Moros Ker Thanatos: V

Moros Ker Thanatos: V
<[ EPS. 6 - PELATIHAN NERAKA ]>


__ADS_3

Melihat Fernandez yang mulai kebingungan, V mengalihkan pembicaraannya, "Kakek Fernandez, sebenarnya apa yang melatar belakangi Papah mendesain rumah seluas ini?"


"Ah, kalau itu saya tidak berani menjawabnya. Nona Muda bisa tanyakan langsung kepada Tuan Besar Éclair." jawab Fernandez.


"Mungkin Papah terinspirasi dari taman bermain The Fun Light? Jika dikira-kira luasan mana rumah ini dengan taman bermain itu Kakek Fernandez?" tanya V termenung.


"Ah, pasti luasan taman bermain itu. Bagaimana jika kita membuka taman bermain di sini? Mungkin rumah ini tidak akan sesunyi ini tapi jika menjadikan rumah ini sebagai taman bermain butuh perombakan secara besar-besaran dan perlu menambahkan beberapa mesin bermain." gumam V menerka-nerka dengan gaya penuh pengetahuan.


Fernandez tertawa melihat tingkah Nona Mudanya yang bertanya sambil menjawab sendiri pertanyaannya. Ia seperti melihat sosok Aldrich kecil, karena sejak kecil Aldrich Éclair sudah mulai tertarik dalam dunia bisnis.


"Ah, Nona Muda, bolehkah saya menginterupsi anda?" tanya Fernandez meminta izin.


"Eh, bukannya Kakek Fernandez sudah melakukannya?" tanya V mengingatkan.


Fernandez meminta maaf sambil tertawa kecil karena malu, "Sebenarnya taman bermain The Fun Light itu milik keluarga Éclair, taman bermain itu dirancang khusus untuk Nona Muda. Untuk luas wilayahnya memang tentu The Fun Light lebih luas dari rumah utama." jelas Fernandez.


"Astaga! Aku baru tahu Papahku sekaya itu. Kupikir taman bermain itu milik seorang Kakek-kakek tua berperut buncit dengan kepala botak di tengahnya." jawab V terkejut dengan polosnya ia mengutarakan semua yang ada dalam bayangannya membuat Fernandez dan beberapa pelayan lainnya tertawa kecil.


"Selanjutnya kita akan kemana Nona Muda?" tanya Sophie setelah menyelesaikan sesi tertawanya.


"Kita ke basemen, Papah bilang rumah ini punya basemen di lantai bawah." jelas V antusias. İa sangat penasaran dengan bentuk basemen yang menjadi tempat tinggal para penjaga kediaman, mereka juga merupakan tentara yang menjaga wilayah Weiß.


Saat sampai di mulut basemen V disambut oleh para penjaga keamanan yang sedang berada di sana. Kedatangan V membuat mereka terkejut karena jarang sekali bahkan hampir tidak pernah melihat tuan rumah datang berkunjung ke lantai basemen.


Kapten Zac- seorang kepala keamanan rumah utama keluarga Éclair- menjelaskan letak dan fungsi ruangan kepada V seperti seorang pemandu wisata. V selalu bertanya dengan bersemangat, membuat kapten Zac merasa begitu senang menjelaskan panjang lebar kepada V.


"Kapan biasanya kalian berlatih paman Zac?" tanya V setelah mereka puas berkeliling.


"Beberapa jam sebelum terbit fajar, sekitar pukul tiga pagi." jelas Zac menarik kursi lipat yang berada tidak jauh di antara mereka agar V dapat beristirahat.


"Terima kasih Paman Zac." V duduk karena telah dipersilahkan oleh Zac. İa merasa sedikit sungkan bila menolak. "Paman Zac? Bisakah kau memperlihatkan kepadaku bagaimana kalian berlatih?" pinta V sedikit penasaran dengan pelatihan yang mereka jalani setiap harinya.

__ADS_1


"Tentu saja, jika Nona Muda berkenan datang ke halaman belakang. Nona Muda pasti akan melihat secara langsung pelatihan yang kami jalani." jelas Zac penuh isyarat dalam setiap kalimatnya.


V merasa tertantang akan undangan yang diberikan oleh Zac, ia menyetujuinya tanpa berpikir dua kali. V tak menyadari perubahan raut wajah Rozita dan Fernandez yang mengetahui maksud dari perkataan Zac. Mereka tentu sangat khawatir mengingat siapa itu Zac.


"Ah ya, Nona Muda, kau dilarang terlambat walau satu detikpun. Aku adalah orang yang sangat menghargai waktu akan ada konsekuensi yang harus diterima siapapun yang membuang waktuku dengan percuma." jelas Zac menekankan.


"Zac, apa yang kau lakukan? Kau sudah gila?" tukas Fernandez keberatan.


"Ah, aku hanya memenuhi rasa ingin tahu Nona Muda kita, tidak ada maksud apa-apa." jawab Kapten Zac santai tidak mempedulikan sikap kontra yang diberikan Fernandez.


"Tidak perlu cemas Kakek Fernandez. Aku mengerti dengan baik isi perjanjian yang telah aku buat dengan Paman Zac. Mulai besok Paman Zac akan menjadi guruku, itu suatu kehormatan bagiku karena Paman Zac mau melatihku." jelas V mencoba menenangkan Fernandez.


"Ah, kau ternyata secerdas Papahmu." interupsi Zac mengusap lembut rambut V. İa tahu Fernandez ingin membantah jadi ia cepat-cepat berkata sebelum V berubah pikiran.


•✌•✌•✌•


Waktu menunjukkan hampir dini hari pagi. V sudah berlari menuju halaman belakang rumahnya. Luas bangunan rumahnya memang selalu menjadi masalah baginya. Jika ia tidak cepat ia akan benar-benar terlambat ke tempat pelatihan.


Zac benar-benar kejam. İa bahkan tidak mentoleransi keterlambatan hari pertama V. Zac bahkan tidak mempedulikan nafas V yang masih menderu-deru, ia telah menyuruh V untuk skot jump dua puluh lima kali.


Hati V terus menggerutu tidak terima perlakuan tidak berperi kemanusiaan seperti itu mengingat ia tidak memiliki tenaga kuda yang dapat bekerja seperti mesin. V merasa otot-otot kakinya menegang, telapak kakinya terasa seperti membesar dan mengecil silih berganti. Penderitaannya tidak berhenti sampai disitu Zac menyuruhnya menyeret sebuah matras seorang diri. Padahal saat itu kaki dan tangannya sudah bergetar karena letih.


"Paman Zac? Kau mau membuatku kolaps malam ini? Hah! Jangan berharap aku akan mewujudkan impianmu!" batin V kesal.


Ia terus menyemangati dirinya bahwa tubuhnya lebih kuat dari anak seusianya. Rasa lelah telah menjadi teman karibnya, maka malam ini seharusnya hal itu telah menjadi hal yang lumrah. Ia tidak akan mengalah dengan rasa lelah atau rasa sakit di telapak kakinya. Ia mengatur nafasnya sebaik mungkin agar dirinya tetap tenang. Rasa cemas dapat melumpuhkan pertahanan tubuhnya, maka ia membuang seluruh rasa cemasnya.


Keesok harinya pada waktu yang sama, V kembali terlambat. Ada kemajuan hari ini ia hanya terlambat tiga detik. Zac yang merasa tidak puas karena tidak berhasil membuat V kolaps kemarin, kembali memberi hukuman yang semakin berat.


Hukuman-hukuman yang diberikan Zac sebetulnya untuk mengamati daya tahan yang dimiliki tubuh V. Sebelum memulai pelatihan Zac selalu menganalisa kekuatan prajuritnya, sehingga ia akan memberikan pelatihan lebih ekstra lagi agar para prajuritnya mampu melewati batasan pada diri mereka. Zac selalu berambisi memiliki pasukan tempur yang tahan banting.


Bagi lembar yang baru di mulai, tubuh memerlukan adaptasi, membiasakan diri pada rutinitas baru. V merasakan kesulitan pada kebiasaan barunya, ia belum pernah bangun sepagi itu harinya di mulai saat matahari sudah berada di atas kepala. Entah setan apa yang merasukinya hingga ia menerima undangan Zac.

__ADS_1


Esok harinya mimpi V terlalu panjang, membuatnya bangun lebih siang. Kebiasaan V yang selalu terlambat menjadikan Zac memiliki alasan yang pantas untuk terus menambah daya kekuatannya melalui hukuman. Mulai dari berlari dari halaman belakang menuju halaman depan, keesokannya ditambah dengan mengangkat sebuah beban di pundaknya, dan semakin hari semakin bertambah kesulitannya. Sampai V merasa Zac memiliki penyakit anaklisis sadisme, sebuah penyakit yang membuat Zac sangat bahagia melihatnya menderita dengan hukuman-hukuman yang tidak pernah ada habisnya dan anehnya hanya dirinya yang dengan tabah menerima hukuman tambahan.


Pelatihan fisik yang berat bagi anak seusianya tidak membuat V langsung terkapar di atas tanah. Sistem kerja tubuhnya sangat dapat diandalkan, karena mampu mengelola energi fisiknya dengan baik. Kaki-kakinya perlahan menjadi terbiasa, rasa letih yang sering menusuk-nusuk itu tidak mempengaruhi V sama sekali. Ia tidak lagi merasakan getaran-getaran di anggota tubuhnya akibat lelah. Mungkin ia telah mati rasa, pikirnya.


Menilik V mampu melalui pelatihan fisiknya, Zac mulai melatih kecepatan gaya refleks yang dimiliki oleh V. Ia menyuruh V memukul setiap bola tenis yang menukik kearahnya dengan kepalan tinju. Zac tidak segan-segan melempar bola itu dengan seluruh kekuatannya. Bola berdatangan bagaikan hujan peluru, V tidak bisa mengimbangi kecepatannya. Hal ini membuat mulut Zac tak henti-hentinya memaki.


Hari-hari berikutnya Zac masih tetap saja meletup-letup bagai pop corn. V mulai mengutuk dirinya yang bodoh hingga menjadi objek amarah Zac. Ia tidak bisa mengabaikan setiap makian Zac. Zac memakinya untuk tetap fokus, dan cara itu mampu membuat V mengimbanginya.


Pelatihan berikutnya V harus memukul bola dengan tendangannya. Hatinya memang senang karena masuk ke tahap selanjutnya, meski begitu ia tidak dapat memungkiri fakta bahwa menendang bola tenis dengan kaki tidak semudah memukulnya dengan tangan. Ingin rasanya V menendang bola-bola itu ke arah mulut Zac agar ia bungkam sebentar saja, atau untuk selamanya juga tidak buruk. Karena amarah itu, ia selalu berharap agar tendangannya mengenai wajah Zac dan itu tidak sia-sia.


Zac tidak pandang bulu dalam melatih para prajuritnnya. Ia melakukan pekerjaannya secara profesional. Fakta penting yang diabaikan oleh Zac, V bukanlah seorang laki-laki dewasa. Daya tahan tubuhnya lebih rentan dibandingkan dengan daya tahan tubuh para prajuritnya yang lain.


Para penjaga keamanan yang awalnya hanya menonton sambil berdecak kagum mulai mengernyitkan dahi mereka. Jika tidak melihat dengan mata kepala mereka sendiri mereka mungkin tidak akan percaya melihat kecepatan pelatihan V.


✌••••• BERSAMBUNG •••••✌


Catatan Penulis :



Menderu-deru \= Tiruan bunyi seperti angin ribut. Penggunaan kata ini dianggap sebagai majas perbandingan dari terengah-engah, bahasa kasarnya ngos-ngosan.


Basemen \= Ruang bawah tanah.


Kolaps \= Pingsan.


Menilik \= Memperhatikan dengan seksama.


Anaklisis Sadisme \= Dua penyakit psikologis yang menggabungkan istilah, Anaklisis; Keadaan emosi yang bergantung pada orang lain, dan Sadisme; Kepuasan menyakiti orang lain. (Versi penulis)


__ADS_1


__ADS_2