Move On Jalur Langit

Move On Jalur Langit
07.


__ADS_3

..."Diam untuk bertenang bukan sebab kesepian, menyimpan beberapa arsip untuk dikenang bukan mengulang perjalanan, namun sesekali perlu melihat beberapa sudut, agar cara pandang terlihat lebih berbeda dan punya tujuan"...


...@kak_py...


Sesuai rencana Haura siang ini akan ke RS melihat keadaan Satya yang kata Dika sudah bisa pulang, karena keadaannya sudah membaik dan bisa rawat jalan aja gak perlu lagi di rawat di RS. Haura pun pergi ke RS dengan Silvia sahabat, karena Tiara si bucin itu, sudah pasti bersama pacarnya. Jadi Haura mengajak Silvia untuk menemaninya, kasihan juga sahabatnya itu sendiri di kosan dan ia pun sendiri lagi males bawa motor jadi, Silvia lah yang akan menyetir.


Setelah sampai ditujuan Haura dan Silvia langsung menuju ruangan Satya dirawat. Ketika memasuki ruangan sudah banyak orang yang Haura tebak adalah teman-teman Satya dan ada juga dari organisasi yang sama dengan Haura. Mereka semua datang untuk membesuk Satya yang sudah dirawat beberapa hari di RS itu. Dan ada banyak buah tangan yang sudah pasti itu pun bawaan dari mereka yang datang membesuk. Haura dan sahabatnya itu pun langsung masuk dan duduk berbaur bersama yang lain.


Tidak terasa waktu terus berjalan, orang-orang di ruangan itu masih asik bercengkerama berbagai hal, tentang organisasi, pekerjaan, perkuliahan dan kegiatan lain yang tidak habis-habis kalau di ceritakan, apalagi ketika obrolan itu nyambung.


"bg hari ini bg Satya bener dah boleh pulang? Emang udah sembuh?" tanya Haura di sela-sela percakapan mereka


"kata dokternya sih udah boleh, Satya udah baikan, cuma butuh istirahat cukup, makan jangan telat, jangan sering begadang, trus minum obat yg udah di resepin dengan teratur untuk proses pemulihan" jawab Dika mejelaskan


"ohhh gtu, Alhamdulillah" balas Haura lagi


"He'em" lanjut Dika sambil tersenyum tulus pada Haura


Dari mata keduanya sangat terpancar jelas ada rasa yang disimpan oleh mereka masing-masing. Ada ketulusan yang ditunjukkan namun berusaha di tutupi agar tetap nyaman dan tidak terlihat canggung.


Tamu yang membesuk Satya pun sudah pada pulang, hanya tinggal Dika, Haura, Silvia dan Satya di ruang itu. Meraka pun berkemas dan bersiap-siap untuk pulang.

__ADS_1


Dan karena Satya belum begitu pulih, ia bersama Dika yang akan menyupirinya dan Haura tetap bersama Silvia seperti awal mereka datang.


Sesampai di kosan Satya, Meraka pun mampir sebentar meletakkan semua barang dari RS, kemudian Haura dan Silvia pamit pulang karena matahari mulai meredupkan cahayanya dan menghilang di sudut langit dibalik awan yang mulai kelabu.


"bg Dika, bg Satya pamit pulang dulu yah" pamit Haura pada mereka berdua


"iya hati-hati, nanti kalau dah sampe kabari" ucap Dika mengingatkan


"sip, baik-baik bawa motornya" sambung Satya mode kakinya


"siap, iya abg kulkas ku" saut Haura cengengesan memberi hormat memperlihatkan deretan giginya


"Duluan yah abang-abang" pamit Silvia juga pada dua lelaki itu yang di balas senyum


Dika masuk ke kamar kosan yang ditempati oleh Satya, beberapa hari ini cukup melelahkan baginya. Lagi banyak kerjaan di Banda Aceh dan sekarang sudah berada di Meulaboh dengan mendadak. Tanpa ada waktu untuk beristirahat, dan lusa akan kembali ke Banda lagi menyelesaikan pekerjaan.


Dikamar Dika melamun, mengingat setiap sifat dan sikap Haura yang kadang membuat dia jadi rindu sosok gadis cantik itu karena jarak yang membuat mereka berjauhan dan tidak saling bertemu. Terkadang beberapa sebab membuat kita bersyukur meski caranya yang tidak baik. Seperti yg Dika alami sekarang, ia bertemu dengan Haura Karena Satya yang sakit. Allah selalu punya maksud di balik pertemuan dan perpisahan. Entah itu baik atau buruk itulah yang tidak dapat di tebak, Allah selalu punya kejutan yang tak terduga.


Dika selalu takut menerima kenyataan bahwa Haura akan dimiliki orang lain, dan ia tidak punya kesempatan itu, ia takut tidak akan bisa lagi melihat manjanya Haura ketika mereka bertemu, tapi dia juga sadar bahwa Haura tidak akan pernah bisa menjadi miliknya. Dika lebih takut Haura menjauh dan tidak ingin bertemu dengannya, dan Dika berfikir bahwa sekarang waktunya untuk membuka hati untuk orang lain agar perasaannya tidak terus terpaku terhadap Haura.


Haura dan Silvia pun sudah sampai dikosan yang langsung di sambut hangat oleh Tiara yg ternyata sudah pulang sesudah jalan dengan pacarnya.

__ADS_1


"eh eh eh yang sudah pulang ini, gimna di RS ketemu cogan gak" tanya Tiara meledek


"ihhh kepo kali kau ni lah" jawab Silvia


"iya nih, mentang-mentang baru habis jalan' sambung Haura menyindir


'yeee sewot, bilang aja iri" ujar Tiara lagi tidak mau kalah


"yadeh yg punya cowo, palah daya kita yang jomblo ngenes ini" cerocos Silvia sebel dan merendah diri


"udah udah gak usah brantem deh, mending pada mandi biar wangi, bau sapi loh" lerai Haura di iringi candaan


"ihhh ihhh kok bauk sapi sih, orang masih wangi gini" balas Silvia tidak terima dikatai bau sapi


"ha ha ha ha, habisnya bukannya mandi malah debat" saut Haura tertawa receh


"yahhh Bu bos, nih aku lu yang mandi, kalian nunggu giliran, kan aku yg Luan nyampek, blek" sambung Tiara memberi hormat pada Haura dan langsung berlari kekamar mandi sambil menjulurkan lidahnya mengejek dia sahabatnya itu


"ihh tu anak emng nyebelin yah" gumam Haura kesel memutar bola matanya dengan tingkah sahabat Bar-bar nya itu


Malam ini, Haura dan sahabatnya langsung terlelap karena, memang tidak ada lagi tugas dan kegiatan, jadi memilih langsung istirahat setelah seharian energi mereka terkuras, hingga sangat lemah. Tidur ketiganya sangat nyenyak, dan tidak terganggu sama sekali oleh kebisingan dari kosan sebelah yang masih memetik gitar dan bernyanyi ria. Mereka benar-benar terlihat capek, yang biasanya lupa waktu sekrol sosmed, tidur cepat dengan gaya yg gak karuan. Tiara kaki di silangkan ke atas bertopang di dinding, dan Silvia tengkurap dengan kaki yang menimpa perut Tiara dan sebelah tangannya memeluk kaki Haura, sedangkan Haura sendiri tidur miring ke sebelah kanan, dengan tangan bersidekap dan kakinya yang dipeluk oleh Tiara sipaling lasak kalau tidur.

__ADS_1


Begitulah keunikan ketiganya, yang bisa seakrap sekarang, dan saling menyayangi satu sama lain layaknya saudara. Selalu saling melengkapi meski saling memiliki kekurangan. Entahlah sampai dimana dan berakhir seperti apa persahabatan mereka selanjutnya nanti.


__ADS_2