Move On Jalur Langit

Move On Jalur Langit
21.


__ADS_3

..."Bukan tentang percakapan yang harus selalu didengarkan, bukan pula perasaan yang harus jadi pusat perhatian, tetapi menjaga untuk menghargai"...


...@kak_py...



Setelah pamitan dengan ibu Kesya mereka pun melanjutkan perjalanan ketempat yang dituju. Untuk sampai kesana mereka hanya menghabiskan waktu sekitar 15 menit karena memang tidak terlalu jauh, apalagi kalau Haura yang membawa motor sudah dipastikan akan cepat sampai. Hal yang membuat Kesya jantungan karena gaya ngebut Haura yang sudah seperti ingin di jemput malaikat maut maut saja.



Sampainya mereka di lokasi sudah ada Bima dan Ando yang telah memakai pakaian bola sedang berkumpul bersama teman satu tim mereka. Haura dan Kesya menghampiri sahabat baik mereka itu untuk memberi support.



Pertandingan pun dimulai, para penonton dan suporter sudah rame di disekitar pinggir lapangan. Haura dan Kesya sangat semangat dan bersorak memberi semangat pada Bima dan Ando.



"Sya aku ke toilet bentar yah kebelet nih, kamu ikut gak?"



"Engga Ra lagi seru nih"



"Yaudah deh, aku tinggal bentar yah, jangan ngilang pula"



"Ih iya loh, takut banget deh"



"Mana tau kan lihat cogan, akunya di tinggal "



"Lebay deh, dah sana buruan, lagi seru tuh mereka mainnya"



"Iya iya bye"



"Bye"



Haura meninggalkan Kesya yang masih fokus sama pertanding. Namun, ia sekelebat melihat Jaka di depan sana, tidak jauh dari tempat Haura melangkah sekarang, Haura pun mengambil jalan lain menuju toilet, karena malas berurusan dengan Jaka.



Bukan ia menghindar, hanya saja Haura belum siap dengan hal-hal baru yang di luar kuasanya. Ia dan Jaka sekarang status nya tidak jelas, Jaka tidak mengucap kata pisah begitu pula Haura, tapi Jaka memiliki wanita lain yang dia cintai sebagai pacarnya. Dan kejadian belakangan cukup menjadi jawaban mundurnya Haura.



Haura selesai dari toilet langsung kembali menghampiri Kesya yang teriak-teriak gak jelas menyemangati Bima dan Ando dengan antusias. Itulah Kesya yang banyak hal-hal gila tak terduga dalam tindakannya. Tidak ada rasa malu dalam dirinya, kecuali malu-maluin.



"Eh Sya siapa yang menang?"



"Ih Ura ngagetin aja deh, mainnya aja belum selesai gimana mau tau siapa yang menang"


__ADS_1


"Kan mana tau, trus udah berapa skor nya?"



"2:0"



"Oh"



Mereka berdua pun kembali fokus pada pertandingan, dengan beberapa snack dan minuman dingin di genggaman masing-masing. Yak mereka berdua hobinya makan, jadi dimana pun makan akan selalu jadi pelengkap, kalau tidak akan seperti hampa.



Pertandingan pun selesai dengan skor 3:1 yang di menangkan oleh tim Bisa dan Ando. Haura dan Kesya berhambur menghampiri sahabat mereka itu.



"Hay, selamat yah konco-konco ku, kalian tadi best banget" sapa Haura pada kedua sahabat lelakinya memberi selamat



"Wes menang juga yah akhirnya, keren banget tadi. Selamat untuk kalian sahabat tamvan ku" timpal Kesya



"Makasih Ra, Sya" Jawab Bima sahabat mereka yang mempunyai sifat cuek dnan irit ngomong



"Makasih dua bestie cantik ku atas pujiannya" balas Ando si paling receh



Mereka pun berbincang-bincang di selingi candaan. Sembari menikmati jajanan yang di jual pedagang sekitaran situ. Dan setelahnya mereka semua memutuskan untuk pulang bareng. Ando satu motor dengan Bima dan Haura bersama Kesya.




"Ra boleh ngomong bentar gak?"



"Mau ngomong apa,disini aja ga papa"



"Aku mau ngomong berdua aja"



"Eh kalian tungguin bentar disini yah, aku mau ngomong dulu bentar sama dia" imbuh Haura pada ketiga sahabatnya



"Iya Sono jangan lama-lama tar kamu belumut" balas Ando



Sedangkan Bima dan Kesya hanya mengangguk malas, karena lelaki yang ingin berbicara dengan Haura adalah penyebab mood sahabat mereka itu tidak baik. Haura pun mengikuti Jaka untuk berbicara agak jauh dari Kesya, Bima dan juga Ando.



"Udah kan,jadi mau ngomong apaan"


__ADS_1


"Ra abang minta maaf, tapi kali ini abang mau jujur"



" Udah deh to the poin aja, Ura ga papa bang"



"Abang udah terlanjur sayang sama Intan yang kemaren nelpon Ura. Abang gak mau nyakitin Ura makin dalam lagi, jadi kali ini kita putus aja, biar Ura bisa nyari cowo lain yang lebih baik. Abang tau ini jahat, tapi abang udah gak punya perasaan apa-apa ke Ura. Sekali lagi maafin abang, makasih yah udah mau bertahan sejauh ini"



"Oke kalau itu emang udah keputusan yang abang ambil, berarti kita udah selesai, makasih kembali yah"



"Maaf yah Ra"



"No problem, Ura pamit dulu yah, assalamu'alaikum"



"Waalaikumsalam "



Haura meninggalkan Jaka yang masih diam tak berkutik di tempatnya. Sakit itu yang di rasakan Haura. Banyak sekali hal tak terduga belakangan ini, dan itu cukup membuatnya lelah. Hatinya seperti di permainkan terus-menerus, mau marah pun ia tak bisa. Kali ini Haura harus benar-benar melupakan Jaka dan tak ada alasan untuk bertahan. Jadi, jalan satu-satunya adalah move on dengan sungguh-sungguh dan tidak melihat kebelakang lagi.



Dengan hati dan pikiran yang kacau Haura menghampiri para sahabatnya yang sudah menunggu. Haura meminta Kesya yang mengendarai motornya, karena ia tidak dapat berkonsentrasi. Mereka berempat meninggalkan tempat itu dan melaju pulang.



Di perjalanan Kesya menanyakan apa yang terjadi pada Haura, sebab sedari tadi anak itu hanya diam saja tanpa sepatah kata yang membuat Kesya jadi khawatir.



"Ura kamu kenapa, kok diam-diam Bae?"



"Aku gapapa Sya" jawabnya



"Jujur ajalah Ra, kita udah kenal dari kecil, jadi aku tau perubahan kamu. Semenjak ketemu dan ngobrol sama bang Jaka tadi kamu mendadak jadi pendiem. Pasti ada sesuatu kan, dia bilang apa?"



"Bang Jaka mutusin aku Sya, dia lebih milih perempuan selingkuhannya"



"Emang benar-benar yah tuh orang, dikasih hati minta jantung. Kemaren minta balikan, terus sekarang malah selingkuh. Udah deh Ra gak usah galau mikirin orang kek gitu, ada yang lebih baik dari dia dan lagian yang suka kamu banyak"



"Iya Saya, makasih udah ngerti aku"



"Sama-sama Ura ku sayang, cowo gitu emang gak pantes dipikirin, cewe sebaik kamu aja di sakitin, nanti dia pasti nyesal tu. Yaudah sekarang semangat yah harus happy" ujar Kesya berteriak menyemangati Haura agar tidak bersedih



"Semangat " teriak Haura mengikuti gaya Kesya

__ADS_1



"Nah gitu dong, kan aura cantik nya keluar kalau senyum" balas Kesya ikut tersenyum


__ADS_2