
..." sepi sering datang menyusup kalbu, berteman kan rindu tanpa pengobat yang ampuh untuk beranjak agar tak jauh"...
...@kak_py...
~ ~ ~
"ohh gtu, yaudah yok jalan" timpal Haura dan langsung naik ke motor laki-laki itu
"ok yaudah jangan pegang yah" ucapnya lagi memberi arahan
"ihhh bg Dika ini lah, awas aja dia, mending aku bawa motor sendiri dari pada di bonceng sama cowo ini" dumel Haura sangat kesal yang pastinya tidak di dengar oleh orang di depan nya yang sedang fokus pada jalanan
Haura merasa hidup nya hari ini sangat lah apes, udah tadi pagi di prank dosen dan sekarang di prank Dika, lengkap sekali rasanya nya kekesalan nya untuk hari ini.
"ini kita mau nongkrong di mana sih,bg Dika GK bilang soal nya" tanya Haura tiba-tiba, karena jalannya mengarah ke kota, dia pikir duduk-duduk di sekitaran kampus
"ke ujung karang, yang lain udah pada nunggu di sana" jawab orang itu sedikit berteriak karena diatas motor takut Haura tidak mendengar
"ohhh gtu toh, yah yah" ucap Haura mengerti
Perjalanan yang mereka tempuh sebenar nya tidak seberapa jauh, hanya saja karena orang itu membawa motornya pelan jadi memakan waktu lama. Sebenarnya lelaki itu sengaja ingin berlama-lama. Dia mulai tertarik dengan Haura, karena biasa nya jarang ada cewek yang menolah pesona nya yg tampan, tapi Haura terlihat biasa saja. Padahal perempuan lain pada caper supaya bisa dekat dengan dia. Namun Haura tidak memperlihatkan ketertarikan sama sekali, bahkan cenderung cuek
"ehh kamu namanya siapa, kita belum sempat kenalan sebelum nya kan" tanya lelaki itu pada Haura memecah keheningan
"hah apa?" tanya Haura balik, yang tidak mendengar apa yang orang itu ucap, Karena dia sedang sibuk dengan pemikirannya sendiri
__ADS_1
"kamu namanya siapa?" tanya laki-laki itu mengulangi perkataannya
"ohhh, nama aku Haura, panggil Ura aja" jawab Haura santai
"kata bg Dika kamu sepupu nya yah" tanya orang itu lagi
"iya sepupu" jawab Haura singkat
"aku sepupu bg Dika juga tau dari ibu aku sama mamak nya bg dika" ucap orang itu memberi pernyataan
"ohya, tapi kok aku gak tau yah, tapi muka kamu gak asing sih, kaya pernah lihat" timpal Haura mengingat-ingat
"sama aku pun merasa kita pernah ketemu, tapi gak ingat juga dimana" balas orang itu mengiyakan
"engga, aku udah kerja" jawab lelaki itu
"oh gitu, kerja apa?" tanya Haura lagi
"kerja dinas perhubungan di Nagan Raya" jawabnya lagi
"Dari tadi nanya tentang aku mulu, kamu gak berniat memperkenalkan diri gitu?" tanya Haura dengan sindiran
"heee iya yah lupa , nama aku Ricky Prayoga, terserah mau panggil apa, sayang juga boleh" jawab orang itu dengan gombalan candaan
"ohhh gtu, kamu asli Aceh apa gimna?" tanya Haura lagi, karna gak tau mau cari topik apa lagi
__ADS_1
"asli Aceh, ibu sama bapak ku orang Aceh dan akupun lahir di Aceh" jawab orang itu lagi
"oww kirain campuran gitu, soalnya gak mirip Aceh, cuma logatnya kelihatan sih" timpal Haura yg ber o riya, karena tebakannya salah
"engga bukan" jawab singkat lelaki itu
"heum" yang di jawab Haura cuma deheman
Haura dan orang itu bercerita banyak, saling bertanya satu sama lain, itulah sesi perkenalan singkat mereka yang memperlama perjalanan yang harusnya cuma beberapa menit. Setelah sampai ditempat yang dituju, dan bertemu dengan beberapa orang yang tak lain adalah Dika, Satya dan dua orang teman Satya yang juga ikut menjaga di Rs kemaren.
Mereka pun berbincang-bincang dan menunggu pesanan yang tadi sudah di pesankan oleh Dika. Saling bertukar cerita, motivasi, inspirasi dan candaan yang di iringi tawa sebagai pelengkap obrolan mereka sore itu. Dan tidak lupa Haura mengeluarkan seluruh kekesalan nya pada Dika yang sudah tidak tepat janji dan malah menyuruh orang lain menjemput nya, tanpa bertanya atau mengabari nya terlebih dahulu
Haura merasa risih dengan seseorang yg tadi menjemput nya menggantikan Dika, karena dari dimulainya obrolan orang itu terus memperhatikan nya, yang menurut Haura itu aneh, dan dia tidak suka ditatap seintens itu oleh orang yang tidak dekat dengan nya.
"kenapa tuh sodara abg, kok dia mngeliatin Ura terus sih" bisik Haura bertanya pada Dika yang tentunya hanya di dengar oleh mereka berdua saja, dengan menyenggol tangannya yang memang dari pertama sampai Haura langsung mengambil tempat duduk di samping Dika
"tanya aja, abang juga gak tau, mungkin Lagi fokus dengerin ceritanya" jawab Dika yang sebenarnya juga merasakan hal itu, tapi berusaha cuek agar tidak kelihatan
Dika jadi kepikiran perkataan Haura tadi tentang adik sepupunya yang memang gelagatnya aneh, dan itu di tunjukkan hanya kepada Haura, ia sepupunya itu kadang senyum sendiri dan matanya tidak terlepas dari Haura, segala gerak gerik Haura dia perhatikan. Dan Dika tau arti dari tatapan itu, Dika tidak suka dengan pandangan itu, ia jadi takut dan semakin khawatir jika sepupunya menyukai Haura si gadis manjanya. Dika merasa tidak rela, tapi juga tidak mungkin menegur sepupunya agar menjauhi Haura dan jangan menyukainya. Dia di buat galau dengan perasaannya sendiri.
Hampir masuk waktu magrib Haura sampe di kosan dengan di anter oleh Dika, karna malas di antar oleh sepupu Dika yang menurutnya aneh. Gombalan lelaki itu sewaktu di perjalanan saja udah cukup membuat nya ilfill, ditambah lagi tatapan yang tidak nyaman bagi Haura itu.
Haura tidak suka dengan laki-laki yang terlalu agresif dan menggoda perempuan sembarangan, meski sebenarnya lelaki yang bernama Ricky itu kelakuannya masih dibatas wajar, mengagumi seorang perempuan yang menurutnya unik dan beda dari yang lain. Haura Menurut Ricky adalah perempuan yang menarik, selain cantik, Haura juga cuek yang membuat jiwa laki nya merasa tertantang dan penasaran.
Haura pun pamit masuk dalam kos, karna udah mau magrib, dan lagi-lagi iya menjadi tontonan orang-orang sore ini, karna boncengan bersama seorang lelaki tampan. Yah Dika termasuk dalam kategori laki-laki idaman para kaum hawa, putih, tinggi 170 cm, hidung mancung, rapi, bersih dan wajah manis dengan mata cipit bak artis Korea. Ada yang iri dan ada yang cemburu melihat Haura Gonta ganti cowo mulu. Padahal mereka kan tidak tahu kejadian sebenarnya dan siapa orang-orang yang selalu bersama Haura. Begitulah manusia selalu melihat dari sudut pandang yang berbeda dan langsung menilai tanpa tahu kebenaran.
__ADS_1