
Tiga tahun berlalu. Semakin cepat waktu berlari semakin jauh pula jarak yang tercipta antara V dan keluarga Éclair. Tindakan Aldrich yang seakan memberi jarak padanya, membuat V tak berani merubah keadaan.
V menghabiskan masa tiga tahunnya dengan terjun langsung ke dunia bawah tanah. Awalnya V melakukan itu demi menarik perhatian Aldrich, namun nyatanya usaha yang ia lakukan tidak berbuah manis. Tak ada tanggapan dari Aldrich sedikitpun. Miris memang.
V meluapkan seluruh rasa frustasinya dengan membantai siapapun yang berani mengganggu Dark Shadow. Bahkan terkadang ia yang lebih dulu memulai mencari masalah dengan kelompok lain.
Nama Dark Shadow memang tidak tersohor di khalayak ramai seperti sindikat mafia Red Dragon yang telah menginjakkan kakinya selama 60 tahun atau pun mafia Black World yang telah menguasai pasar dunia gelap selama 10 tahun belakangan ini, selama 80 tahun masa eksistensinya di dunia bawah tanah.
Meski namanya tidak terlalu terkenal namun kekuatannya tidak bisa dipandang sebelah mata. Dark Shadow tidak gentar sedikitpun melawan kekuatan yang lebih besar darinya. Tentu saja kehadiran Dark Shadow menjadi ancaman banyak kalangan di dunia bawah. Sudah menjadi hal yang lumrah bila para mafia saling menyerang satu sama lain, sebab mereka menerapkan hukum rimba.
Moros bersama pasukan elitnya menaklukkan sindikat mafia yang berani menantang dan melawan Dark Shadow. Jika mereka tidak mau tunduk pada Dark Shadow, ia tidak segan-segan untuk memusnahkan mereka dari dunia bawah tanah.
Kabar tentang Moros yang diduga sebagai pemimpin Dark Shadow terdengar hampir di seluruh telinga para mafia. Ditambah fakta bahwa Master Dark Shadow tidak pernah diketahui wujudnya oleh dunia luar memperkuat dugaan mereka bahwa Moroslah yang berada di belakang Dark Shadow selama ini.
Kabar ini tidak seluruhnya disambut baik oleh para mafia, mereka yang menyimpan dendam kesumat pada Dark Shadow menargetkan Moros sebagai sasaran empuk untuk menaklukkan Dark Shadow. Sudah bukan kabar angin lagi tentang seberapa besarnya peluang bisnis Dark Shadow di masa depan, sehingga menarik keserakahan dari berbagai kalangan.
Mereka yang tergiur dengan kekayaan Dark Shadow mulai melancarkan serangan demi serangan, dari yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi hingga secara terang-terangan. Pada saat inilah Dark Shadow mulai menunjukkan taringnya, meredam seluruh serangan dari berbagai arah tak peduli seberapa besar serangan yang datang, Dark Shadow mampu mengatasinya.
Kehebatan militer yang dimiliki Dark Shadow hingga kini masih bersifat misteri, sebab tidak ada yang bisa menerka seberapa kuat pasukan militer yang mereka miliki. Semakin besar penyerangan yang diterima Dark Shadow semakin besar pula perlawanan yang mereka berikan.
Mereka yang pernah melihat secara langsung bagaimana Moros menghancurkan garda depan musuh akan bergidik ngeri sebab apa yang dilakukan Moros benar-benar tidak manusiawi. Mereka akan sepakat mengatakan bahwa Moros Ker Thanatos bukanlah malaikat pencabut nyawa melainkan iblis pencabut nyawa.
Aldrich bahkan tidak percaya dengan apa yang dilakukan oleh V jika bukan karena ia melihat secara langsung bagaimana V melahap targetnya satu persatu. V memburu mangsanya dengan senyap dan cepat. İa menjelma menjadi manusia yang haus darah.
__ADS_1
Aldrich ingin sekali menghentikan tindakan V namun ia menghargai keputusan yang diambil oleh putrinya, sehingga ia hanya diam menyaksikan apa yang dilakukan putrinya. İa selalu ingin menarik V untuk kembali pulang dan melupakan segalanya namun ia tak ingin keputusan egoisnya membuat jarak mereka semakin jauh.
Tidak hanya Aldrich yang merasakan kekhawatiran dengan perubahan V, Zac juga merasakan hal yang sama apalagi Zac salah satu orang yang berdiri di samping V di medan pertempuran. Meskipun di luar halaman rumah V berubah menjadi Moros Ker Thanatos yang kejam berdarah dingin, namun di dalam rumah ia masih menjadi V yang ramah dan penyayang terhadap siapapun. Zac tahu apa yang dilakukan V hanyalah sebagai cara ia melepaskan rasa tertekan yang ia alami saat ini dan pemikiran ini yang tak pernah ada di kepala Aldrich. Selama V tidak merubah karakter dirinya menjadi Moros Ker Thanatos sepenuhnya, tentu hal itu tidak perlu dikhawatirkan, begitu pikir mereka.
Zac punya caranya sendiri dalam bersikap menghadapi V. Ia mengerti dengan jelas apa yang tengah dirasakan oleh V. Bagi sebagian orang yang tidak pandai menghibur diri dari bekas-bekas luka yang tak kian membaik. Menjelmakan dirinya bak manusia batu tanpa afeksi hanyalah cara untuk menutupi jiwanya yang rapuh hampir binasa.
Zac pernah berada diposisi V saat ini. İa pernah merasakan bagaimana rasanya terabaikan, ia pernah merasakan bagaimana tertekannya saat tak ada yang mengerti apa yang ia butuhkan. Tindakannya yang menggebu-gebu justru malah membuat banyak fraksi yang mengincar nyawanya.
Melihat V saat ini bagaikan melihat sosok dirinya di masa lalu. Hal itulah yang membuat Zac lebih terbuka oleh V, ada dorongan di dalam hatinya yang membuat ia tak bisa membiarkan V menanggung bebannya seorang diri. Kepedulian yang tumbuh karena sebuah pengalaman.
Berkali-kali Zac meminta Aldrich untuk pergi menemui putrinya dan berkali-kali pula Aldrich menolak dengan alasan tidak masuk akal khasnya. Andaikan tidak mengingat statusnya mungkin Zac sudah melayangkan kepalan tangannya ke wajah Aldrich saking kesalnya ia dengan sikap bodoh Aldrich.
Aldrich merasa bersalah pada V karena tak bisa membawanya kembali di tengah-tengah keluarga Éclair, hal ini yang membuatnya tak berani menampakkan diri di depan V.
"Woah, tumben kau memilih menjadi agen pembantu? Ada apa?" tanya Sky penasaran yang diangguki oleh Zac sedangkan Yin terlihat tak begitu peduli.
"Dia salah satu agen baru yang lulus dengan skor tinggi, malam ini debutnya di kota Black Hole," kata V menjelaskan. İa melirik menggoda pada Yin yang kini juga menatap penuh tanya padanya. "Aku ingin lihat penampilan agen yang dielu-elukan kapten Yin," kata V yang membuat Yin tertawa mendengarnya. Memang akhir-akhir ini Yin sering membandingkan V dengan salah satu agen muda milik Dark Shadow.
Semenjak tinggal di Black İron, V memilih tinggal di rumah sederhana daripada harus tinggal di markas Dark Shadow. Di rumah itu ia ditemani oleh Zac, Evan dan dua kapten pasukan elitnya, Sky dan Yin. Hari ini Evan sedang melakukan uji coba terhadap barang penemuannya di lab jadi ia tak ikut sarapan pagi dengan mereka.
"Aku menyarankan agar kau khursus nyinyir dengan Zac atau berpura-pura menjadi tuli dan bisu bersamaku."
"Dia semenyebalkan itu?" tanya V yang hanya dijawab dengan seringai menyebalkan milik Yin.
__ADS_1
V tak menganggap serius perkataan Yin sebab baginya tak masalah siapa partnernya toh selama ini hidupnya dipenuhi oleh kegilaan dari Zac atau Sky dan ia belum menemukan orang yang lebih dari mereka berdua. Jadi seharusnya ia sudah kebal menghadapi berbagai macam peringai.
Tepat tengah malam, V memarkirkan mobil sedan berwarna hitam di salah satu gedung apartemen kota Black Hole. Semenjak briefing hingga detik ini V hanya diam membisu, ia harus akui bahwa partnernya yang satu ini terkenal menyebalkan karena sifatnya yang bossy dan tidak suka dikritik. V sedikit geram waktu melihat agen baru itu menolak mentah-mentah masukan Gerald.
Ya memang adakalanya harus teguh pada pendirian, tapi bukan berarti menolak semua masukan apalagi masukan tersebut datang dari ahlinya. Meskipun status Gerald hanya pemantau lapangan bukan berarti ia tumpul dalam masalah strategi, justru karena ia seorang pemantau lapangan ia lebih paham bagaimana kondisi medan yang sebenarnya. İa sudah banyak melihat kemungkinan-kemungkinan yang terjadi di lapangan tak sesuai dengan persiapan mereka. Harusnya berbekal dengan pengalamannya itu pendapat Gerald perlu diperhitungkan.
V menatap tanpa minat pada Rose yang sedang memaki Gerald dari earpiece di telinganya sebelum akhirnya keluar dari mobil menjalankan misinya. Selama Rose menjalankan misinya V hanya diam di dalam mobil sambil memantau aktifitas Ros melalui layar tv di dashbord. Dari layar 7 inch tersebut V bisa melihat Rose yang begitu meremehkan sistem pengamanan milik target mereka membuat V ingin menghajar wajah Rose walau hanya sekali.
"Ge, persiapkan jalur pelarian sebanyak mungkin termasuk antisipasi bila mereka menggunakan helikopter," kata V pada Gerald yang langsung disetujuinya tanpa bertanya apapun. Sepertinya Gerald juga yakin misi kali ini tidak akan berjalan lancar.
"Aku akan menjemputnya beritahu ia," kata V lagi kepada Gerald. Bisa saja V yang langsung berkomunikasi dengan Rose tanpa perantara Gerald, hanya saja V terlalu enggan walau hanya berkata satu huruf kepada Rose.
Benar saja prediksi V sebelumnya, Rose gagal membunuh target mereka malam ini. V tiba di lantai delapan belas bersamaan dengan Rose yang muncul dari jalur darurat. V ingin sekali menertawai kebodohan Rose yang memilih jalur mematikan daripada menggunakan lift VİP.
Rose tampak begitu kacau saat masuk ke dalam mobil. Wajahnya terlihat pucat, entah karena darah yang merembes keluar dari bajunya atau karena ia gagal menjalankan misinya.
V melaju mobilnya dengan kecepatan tinggi diikuti oleh sepuluh mobil sedan berwarna hitam di belakangnya. Sebisa mungkin V mengikis jumlah mobil yang mengejarnya sebelum masuk ke jalur bebas hambatan. İa mengikuti arahan dari Gerald, untuk saat ini ia hanya bisa mengandalkan Gerald dalam memilih jalur pelarian.
"Maaf," kata Rose tiba-tiba. Meski V tak bisa melihat raut wajah Rose tapi ia cukup yakin bahwa Rose sedang menyesali kebodohannya.
"Tenang saja, toleransiku cukup tinggi untuk orang-orang bodoh," balas V sambil menyeringai menyeramkan namun anehnya bagi Rose malam itu V terlihat begitu memukau sampai ia tak sadar bahwa dirinya terus memperhatikan V.
✌••••• BERSAMBUNG •••••✌
__ADS_1