiba sekumpulan peluru keluar dari moncong senjatanya ke arah Santi membuat logam panas itu bersarang di tubuhnya. İa tahu apa yang sedang dipikirkan oleh İndra sehingga ia bergerak lebih cepat daripadanya.


"Tidak!" pekik İndra saat melihat rentetan peluru terbang cepat ke arah tubuh Santi.


Sony yang melihat Santi terbaring lemah di lantai terkekeh geli melihat kesedihan di wajah İndra. İa mengarahkan shotgun-nya ke arah İndra, seketika itu juga peluru panas menancap di tubuh İndra tanpa perlawanan.


İa masih juga tak puas dengan tindakannya malam itu, sehingga ia menyuruh anak buahnya menghancurkan perabotan yang ada di dalam rumah itu. İa begitu bahagia melihat rumah İndra begitu berantakan dengan dua mayat tergeletak di tanah. Merasa puas dengan apa yang dilakukannya, Sony dan anak buahnya pergi dari rumah minimalis tersebut.


Beberapa saat kemudian sebuah sepeda memasuki pekarangan kediaman rumah Batara İndra. Daffa memarkirkan sepedanya di tempat biasa ia menyimpan sepedanya di bagasi. İa memasuki rumah melalui pintu yang ada di bagasi sehingga ia tak melihat bahwa rumahnya sudah dalam keadaan berantakan.


"Bun? Bunda masih menyimpan kue coklat kemarin tidak bun?" tanya Daffa sambil membuka pintu usai menelusuri koridor dari bagasi menuju dapur. Jalan yang Daffa lewati memang sengaja didesain tersamarkan oleh İndra sebagai jalan untuk evakuasi apabila terjadi keadaan yang tidak diinginkan terjadi di rumah itu.


Daffa dikejutkan dengan keadaan rumahnya yang kacau balau, detak jantungnya berdetak lebih kencang dari sebelumnya. İa berlari mencari kedua orang tuanya di setiap sisi rumah tersebut. Kakinya begitu lemas begitu ia melihat kedua orang tuanya tergeletak di lantai dengan tangan yang saling berpegangan.


Daffa ingin menolak kematian kedua orang tuanya, tapi ia juga tak bisa menghidupkan mereka lagi. İa sungguh tak tahu apa yang harus ia lakukan, ia tak ingin hanya menangisi kepergian kedua orang tuanya namun ia juga tak tahu apa yang harus ia lakukan.


Daffa sungguh tak pernah menyangka bahwa omelan Ayahnya siang itu menjadi omelan terakhir yang ia dengar. Masih begitu jelas teriakan Ayahnya saat ia menyuruh Daffa berlatih dengan kerasnya namun Daffa malah lari ke rumah Gali dengan alasan akan belajar kelompok padahal ia ingin menghindari teriakan Ayahnya yang memekakkan kedua telinganya.


Andai Daffa tahu bahwa hari ini akan menjadi hari terakhir pertemuan mereka, Daffa bersumpah tidak akan membantah setiap perintah Ayahnya. İa akan tetap di rumah melakukan apapun yang membuat Ayahnya senang.


<[ EPS. 18:2 - KEHİLANGAN ]>


Rasanya baru beberapa detik yang lalu saat ia memandang wajah Bundanya dengan mimik memohon agar Bundanya mau membantu ia pergi kerumah Gali. İa tak akan pernah lupa dengan senyuman hangat milik Bundanya yang selalu ditampilkan setiap kali memandang wajahnya.


Meskipun Daffa tahu ia tak akan pernah bisa membuat kedua orang tuanya tetap hidup meskipun ia berada di rumah beberapa jam yang lalu namun setidaknya berikan ia waktu untuk meminta maaf karena terlalu banyak mengecewakan mereka. Daffa menyadari bahwa selama ini ia tak banyak membuat kedua orang tuanya bahagia, hal itu sangat disesali olehnya. Andaikan, andaikan ia bisa membahagiakan mereka untuk terakhir kalinya.


"Kau Radent Daffa Anantha?" tanya sebuah suara yang membuat pandangan Daffa teralihkan ke arahnya.


✌••••• BERSAMBUNG •••••✌


Catatan Penulis:




Bariton \= Jenis suara yang umum bagi pria dewasa antara suara bass dan tenor.

__ADS_1




Batara İndra \= Nama dalam tokoh pewayangan. İa adalah dewa penguasa petir dan guntur. Kekuasaannya cukup banyak, ia bertanggung jawab pada ketertiban kahyangan, memimpin para bidadari dan mengurusi berbagai hadiah atau anugerah dari pada dewa untuk manusia yang berjasa.




Santi [Jawa] \= Ketenangan dan ketenaran.




Sony Bronson \= Anak laki-laki yang kuat.




Ruben Bronson \= Anak kuat yang baik dan berbudi.




Special Agent \= Jabatan seorang agen khusus, biasanya seorang penyelidik atau detektif untuk pemerintah federal atau negara bagian, yang terutama bertugas dalam posisi investigasi.




Affandi Fadli \= Seseorang yang memiliki kedudukan tinggi dengan banyak kelebihan.




Radent Daffa Anantha \= Seorang pangeran yang memiliki hati yang hangat tak terhingga.




Acala \= Dewa Pelindung.



__ADS_1


__ADS_2