Move On Jalur Langit

Move On Jalur Langit
14.


__ADS_3

..."Hati tidak pernah memilih siapa yg akan bertamu dan tetap tinggal, entah menjadi pengobat atau penyakit. Hanya memberi dengan tulus tanpa pamrih, tidak mengharap tetapi berani berkorban"...


...@kak_py...



Mereka sholat dengan khusyuk, kemudia setelahnya mereka mengaji sebentar baru kembali tertidur karena libur tidak kuliah dan tiga gadis itupun masih mengantuk. Begitulah mereka yang harus nya sibuk di dapur, namun mereka malah kembali tertidur seperti bocah. Jika mereka lapar barulah mereka terbangun.



Paginya Haura bangun duluan dibanding Dua sahabat nya. Karena, hari ini dia ada janji untuk pergi bersama Ricky. Haura sudah bersiap-siap, ia memakai Tunik Armi selutut dan celana kulot pas bodi dengan warna senada dan jilbab segi empat motif. Dengan memakai make up senatural mungkin yang menambah kesan kecantikannya. Bagaimana tidak banyak cowok yang menyukai nya, dengan penampilan sederhana saja sudah cukup membuat orang-orang sulit berkedip. Kalau sudah cantik dari orok mau di apain pun yah tetap aja cantik, apalagi di tambah sifat nya yang baik.



Haura sudah menunggu di teras kosan dengan Sling bag hitam ia selempangkan di pundak nya. Terlihat tomboy tapi tetap anggun dan manis. Meski sederhana, tapi itulah yang memikat hati banyak lelaki. Haura menunggu sambil bermain hp berselancar di sosmed, membalas beberapa chat masuk dari teman-teman nya. Dan menyempatkan memeriksa kalender melihat jadwal untuk ia pulang kampung.



"Assalamu'alaikum, hay" sapa seseorang yang baru menghentikan motor nya, kemudian turun dan menghampiri Haura



"Waalaikumsalam, eh iya" sapa Haura ramah



"udah lama yah nunggu nya?" tanya orang itu yang tak lain adalah Ricky



"heum lumayan sih" jawab Haura singkat



"maaf yah, tadi motornya di pinjem temen dulu" ucap Ricky meminta maaf menjelaskan keterlambatan nya



"iya gapapa" balas Haura

__ADS_1



"yaudah yuk, tar kamu kepanasan, matahari nya cerah banget hari ini, takut cantik nya hilang" ajak Ricky sambil bercanda



"he he he iya yok, meski gada kaitan nya sih" timpal Haura tertawa karena candaan Ricky



Ricky pun melajukan motornya dengan membonceng Haura di belakang, mereka terlihat seperti sepasang kekasih yang sangat serasi. Ricky yg terlihat tampan dan keren, sedangkan Haura cantik dan imut. Siapa pun yang melihat mereka pasti merasa iri karena terlihat begitu sempurna untuk dipersatukan.



"Ra kamu cantik" ucap Ricky tiba-tiba mengawali obrolan yang tetap fokus kejalanan



"emm Alhamdulillah makasih" jawab singkat Haura




"aku bilang keberatanpun gada alasan nya, lagian semalam aku udah iyain aja kan kamu" jawab Haura



"kamu perempuan pertama yg aku bawa ke sana soal yah" sambung Ricky lagi



"ohh" Haura hanya ber oh saja, karena bingung harus jawab apa



Setelah beberapa obrolan keadaan di atas motor itupun kembali hening. Karena baik Haura maupun Ricky bingung mau nyari topik apa lagi. Haura si cuek dan Ricky yang sok cool dan gengsi. Biasanya dia dengan perempuan lain sangat mudah untuk berbincang bahkan merayu dan beberapa gombalan receh nya, tapi seperti nya kebiasaan itu tidak sama sekali tertarik bagi Haura. Meski akhir-akhir ini hubungan antara mereka ada perkembangan dan Haura sudah mulai banyak bicara pada nya. Dan sekarang mau dia ajak jalan pula, jadi Ricky pun berpikir pasti bisa meluluh kan hati Haura yang keras dan dingin.


__ADS_1


Keduanya pun sampai di tujuan, yaitu pesantren adek perempuan nya Ricky. Mereka pun turun dari motor dan memasuki area tunggu untuk tamu. Karena tidak bisa sembarangan orang memasuki pesantren, meskipun itu keluarga. Jadi siapa saja yang datang untuk bertamu harus menunggu di area tunggu dan penjaga yang akan memanggilkan santri yang bersangkutan untuk menghampiri.



Dari kejauhan terlihat beberapa santri putri yang berjalan ke arah mereka. Dan salah satu dari mereka terlihat pucat dan dipapah oleh kedua orang di sampingnya. Haura tebak itu mungkin adik Ricky yang katanya lagi kurang sehat. Dan santri lainnya itu pasti teman-teman dari adiknya yang ikut membantu dan menemani.



Akhirnya mereka sudah berkumpul di ruang tunggu itu, Haura hanya memperhatikan interaksi diantara mereka tanpa menimpali obrolan itu. Karena, merasa tidak berhak ikut campur privasi orang lain dan pun dia bukan siapa-siapa Ricky. Haura sebenarnya agak segan dan canggung berada disitu. Karena ia merasa orang-orang seperti memperhatikannya. Entah hanya perasaan nya saja atau karena merasa tidak nyaman di lingkungan yang tidak pernah ia datangi.



Haura duduk agak menjauh dari Ricky dan adiknya. Mereka pun terlihat terlibat obrolan yang serius dan sesekali melirik Haura. Adik Ricky memperhatikan Haura dengan intens, mungkin karena baru pertama kali melihat Haura, jadi merasa asing. Sama halnya dengan Haura yg merasa asing dengan tempat dan orang-orang di situ. Tapi Ricky terlihat sangat akrab, mungkin karena dia sering ke ketempat itu jadi sudah kenal dengan orang-orang nya.



Entah apa yg Ricky, adiknya dan santri lainnya obrolin, tapi kemudian terlihat ada beberapa orang dewasa yang menghampiri, Haura tebak itu ustazah dan orang yg bertanggung jawab atas santri. Dan setelahnya Ricky memanggil Haura untuk mendekat. Tanpa menunggu lama Haura pun nimbrung disitu. Dan bisa Haura lihat dan dengar dengan jelas apa yang mereka bincangkan.



"semalam Nabilla deman tinggi, dan dirawat oleh teman sekamar dan ibu pesantren. Dari pihak Penggung jawab santri pesantren pun sudah membawa Nabilla ke klinik pesantren dan sudah diberi obat. Dan keadaannya sekarang udah mendingan" ucap ibu ustadzah yang bertanggung jawab



"iya saya sebagai wali dari Nabilla mengucapkan banyak terimakasih untuk semuanya. Tapi apakah Nabilla di beri izin untuk di rawat di rumah, karena saya takut demamnya akan kembali tinggi dan justru akan mengganggu kegiatan pembelajarannya nanti" timpal Ricky memberi saran



"Jika memang itu yang terbaik, kami tidak masalah, hanya saja jika nanti keadaan Nabilla sudah membaik, harap segera kembali. Karena takutnya akan ketinggal banyak pelajaran dan materi sekolah serta pesantren" jawab ibu itu lagi



"Baiklah kami akan membawa Nabilla, terima kasih" ucap Ricky lagi



"tentu sama-sama, itu sudah menjadi tugas dan tanggung jawab kami" balas ibu itu lagi


__ADS_1


Kemudian ibu pesantren itu menyuruh santri yang sekamar dengan Nabilla untuk menyiapkan beberapa pakaian dan keperluan untuk Nabilla, karena orang luar tidak di perbolehkan memasuki area dalam pesantren. Setelah tas milik Nabilla di serahkan, Haura, Ricky dan adiknya pun pergi meninggalkan pesantren dengan Haura yang menolong memapah Nabilla yang masih lemas.


__ADS_2