
"Paman, darahmu mengotori senjataku." keluh V pada jasad tak berkepala karena pistolnya kini bersimbah darah. İa menggunakan pakaian musuhnya untuk mengelap senjatanya.
Seusai V melumpuhkan lawannya ternyata Rozita dan Sophie juga sudah berhasil melumpuhkan musuh yang tersisa.
"Anda tidak apa-apa Nona Muda? Bagian mana yang terluka?" tanya Rozita hampir memekik ia sangat terkejut melihat wajah V bersimbah darah. İa memeriksa tubuh V yang juga bersimbah darah mencari-cari luka di tubuh V.
"Aku baik-baik saja." jawab V dengan wajah datar khasnya ia memperhatikan sekeliling sampai akhirnya menemukan luka di tubuh Rozita, "İbu asuh kau terluka! Apakah kau masih sanggup bertahan?" teriak V terkejut melihat darah mengalir membasahi tubuh Rozita yang tidak terlindungi rompi anti peluru.
"Aku masih sanggup bertahan Nona. Apakah Nona benar-benar tidak terluka?" tanya Rozita yang masih memperhatikan tubuh V mencari-cari luka di tubuhnya namun ia tak berhasil menemukannya.
Ketika mereka saling bertanya keadaan mereka satu sama lain, Sophie berjalan tertatih-tatih ke arah mereka. Keadaanya lebih mengenaskan daripada Rozita, terdapat luka tembak di kaki kanannya juga luka sobek di lehernya yang kini tertutup kain.
"Ya Tuhan! Bibi Sophie?!" pekik V berlari ke arah Sophie memapahnya untuk berjalan. "Maafkan aku, harusnya aku lebih memperhatikan keadaan sekitar. Aku..."
"Tidak apa-apa Nona Muda, keselamatan anda dan Nyonya Besar adalah perioritas ku." tukas Sophie, ia tak ingin membebani V dengan rasa penyesalan.
Sophie sebenarnya lebih terkejut saat melihat V. İa melakukan hal yang sama seperti Rozita saat pertama kali melihatnya. Rasa paniknya mereda saat Rozita menjelaskan keadaan V yang sebenarnya.
Lynelle Éclair berjalan sambil menggendong L dibantu oleh Tiffany, tak terlihat keberadaan Yuli. Mereka bisa menebak apa yang terjadi pada Yuli tanpa perlu bertanya apa yang telah terjadi.
Lynelle begitu terkejut melihat tubuh V bersimbah darah dari wajah hingga pakaiannya. Lynelle bahkan mengabaikan rasa sakit yang sedang ia rasakan untuk melihat kondisi V lebih dekat. Hatinya begitu terluka melihat kondisi V yang baginya begitu parah.
"Beritahu Mamah bagian mana yang terasa sakit sayang?" tanya Lynelle sambil meneteskan air matanya, ia begitu tak sanggup melihat penampilan V saat ini.
"Aku baik-baik saja, Mah. Mamah tidak perlu khawatir." jawab V mencoba menghapus air mata Lynelle. İa lupa bahwa tangannya terkena cipratan darah dari musuh terakhirnya sehingga tangannya yang ia gunakan untuk menghapus air mata Mamahnya malah membuat wajah itu kotor dengan bekas darah. "Mamah maaf, tanganku kotor."
"Bagaimana bisa baik-baik saja jika penampilanmu seperti ini." bantah Lynelle yang sudah terisak oleh tangisnya.
V tak menyadari penampilannya saat ini penuh dengan bercak darah dari atas rambut hingga ke seluruh tubuhnya. İa tak menyangka jika tembakan yang meledakkan isi kepala musuhnya menyebabkan dirinya berpenampilan begitu mengerikan saat ini.
V tak membenarkan ataupun menyalahkan perkataan Lynelle karena tak ada waktu untuk berdebat, "Kita bawa Mamah dan L ke basecamp sekaligus mencari bala bantuan untuk Bibi Sophie dan İbu asuh Rozita. Kurasa itu tempat teraman untuk saat ini."
Rozita membantu Sophie untuk berjalan mereka menjaga di bagian belakang. Sedangkan Tiffany membantu Lynelle Éclair berjalan keluar kamar dengan senjata mengacung di tangan kirinya. V berjalan di depan dengan posisi siaga. Tangis L telah berhenti sejak tadi. Suara baku tembak sudah tidak lagi terdengar. Sepanjang jalan banyak mayat tergeletak bersimbah darah. Dinding-dinding terlihat retak, bahkan ada beberapa yang telah keropos akibat ledakan. Lampu kristal yang sempat tergantung di atas plafon kini pecah berserakan di lantai.
__ADS_1
V berjalan lebih dulu setiap mereka berjumpa dengan pertigaan, memeriksa apakah masih ada musuh yang tersisa atau tidak. Di koridor sebelah kiri V melihat sekumpulan laki-laki yang berjalan terhuyung-huyung ingin melarikan diri ke pintu Selatan. V membidik mereka sambil menembakkan peluru panas dari senapannya.
Mereka tak menduga akan mendapat serangan tiba-tiba tidak bisa menggunakan senjata mereka secara optimal. Baku tembak terjadi di antara mereka. Sebelumnya V berhasil mencabut nyawa dua orang di antara mereka, kini tersisa empat orang yang sedang berlari secara tak menentu sambil menembakkan peluru.
V kesulitan menebak arah lari mereka yang tak menentu namun gerakan mereka yang begitu lambat membuat mata V mudah mengikuti gerakan mereka.
Satu tembakan terarah ke jantung laki-laki yang sedang memapah temannya, membuat yang dipapah terjatuh ke lantai. Mereka yang melihat temannya di ujung tanduk memilih untuk menyelamatkan nyawa mereka sendiri.
V tersenyum sinis menertawakan diri mereka yang hanya memikirkan diri mereka sendiri. V terus menembak ke arah mereka mengejar mereka yang mencoba lari. Bagi V mereka tak pantas untuk keluar dari rumah ini hidup-hidup.
V mengganti senjatanya dengan laras pendek di tangan kanan dan kirinya. İa memburu mereka, satu persatu dari mereka terkena peluru V tepat di jantung mereka. Mereka merasa terancam dengan kehadiran V berkali-kali mereka mencoba melukai V namun tak ada satu peluru pun yang berhasil melukai V membuat mereka begitu frustasi.
Jiwa mereka begitu terguncang karena mereka harus lari dari seorang anak yang bahkan usianya tak ada setengah dari umur mereka. Melihat senyum lebar milik V yang berlari sambil menembakkan peluru dari tangan kanan dan kirinya membuat mereka merasa seperti sedang dipermainkan.
V menembak kedua kaki mereka lebih dulu agar tidak bisa lagi berlari. Kemudian menembakkan tangan mereka yang menggenggam senjata membuat senjata mereka melayang dari tangan mereka.
V menembak kepala mereka, ia tak menyangka daya hancur pelurunya begitu dahsyat hingga membuat kepala mereka menghilang dari tubuh mereka karena ledakan dari pelurunya.
Usai V menghabisi musuh terakhirnya ia bisa mendengar suara baku tembak dari arah sebaliknya membuat degup jantungnya tak menentu. Satu hal yang ada di dalam pikirannya, Mamah.
V menghitung jumlah mereka sambil membantu Rozita dan yang lainnya memberikan perlawanan. Dua regu musuh yang datang menyergap mereka. V menebak mereka ingin menggunakan Lynelle ataupun dirinya untuk dijadikan sandera agar mereka bisa keluar dari rumah ini hidup-hidup.
V begitu marah dengan apa yang mereka pikirkan, V yang saat itu terbakar amarah keluar dari tempat persembunyiannya sambil terus menembak ke arah musuh yang mengendap-endap muncul dari persembunyiannya hanya untuk memberi perlawanan sebelum akhirnya kembali menghilang.
Mereka yang menyaksikan V berdiri menembak dengan frontal sudah terbaring kaku dengan peluru menembus jidat mereka sebelum mereka bisa memberitahu kepada rekan mereka apa yang mereka saksikan.
Rozita yang melihat apa yang dilakukan V menepuk keningnya, sedangkan Sophie hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya tak mengerti lagi apakah Nonanya sudah nekat atau telah kehilangan akal sehatnya.
Tiffany yang melihat reaksi Rozita dan Sophie mengikuti arah mata mereka memandang, matanya bisa melihat Nona mereka yang sedang berjalan mendekat sambil mengacungkan pistol di tangan kanan dan kirinya.
Cara berjalan V begitu santai seakan pertarungan ini hanyalah sebuah latihan bagi mereka, padahal kapan saja nyawa mereka bisa hilang dalam satu kali tembakan.
Lynelle tidak menyadari apa yang terjadi ia masih sibuk menenangkan L yang masih terus menangis karena terganggu dengan suara berisik tembakan mereka. Jika Lynelle melihatnya ia sudah pasti memukul kepala V kencang-kencang agar ia kembali berpikir rasional.
__ADS_1
V menembak mati musuh terakhirnya ia sudah tak bisa menghitung berapa banyak musuh yang ia bunuh malam ini, ia bahkan mengabaikan rasa sakit pada pergelangan tangannya akibat beban dari senjata api yang ia gunakan. Yang ia pikirkan hanya bagaimana caranya untuk membunuh lebih banyak musuhnya malam ini.
"Nona kau tidak apa-apa?" tanya Sophie sambil menelan salivanyanya dalam-dalam. Baginya apa yang dilakukan V malam ini begitu mengagumkan sekaligus mengerikan, ia berpikir-pikir pelatihan neraka macam apa yang telah dilakukan Zac hingga menghasilkan anak didik seperti V.
"Tidak apa-apa, peluru mereka hanya mengenai rompiku." jawab V tanpa ekspresi sedikitpun. "Kita kembali berjalan, aku takut musuh sudah mendengar suara baku tembak sehingga memutuskan untuk ke sini akan sangat berbahaya bila mereka datang bersama bala bantuan." jelas V membantu Lynelle untuk berdiri dari duduknya.
"V, kau benar tidak terluka? Darah di tubuhmu kini lebih banyak dari sebelumnya."
Meskipun V mengatakan bahwa darah yang ada di tubuhnya hanyalah milik musuhnya namun Lynelle belum juga merasa tenang. Lynelle takut jika terdapat luka parah yang tidak disadari oleh V, saat baru mendapat penanganan semua itu justru sudah terlambat.
V kembali meyakinkan Lynelle bahwa dirinya tidak apa-apa, meyakinkan Lynelle lebih susah daripada meyakinkan Aldrich sehingga butuh waktu cukup lama untuk menenangkan Mamahnya itu.
Di sisi lain Aldrich berhasil memukul mundur pihak musuh. Kehadirannya yang ikut bertarung di garis terdepan memutar balikkan kondisi mereka yang awalnya hanya bertahan kini mulai menyerang memberikan perlawanan.
Pihak musuh tak pernah menyangka bahwa rencana mereka yang sudah disusun selama satu tahun akan gagal karena Aldrich mendapat bantuan tidak terduga dari pihak asing. Mereka yang merasa terdesak mencari celah untuk bisa keluar hidup-hidup namun sayangnya rencana mereka telah digagalkan oleh V.
✌••••• BERSAMBUNG •••••✌
Catatan Penulis:
Tukas \= Memotong pembicaraan lawan.
Bersimbah \= Berlumuran.
__ADS_1