Move On Jalur Langit

Move On Jalur Langit
06.


__ADS_3

..."Waktu terkadang terlihat jahat membuat pertemuan hampir usai berganti jarak oleh perpisahan. Tetapi juga cukup baik memberi kesempatan saling melepas rindu yg hampir memabukkan"...


...@kak_py...



"ihh males banget deh di ikuti gini, bg Dika juga gapain nyuruh tuh orang nganterin, padahalkan aku bisa sendiri" racau Haura yang ngedumel sendiri di balik helm dan melirik malas laki-laki yg tetap mengendarai motor Vixion warna merah putih itu dari spionnya



Hanya menempuh beberapa menit mereka pun sampai di kos Haura. Banyak pasang mata yang tertuju pada mereka berdua, karena setiap sorenya di kompleks kos-kosan Haura banyak anak kosan lainnya yang nongrong, entah itu bermain gitar sambil bernyanyi, kerja kelompok ngegibah dan lainnya. Haura termasuk mahasiswi yang populer dan banyak dikenal, karena kecantikannya. Apalagi kaum Adam yang berlomba-lomba bisa mendekatinya



Dan sore ini, tiba-tiba Haura pulang dengan seorang laki-laki dengan kulit putih, tinggi, badan proporsional seperti abdi negara ditambah hidung mancung yg menambah ketampananya. Sekilas lelaki itu seperti bule Arab karena ada jambang tipis dan rapi yang memenuhi sebagian wajahnya



Bagaimana mereka tidak menjadi bahan tontonan, perempuan cantik dan lelaki tampan datang bersamaan, sebagian yang melihat mengatakan mereka cocok dan sebagiannya lagi melihat dengan kesal tidak suka. Banyak yang berbisik-bisik mengira mereka ada hubungan yg membuat beberapa orang nya senang dan ada juga yang tidak karena hilang harapan bersama Haura.



"makasih yah udah dianterin, padahal gak perlu sampe kos, tadi disimpang aja biar gak muter balik lagi" ucap Haura berterima kasih pada orang itu dan tidak perduli dengan semua mata yang tertuju pada mereka meski sedikit kesal dengan orang yg di hadapannya ini, yang menyebabkannya akan menjadi bahan gibah sore ini



"iya sama-sama, santai aja, sekalian mau ketempat kawan juga yang tinggal di pesantren sekitar sini" Jawab lelaki itu yang sebenarnya dia sengaja, karena ingin tahu di mana Haura tinggal



Memang sih tidak jauh dari kosan Haura ada pesantren khusus cowok, dan banyak mahasiswa yang tinggal disitu karena biaya tempat tinggalnya murah dan sekalian bisa belajar ngaji dengan santri lainnya. Tapi tujuan lelaki tadi bukan melihat temannya, itu hanya sebagai alasan agar niatnya tidak di ketahui Haura. Sedangkan Haura sendiri tidak merasa curiga, karena ia tidak perduli mau kemanapun laki-laki itu pergi, ia merasa itu bukan urusannya.



"Okedeh saya pamit dulu yah" pamit orang itu tersenyum ramah dan di angguki Haura dengan membalas senyumannya kemudian lelaki itu melajukan motornya pergi dari depan kosan Haura



"cieeee yg gak jomblo lagi"


"yuhu pacar baru nie"


"yg dianter ayank"


"ehem ehem ganteng yah neng doinya" begitulah sorakan teman-teman Haura yang kosnya bersebelahan dengan Haura



"ihhh apaan sih, bukan pacar yah, cuma sodara" saut Haura pada teman-teman nya yang terus meledekinya itu dan berlalu memasuki kos dengan muka cemberut


__ADS_1


"kenapa kau Ra, pulang-pulang muka ditekuk" Sapa Silvia yang melihat sahabatnya cemberut



"lagi bete sama tetangga rese noh, masa aku diledekin cuma karna dianterin cowok" jawab Haura menggerutu



"mana cowoknya kok gak lihat sih" sambung Silvia berhambut menuju jendela untuk memastika siapa yang mengantar Haura sore ini



"ihhh apaan sih, malah ngikut kepo kaya yg lain" kesal Haura



"yeee, kau pun tumben di anter cowok, katanya ke RS" ujar Silvia lagi



"iya emang dari RS loh, cuma tadi pas mau pulang, bg Dika nyuruh bareng sama Temennya" jelas Haura



"ohh gtu, bilang lah" jawab Silvia lagi




Hari ini cukup menguras kesabaran dan tenaga bagi Haura, dia berfikir ini hari sialnya, namun dia juga bahagia karena punya kesempatan bertemu Dika.



Hari begitu cepat berganti, Haura dan kedua sahabatnya harus melalui rutinitas seperti biasanya sebagai mahasiswi. Hari ini mereka ada 3 kelas yang harus di jalani sampai sore, menghabiskan waktu di kampus dan hanya beristirahat di kantin untuk mengisi energi mereka yang habis karena kegiatan melelahkan itu. Tapi mau bagaimana lagi, sebagai pejuang sarjana yang punya cita-cita mulia dan ingin membuat orang tua bangga, mereka harus bertahan dan tetap menjalaninya dengan baik.



Drettt...


Drettt...


Drettt...


"hp qe tu bergetar" ucap Tiara memberi tahu Haura



Haura pun mengecek hp nya yg ternyata ada panggilan masuk dari Dika


__ADS_1


"halo, assalamualaikum" sapa Haura memberi salam



"waalaikumsalam" jawab Dika diseberang telpon



"kenpa bg" tanya Haura



"kemaren kata nya mau ke RS lagi, kok ga dateng" jawab Dika



"ehh astagfirullah, maaf bg kaya nya gak bisa deh hari ini, Ura lupa kalau ada kelas, ini aja masih di kampus belum pulang lagi dari pagi" sambung Haura merasa bersalah karena ia lupa akan janjinya



"oh gtu, kirain kenapa ga kesini, lanjut deh belajarnya" lanjut Dika lagi dari seberang sana



"entar malem deh Ura kesitu bareng temen kos" ucap Haura



"iya boleh, kalau ga bisa juga ga papa. Mungkin cape kan seharian ngampus, terus malem-malem gak baik anak perempuan keluar, besok juga boleh" jawab Dika mengingatkan dan menyarankan kepada Haura



"iya iya, pokoknya kalau sempet tar kesana, kalau ga dateng brarti gak bisa kesana, oke" jawab Haura memastika



"yaudah abg tutup nih telponnya, yg rajin belajarnya, assalamualaikum" ucap Dika memberi nasehat dan mengucapkan salam mengakhiri panggilan



"asyiap Bosque, waalaikumsalam" canda Haura dan membalas salam dari Dika sambil mengangguk serta tersenyum yg pastinya tidak dapat dilihat oleh Dika di seberang sana



Setelah kelas selesai Haura dan kedua sahabat pulang ke kosan, tidak sabar ingin mandi dan beristirahat, karena badan mereka sudah cukup lengket dan badan pegel-pegel.



Haura sepertinya tidak jadi pergi ke RS malam ini, karena sudah tidak sanggup lagi, seharian iya kuliah dan ditambah harus mengerjakan tugas yang masih banyak. Ia berniat untuk ke RS besok, dikarenakan ia tidak ada kelas, sebab dosen yang bersangkutan sedang berada di luar kota dan hanya memberi tugas pengganti saja untuk di kerjakan, sehingga tidak perlu datang kekampus.


__ADS_1


Lelah, tetapi mau bagaimana lagi, tugas adalah makanan sehari-hari yang tidak akan pernah habisnya bagi mahasiswa pejuang sarjana. Meski badan sudah ingin di rebahkan, dan mata sudah tidak dapat di kompromi, tetapi Haura dan dua sahabatnya harus tetap mengerjakan tugas itu hingga selesai baru akan tidur dengan nyenyak


__ADS_2