Moros Ker Thanatos: V

Moros Ker Thanatos: V
<[ EPS. 8 - KEDEKATAN AYAH DAN ANAK ]>


__ADS_3

V masih terbaring di atas tempat tidurnya saat Aldrich Éclair masuk ke dalam kamarnya sambil membawa makan malam di atas meja baki lipat. Tatapannya kini lebih bersahabat daripada pagi tadi saat mengetahui latihan rahasia V bersama Zac.


Sebenarnya pelatihan mereka bukan rahasia umum, hanya saja V sudah meminta pada semua penghuni kediaman keluarga Éclair untuk merahasiakan hal ini dari Aldrich sebab ia tahu Aldrich akan menentangnya apalagi dirinya adalah seorang perempuan.


"Papah?" panggil V memecahkan keheningan di antara mereka.


"Bukankah kau tahu aku paling tidak suka kau menyembunyikan sesuatu dariku? Andaikan hal ini tidak pernah terjadi mau sampai kapan kau akan menyembunyikannya dariku?"


Aldrich sudah tak bisa lagi menahan kekesalannya, apalagi V tak meminta maaf ataupun menunjukkan rasa bersalah padanya itu membuatnya sedikit frustasi.


"Apakah Papah kecewa padaku?"


"Daripada kecewa saat ini mungkin aku digolongkan sedang marah." jelasnya menatap tajam pada V, tatapan mendominasi yang mampu menekan lawan bicaranya.


"Maafkan aku."


"Ah, kau tahu juga caranya meminta maaf ternyata tapi bukankah sekarang sudah terlambat untuk meminta maaf? Kau bahkan tidak menunjukkan sedikitpun rasa penyesalanmu, benar?"


"Papah benar."


"Hatimu terlalu percaya diri rupanya. Meskipun pada akhirnya aku akan memaafkanmu tapi bukan berarti aku akan lupa dengan apa yang kau lakukan padaku." jelas Aldrich, ada penekanan pada setiap suku katanya.


Aldrich menjelaskan pada V bahwa kepercayaan diri sering kali membawa malapetaka untuk seseorang. Aldrich merasa karena kepercayaan dirinya itu membuat V bersikap meremehkan orang lain dan ia tak suka dengan sikap seperti itu.


Bagi Aldrich sikap meremehkan orang lain adalah salah satu celah bagi musuh untuk menjatuhkan lawannya. Sikap ini juga yang membuat manusia tidak bisa bertindak secara optimal.


Malam itu Aldrich memberi nasihat-nasihat yang wajib V lakukan tanpa terikat oleh ruang dan waktu. Aldrich tak ingin V tumbuh menjadi anak bodoh yang congkak dan tidak berguna. Sikap itu yang justru mengundang kehancuran untuk cepat singgah memporak porandakan hidupnya.


Aldrich juga memberitahu V bahwa mulai besok ia akan bersekolah di rumah, sehingga guru yang akan mengajarnya tidak hanya Viscount Darent. Aldrich menyuruh V untuk membagi waktunya antara belajar bela diri dan sekolahnya, ia juga harus memikirkan kondisi tubuhnya.


Beberapa bulan telah terlewati. V menggoreskan kisahnya dengan belajar, belajar, dan belajar. Ia tidak seperti anak-anak pada umumnya yang belajar di sekolah formal. Aldrich Éclair menggunakan metode pendidikan sekolah mandiri untuk mengembangkan kemampuan, minat, dan bakat yang dimiliki oleh V.


Menurutnya dengan begitu V akan mendapatkan perhatian secara intensif dari guru-gurunya. Alasan khususnya, sekolah mandiri atau sekolah rumah menjadi pilihan yang tepat untuk menjauhkan V dari dampak perseteruan memanasnya dengan para pesaing bisnis legal ataupun ilegal yang ingin menjatuhkannya.


Keberadaan dunia bawah tanah seringkali menjadi perisai bagi para usahawan, atau malah menjadi bom yang mampu memporak porandakan usaha mereka. Setiap bulan atau tahunnya selalu ada uang iuran yang harus mereka bayarkan.


Berbagai macam alasan disertai ancaman sering mereka keluarkan untuk menindas para usahawan. Kebanyakan para usahawan memilih jalan damai dengan memberikan jatah perbulanan atau pertahunan dengan sukarela.


Bagi mereka yang ingin usahanya berkembang dengan pesat secara cepat, biasanya mereka memanfaatkan jasa mafia untuk intrik kotor dalam menjatuhkan lawannya.

__ADS_1


Aldrich Éclair dikenal sebagai satu-satunya pengusaha di negeri Z yang tidak mau tunduk pada sindikat mafia yang berkuasa di negaranya. Segala macam intimidasi mereka lakukan untuk menekan usaha Aldrich Éclair, tapi tidak ada yang membuahkan hasil. Justru cara mereka membuat Aldrich Éclair menjadi sorotan publik, mendapatkan hati masyarakat khalayak ramai.


Hingga pada akhir tahun 2019. Ketika ia sedang berlibur bersama isteri dan anak perempuannya di villa pribadi mereka yang berada di kota Mars. Sekelompok pasukan mafia datang menggertak dengan senjata. Seluruh pengawal yang menjaga keamanan tumbang dalam kurun waktu setengah jam. Malam itu adalah sebuah malapetaka bagi keluarga Éclair.


Lynelle Éclair memeluk tubuh V dengan eratnya di balik sebuah meja yang sengaja dibuat jatuh ke lantai, ia menutup telinga putrinya agar tidak mendengar suara apapun. Aldrich Éclair berdiri tidak jauh darinya, kedua tangannya memegang sebuah pistol. Baku tembak terjadi. Satu peluru berhasil mengenai lengannya. Aldrich Éclair berada dalam keadaan mendesak. Ditambah musuh terus menghujani mereka dengan peluru-peluru yang berhasil membuat coakkan di meja itu.


Aldrich Éclair menarik tangan Lynelle Éclair untuk pindah tempat persembunyian. Mereka berlari dengan cepat ke sebuah pilar yang masih kokoh tanpa bekas tembakan. Namun ketika mereka berlari, tubuh V terlepas dari genggaman Lynelle Éclair. Aldrich Éclair berhasil menarik tubuh V dalam pelukannya. Namun sayang, sebuah peluru telah menghentikan aktifitas jantung V.


Jelang beberapa menit kemudian, pasukan mafia tersebut menghentikan serangan mereka sebab misi mereka hanya mengkoyak-koyakkan rumah keluarga Éclair. Mereka tidak tahu bahwa peluru mereka berhasil menewaskan anak semata wayang keluarga Éclair.


Aldrich Éclair terisak oleh tangisnya, mengutuk dirinya karena tidak mampu melindungi keluarganya. Lynelle Éclair menangis tanpa suara. Hatinya tidak menerima kepergian putrinya, jiwanya terguncang, mentalnya begitu tertekan, dan otaknya tidak lagi berada pada kata stabil.


•✌•✌•✌•


Agar dapat menjaga staminanya V memutuskan untuk langsung beristirahat seusainya pelajaran terakhir. V membagi waktunya secermat mungkin, pagi hari hingga siang untuk sekolah, waktu petangnya ia gunakan untuk mengerjakan tugas atau sekedar mengulang kembali materi yang ia pelajari bersama Viscount Darent. Makan malam menjadi aktifitas terakhirnya, ia memilih bersegera tidur hingga dini hari datang, menjadi awal aktifitasnya dimulai.


Suara tembakan terdengar sangat keras, memekakkan telinga. V menatap kagum setiap mimis yang dengan sempurna mendarat di tengah papan bidik. Kekaguman itu tidak pernah bertahan dari sepuluh detik, karena rentetan cemoohan membuat rasa kagum itu menguap.


"Sekali lagi!"' teriak Zac di kuping V. Tentu saja hal itu disengaja, Zac memang sangat hobi memicu emosi lawan.


"Atur nafas dengan benar, lakukan dengan dinamis. Gunakan mata andalanmu dalam membidik. Perhatikan letak target dengan benar, ingat bagian paling atas pembidik depan harus sejajar secara horizontal dengan ..." ujar Zac memberi petunjuk. Belum selesai Zac berkata, V telah menekan pelatuk untuk menggerakkan picu. Tubuhnya terdorong ke belakang. Peluru meleset dari sasaran.


Zac memang bukan orang yang suka duduk diam sambil menyeruput kopi panas saat melatih. Ia lebih suka berkeliling melihat dari jarak dekat apa yang dilakukan muridnya. Eksistensi Zac yang berada terlalu dekat sambil menembakkan virus nyinyir merupakan ujian terbesar tatkala ingin berkonsentrasi dalam membidik.


V kembali berkonsentrasi penuh mengabaikan ingar bingar mulut Zac yang tidak kunjung padam. Tiba-tiba sebuah tangan besar memperbaiki posisi jari jemari V, menjalar memperbaiki gestur tubuh V yang tampak kaku. "Bidik target sekali lagi." bisiknya "Tarik pelatuknya sekarang." bisiknya sekali lagi di telinga V.


Peluru keluar dari moncong pistol dengan kecepatan 580 cm per-detik. Peluru berhasil menembus titik bidik dengan sempurna. Aldrich Éclair tersenyum ramah mengusap lembut rambut V.


Aldrich menatap beringas pada Zac, kupingnya belum tuli sehingga ia mendengar semua kata makian yang keluar dari mulut Zac sedangkan Zac bersikap layaknya orang yang tak bersalah. "Si rubah bedebah! Kau bisa mengajar atau tidak?" makinya.


"Master kau cerewet sekali." gerutu Zac tak peduli.


"Si bedebah sialan! Kau dan seluruh keluargamu lebih cerewet daripadaku, kemari kau biar ku hajar wajahmu hingga ibumu sendiri tak akan mengenalimu lagi."


"Ck! Orang bodoh mana yang mau dipukuli dengan suka rela. Kau saja dengan seluruh keluargamu yang metal-metal."


Zac memang selalu pintar memancing emosi lawannya sebelum kembali menyambut ejekan Zac, Aldrich menatap lembut ke arah V, "Lakukan sekali lagi dengan cara yang sama." pinta Aldrich Éclair yang dijawab dengan anggukan mantap oleh V.


Aldrich dan Zac kembali terlibat cekcok mulut, saling melempar kata-kata pedas satu sama lain. Sedangkan V membiarkan tingkah mereka sebab V tahu adu mulut di antara mereka adalah cara unik mereka menunjukkan kedekatan di antara mereka.

__ADS_1


Peluru kembali menukik ke arah titik bidik center hold dengan sempurna. Aldrich Éclair yang melihat ke papan bidik menepuk kedua tangannya sebagai tanda apresiasi. V melompat memeluk tubuh Aldrich Éclair karena senang tembakannya mengenai sasaran.


"Terima kasih Papah." V mencium pipi Aldrich Éclair. Ia mendapatkan kembali sebuah ciuman di pipi dan keningnya.


"Matahari sudah mulai menyingsing, kau bersiaplah untuk pelajaran pertamamu."


"Baiklah. Papah hati-hati di jalan. Jaga kesehatanmu. Ingat jangan terlambat untuk makan siang!"


Aldrich Éclair mendengar nada perintah dari mulut V dengan raut wajahnya yang penuh kekhawatiran membuat Aldrich Éclair tampak semringah. Hubungan anak dan ayah itu memang semakin dekat akhir-akhir ini mereka juga sudah saling menunjukkan kepedulian mereka secara terang-terangan.


Suara tembakan masih saling sahut menyahut di halaman belakang rumah. Rangkaian latihan menembak masih berlangsung oleh beberapa orang yang masih mencoba memecahkan rekor pada diri mereka masing-masing.


Teriakan histeris seorang wanita terdengar samar-samar. Semakin lama suaranya semakin mendekat ke arah V. Detak jantungnya bergerak semakin cepat, ketakutan dan kekhawatiran menyergap tubuhnya bagaikan tawanan budak. Sesosok wanita dengan dress berwarna putih dan biru berlari ke arah V. Sekumpulan pelayan dan pengawal mengejar di belakangnya. "Astaga! Apa yang terjadi!" batin V.


✌••••• BERSAMBUNG •••••✌


Catatan Penulis:



Congkak \= Sombong.


Pendidikan Mandiri atau Sekolah Rumah \= Biasa dikenal dengan istilah Home schooling.


Mimis \= Peluru.


Picu \= Bagian atas pelatuk yang digerakkan dengan telunjuk waktu menembak.


Coakkan \= Terbuka atau terkupas, bisa diartikan bolong.


Koyak-koyak \= Robek-robek, digunakan sebagai majas perbandingan untuk menunjukkan diacak-acak


Eksistensi \= Keberadaan.


Semringah \= Berseri-seri.


Center Hold \= Bagian titik untuk membidik.


Lynelle Éclair \= Lynelle; Cantik, Éclair; Petir. Petir yang cantik.

__ADS_1



__ADS_2