
..."Amorfati seperti enigma, akan Amerta Dalam Atma, memupuk renjana dan memberi adiwarna pada fatamorgana"...
...@kak_py...
Mereka bertiga menaiki motor dengan Nabilla ditengah karena takut ia akan terjatuh, mereka menuju rumah nenek Ricky yg tidak jauh dari pesantren. Agar lebih mudah merawat adiknya kalau ada apa-apa.Sesampainya di rumah nenek Ricky, Haura langsung membantu Nabilla untuk berjalan masuk dan Ricky yg mengangkat barang-barang milik adiknya. Nabilla terlihat sangat pucat dan badannya pun panas. Sepertinya demamnya kembali tinggi. Nenek Ricky pun memberi obat yg di bawa Nabilla dari pesantren untuk segera di konsumsi dan memberi berapa obat kampung yang sudah biasa diberikan untuk orang yang sakit dan di percayakan dapat menurunkan panas orang yang demam.
Tapi sayangnya Nabilla tidak berniat untuk menyentuh obat-obatan itu sama sekali. Dan semuanya tidak lepas dari pandangan Haura, kemudian Ricky meminta tolong pada Haura untuk membujuk Nabilla agar mau minum obat itu.
"Ra aku boleh minta tolong gak?" tanya Ricky
"minta tolong apaan Ku?" Tanya balik Haura
"bujukin adek aku dong, dia emang gitu, keras kepala, dan kalau aku yg bujuk udah dipastiin dia gak mau tuh. Tapi mungkin kalau kamu yang bujukin dia mau, soalnya kan kalian sama-sama perempuan dan bisa jadi temen gitu kan, please mau yah" ucap Ricky sedikit memohon pada Haura
"iya boleh, biar aku coba yah, tapi kalau gak mau juga gapapa kan" jawab Haura
"iya gapapa, usaha dulu" balas Ricky
"ok" ucap singkat Haura
Haura pun menghampiri Nabilla yang bersandar di kepala tempat tidur kamar tempat adik Ricky istirahat, Haura duduk di kursi samping tempat tidur itu.
"Hai gimana keadaannya?" sapa Haura canggung
"agak pusing" ucap Nabilla lemas
"heum gimana kalau minum obat dulu" ucap Haura mulai membujuk
Sedangkan Nabilla terlihat berpikir dan enggan untuk melakukan
__ADS_1
"engga papa kok, kakak juga biasanya males minum obat rasanya pahit, tapi sakit itu lebih gak enak loh, nanti kamu lama sembuhnya. Terus gak Isa balik ke pesantren ketemu teman-teman, emangnya kamu betah disini?" ucap Haura lagi mulai melancarkan aksi bujuk nya
"Heum yaudah deh, aku mau minum obat, biar cepat sembuh" ucap Nabilla setelah memikirkan perkataan Haura
Akhirnya Nabilla meminum obat itu, dan Ricky yang memperhatikan dari jauh terlihat tersenyum sekaligus bangga dengan Haura yang berhasil membujuk adiknya yang keras kepala itu. Haura pun senang karena Nabilla mau minum obat.
"Nah kan gak pahit-pahit banget obatnya, pasti kamu bakalan cepat sembuh nih" ucap Haura lagi meyakinkan
"iya makasih kak" ucap Nabilla dengan tulus
"iya sama-sama" balas Haura tersenyum
"eh iya kita belum kenalan, aku Nabilla, kakak namanya siapa?" ucap Nabilla memperkenalkan diri dan kembali bertanya
"nama kakak Haura, tapi panggil aja kak Ura" jawab Haura sambil tersenyum tulus
"heee bukan, kami cuma temen" jawab Haura tertawa lucu
"oh Nabilla kira pacarnya bg Ricky, soalnya kakak orang pertama yang dia bawa jumpain Nabilla, dan orang pertama yang Nabilla lihat dekat sama a bg Ricky, karena setau Nabilla dia gak pernah dekat sama cewek" ucap Nabilla panjang lebar
"ih masa sih, dia mungkin punya pacar tapi belom sempat di bawa ketemu kamu" balas Haura lagi
"heum gak tau juga sih, tapi Nabilla seneng deh ngobrol sama kak Ura, orangnya asik" ucap Nabilla tersenyum senang
"hee bisa aja, kakak juga seneng loh kenal Nabilla, jadi kayak adek sendiri" ucap Haura tulus mulai menyayangi Nabilla di hari pertama pertemuan mereka
Tidak lama kemudian Ricky menghampiri mereka yang berbincang-bincang.
__ADS_1
"eh eh kalian ngomongin apa? Gibahin Abang yah?" Tuduh Ricky bercanda
"ihhh siapa juga yang mau gibahin cowo jelek kaya abang" seru Nabilla menjulusknan lidahnya mengejek
Sedangkan Haura hanya tertawa melihat interaksi lucu dua saudara beda usia itu.
"eh Ra kita pergi yuk, aku gak enak sama kamu, dari tadi nemenin aku lama banget" ucap Ricky
"santai aja lah, tapi kalau mau pergi boleh juga, aku ngikut aja" jawab Haura
"ihhh cepet banget si pulang nya" timpal Nabilla
"ihhh ini anak kecil, orang gede banyak keperluan, lagian kamukan udah mendingan, terus ada nenek juga yang jagain. Nanti abang juga kesini lagi kok' dan kalau ada apa-apa kamu kan bisa hubungi abang" sambung Ricky lagi
"iya iya orang tua" jawab Nabilla cemberut sekaligus menyindir Ricky Tua, karena tapi sudah mengatainya anak kecil
"yaudah yok Ra kita pamit sama nenek dulu" ujar Ricky mengajak Haura
"Dek, kakak pamit dulu yah, semoga cepat sembuh" ucap Haura pada Nabilla berpamitan
"iya kak, hati-hati, sampai ketemu nanti" balas Nabilla kemudian menyalim Haura dan Ricky sebagai bentuk hormatnya terhadap yang lebih tua
"yang Baek disini, jangan nyusahin nenek sama orang-orang disini, nanti kalau ada perlu apapun kabari Abang, ok?" sambung Ricky
"iya Abang bawelllll" balas Nabilla
Haura dan Ricky pun keluar dari kamar dan mencari nenek Ricky untuk berpamitan. Usai berpamitan mereka pergi dari rumah itu. Haura merasa nyaman dengan keluarga Ricky dirumah itu, karena keluarga Ricky menyembut dengan ramah dan sopan. Kata Ricky mereka itu keluarga dari sebelah ayahnya dan pesantren tempat Nabilla mondok pun adalah milik almarhum kakeknya yang di kelolah oleh sang paman.
Dan Nabilla tidak terlalu akrab dengan keluarga dari sebelah ayahnya, beda hal nya dengan Ricky yang sangat dekat dengan mereka. Karena, dari kecil ia di besarkan oleh keluarga ayahnya. Pantas saja Haura melihat Nabilla tidak terlalu nyaman. Dan seperti tidak punya teman disitu. Bahkan dia lebih terlihat akrab dengan Haura yang baru dia kenal dan buka siapa-siapa, dibanding keluarganya itu sendiri.
__ADS_1
Dan keadaan Nabilla pun terlihat lebih baik dari sebelum nya. Ricky pamit pergi kepada nenek nya dan menitipkan Nabilla untuk di rawat dengan baik. Dan kalau ada apa-apa agar nanti keluarga nya itu langsung mengabari nya, karena tempat tinggal Ricky jauh dan tidak bisa juga tinggal dirumah itu, sebab ia bekerja dan jarak tempuh nya akan membuat nya terlambat dan memakan waktu yang lama. Jadi ia hanya bisa memantau dan berjaga-jaga dari jauh. Haura melihat Ricky sangat dekat dengan nenek dan keluarga nya yg ada di rumah itu, tapi beda dengan Nabilla yg tidak terlalu nyaman dan tidak banyak bicara. Haura pun merasa simpati dengan keadaan itu.