
Mendengar janji Kelvin, Barsha langsung jadi ceria, "Sakit gak?"
"Jelaslah!" Kelvin menatapnya.
"Di mana sakitnya?" Barsha menatap balik sambil membersihkan jas hujannya.
Pipi Kelvin mulai memerah setelah ditatap terus oleh Barsha," Udah ilang sakitnya, ayo! cepat ke sekolah, ini kita pasti telat."
"Baiklah." Dengan kejadian tadi, Barsha tidak berani main lagi.Dia mengikuti di belakang Kelvin satu langkah demi satu langkah menuju ke sekolah mereka.
Barsha dan Kelvin kedua-duanya merupakan siswa kelas 5 SD harapan di kota S. Kedua anak itu bersekolah di kelas yang sama dan duduk berdampingan.Tidak hanya itu, orang tua mereka juga merupakan rekan kerja dan teman yang baik,apalagi rumah mereka bertetangga satu sama lain.Jadi, Barsha dan Kelvin dibesarkan secara bersamaan oleh kedua pasang orang tua mereka.
Saat mereka tiba di sekolah sudah terlambat 15 menit. Tapi karena hujan yang deras, siswa yang sampai di kelas saat itu hanya setengah dari jumlah biasa. Barsha menghela nafas panjang.Guru juga tersenyum melihat Kelvin masuk kelas dengan aman.
Saat teman kelas lagi duduk belajar di bangku, Barsha berdiri di samping pintu kelas membantu Kelvin untuk melepaskan jas hujan. Setelah itu mereka menuju ke tempat duduk mereka yang berada di paling belakang kelas.
Meja yang ditempati Kelvin sedikit berbeda dengan murid lain. Biarpun ukuran meja sama, tapi tinggi meja cuma separuh ketimbang yang lain.
Setelah kedua anak duduk di bangku, Barsha membantu Kelvin untuk taruh tas. Habis itu, dia tidak lagi membantu kelvin untuk hal yang lain. Sedangkan Kelvin duduk bersandar di kursi, melepas sepatunya dengan gesekan kedua kakinya, dan menaruh kakinya di atas meja yang pendek itu.
Dengan kaki kiri Kelvin menjepit tas, dan kaki kanannya membuka ritsleting tas dengan mahir, sembari mengeluarkan buku pelajarannya beserta kotakpensil dari dalam tas.
Teman kelas tidak banyak memperhatikannya, yang baca tetap baca, yang menulis tetap menulis. Guru yang lagi mengawasi murid di depan kelas juga tidak banyak menoleh ke arah kelvin.
Kelvin duduk tenang dengan tatapan ke bawah, kadang juga berbisik sama Barsha.Barsha sambil mengerjakan tugas yang diberikan guru, kadang juga menjawab bisikannya.
Semua kelihatan normal aja, hanya tidak kelihatan ada isi tangan di dalam kemeja lengan panjang yang dipakai sama Kelvin.
Saat jam istirahat, Barsha sudah tidak betah lagi duduk di bangku kelas. Riska teman kelas memanggilnya," Beruang! Ayo kita ke kantin!"
"Beruang" adalah julukan Barsha di kelas, hampir semua teman memanggilnya begitu kecuali kelvin. Apa Kelvin memanggil Barsha dengan namanya? Tentu aja tidak!
__ADS_1
Barsha bergegas memasukkan buku pelajaran ke kolom meja dan berlompat ke arah Riska yang berada di pintu kelas. Sepertinya Barsha teringat sesuatu, dia menoleh ke arah Kelvin dan bertanya,"Kau mau ikut?"
Kelvin yang selalu duduk di belakang mejanya memandang keluar jendela balik menatap Barsha, akhirnya berkata,"Tidaklah, aku di sini aja."
Barsha memberi senyum kepada Kelvin dan berpegangan tangan sama Riska, berdua lari menuju ke kantin.
15 menit berlalu, bell kelas udah berdering, anak-anak satu persatu balik ke kelas. Tatapan mata Kelvin selalu berpusat di pintu masuk kelas, sepertinya dia lagi tunggu sosok seseorang masuk kelas.
Akhirnya Barsha duduk di samping Kelvin dengan nafas terengah-engah. Rambutnya sedikit basah dan pipinya agak memerah dan sorotan matanya membawa sedikit kelicikan.
"Ada yang seru?" Tanya Kelvin.
"Tidak seru! di mana-mana ada hujan." Barsha berkedip dan berkata,"Aku maunya main ke lapangan, tapi disana kayaknya juga lagi banjir."
"Oh." Kelvin melihat tangan Barsha taruh dibelakang punggung, seperti lagi sembunyikan sesuatu,dia bertanya ke Barsha," Apa yang kau sembunyikan?"
Tiba-tiba Barsha mengangkat tangan, disaat guru lagi menulis di papan, es batu yang ada di tangannya langsung dimasukkan ke dalam kemeja Kelvin.
Barsha menyembunyikan dirinya
di belakang meja dengan wajah ketawa yang ditutupinya pakai tangan. Sedangkan Kelvin berdiri di samping meja dengan tanpa ekspresi. Beberapa saat kemudian, dia mengangkat kursi yang jatuh dengan jepitan jari kaki, dan duduk kembali seperti orang yang tidak apa-apa.
Semua orang pada balik belajar lagi, dan guru juga mulai lanjut pelajarannya.Hanya es batu yang ada di dalam kemeja Kelvin mulai meleleh jadi air dan mengalir di permukaan tubuh Kelvin akhirnya diserap oleh baju. Kelvin membungkuk dan membuka buku pelajaran dengan telapak kaki tanpa mempedulikan kedinginan yang dirasakannya di bagian tubuh.
Beberapa saat kemudian, Barsha
menarik lengan kemeja Kelvin,tapi Kelvin tidak lagi mempedulikannya.
Serasa diabaikan, Barsha mulai menusuk pinggang, punggung, bahkan paha Kelvin dengan pulpen. Kelvin tidak bisa menghindar, ahkirnya melotot Barsha dan berbisik," Udahlah, stop!"
"Ahhh, nggak seru!" Barsha mencibir dan menarik pulpennya.
__ADS_1
Saat pulang sekolah, hujan sudah mereda.Barsha dan Kelvin pulang rumah secara bersamaan.
Di saat perjalanan pulang, Kelvin melihat ada tanah yang dibasahi oleh hujan. Dia memanggil Barsha yang berjalan terhuyung-huyung di depannya," Bukankah kau bilang mainnya kurang seru, kalo begitu, mau gak kita bikin mainan pakai tanah liat?"
Barsha menolehkan kepalanya dan melihat sebentar ke tempat yang ditunjukkan Kelvin,"Udahlah, kalo cuma aku main sendiri tidak ada orang lain, tetap saja tidak seru!"
"Aku bukan orang di sini!" Mendengar omongan Barsha, Kelvin sedikit emosi.
"Kau itu tidak ada tangan, bagaimana mainnya." Barsha tidak pernah merasakan ketidakpantesan bicara di depan kelvin.
"Pakai kaki aja tetap bisa main!" Kelvin jawab dengan tidak mau mengalah.
Habis berkata, Kelvin sudah mulai melepas sepatunya. Dia mengenakan kemeja coklat dan menggendong tas dipunggung, dua lengan kemeja yang kosong berjuntai di kedua sisi tubuhnya.
Barsha masih berdiri dan melihatnya dengan ragu. Tiba-tiba Kelvin menoleh memanggilnya,"Ayo ndut,cepatan!"
Seketika Barsha langsung meledak, sambil menghentamkan kaki dan berteriak," Udah kubilang jangan panggil aku itu ndut! Aku sudah tidak lagi gemuk!"
Kelvin tersenyum dan berkata,"Semaunya aku. Ndut,ndut,ndut..."
Barsha menjadi kesal,mengejarnya dan berlagak mau memukulnya. Kelvin langsung balik badan melarikan diri. Denngan lariannya yang kencang, dua lengan kemejanya semakin keras berjuntai seperti dua sayap kecil lagi mengipas...
Di masa Barsha kecil memang gemuk, sedangkan Kelvin adalah anak yang sehat dan normal sebelum umur 6 tahun.Tidak hanya sehat, Kelvin juga sangat pintar, tampan dan ceria, amat disenangi oleh orang. Ini berbeda terbalik dengan keadaan Barsha.
Pada satu siang hari September tahun 1993, cuaca tampak panas. Di RS kota S, Barsha terlahir dengan operasi Caesar karena mamanya tidak bisa melahirkannya normal selama satu hari satu malam.
Pak Bambang ayahnya Barsha sempat terkejut melihat bayi perempuannya di pandangan pertama,tampak besar ketimbang bayi disekelilingnya. Wajahnya bulat dan merah tanpa ada keriput, rambutnya banyak nan hitam. Panjang tubuhnya 50cm, beratnya hampir 5 kilo merupakan bayi terberat di RS tahun itu, dijuluki "baby 5 kilo".
Saat pak Bambang menggendong "bayi 5 kilo" nya jalan-jalan di lorongan RS, pak Andy mengajak istri dan anaknya menengok ke RS.
Bu Nina mamanya Kelvin tersenyum melihat bayi gemuk yang ada di dalam gendongan pak Bambang, sambil membujuk anaknya yang baru umur 1 tahun di pelukannya," Kelvin, nak, lihat tuh calon istrimu."
__ADS_1