
Percekcokan mereka terus berlanjut,tapi tutorial malam tetap tidak berhenti.
Akhirnya suatu hari, saat ujian unit matematika, Barsha membaca soal-soal di atas kertas ujian dan tiba-tiba menemukan bahwa soal-soal itu juga tidak terlalu sulit baginya.
Barsha mendapat nilai 82 dalam tes ujian kali ini, melompat posisi rankingnya ke tengah kelas dari bawah, dia sangat gembira, pada siang hari itu dengan murah hati dia membelikan sebotol cocacola buat Kelvin.
Jadinya, dia tidak lagi segan pergi ke rumah Kelvin untuk belajar.
Bagaimanapun, di bawah pengawasannya, pelajarannya yang ketinggalan secara bertahap menyusul. Ada juga alasan yang sangat penting mengapa Barsha suka pergi ke rumah Kelvin, dikarenakan bu Nina akan selalu menyiapkan makanan ringan dan buah segar, serta minuman panas untuk mereka setiap hari. Bagi Barsha itu bagaikan hidup di dalam surga.
Setelah makan malam hari itu, Barsha takut rambutnya tidak akan kering jika dia keramas terlalu larut, jadi dia mencuci rambut dan mandi dulu, lalu membawa PR-nya ke rumah Kelvin.
Ketika dia tiba di kamarnya, dia merasa luar biasa hangat, ternyata bu Nina menyediakan sebuah pemanas minyak untuk mereka karena takut mereka kedinginan.
"Wow, panas sekali dan nyaman." Barsha duduk sambil menghela nafas dengan lega.
Ketika Kelvin menoleh, tampak pemandangan yang sangat memikat hatinya
Gadis itu baru saja mandi, rambutnya yang panjang basah dan masih acak-acakan, sepertinya belum disisir. Wajahnya merah padam, matanya bersinar terang, dan dia tersenyum, mengambil sepotong kue kacang hijau dan membolak-balik buku pelajarannya.
Kelvin suka melihat Barsha makan sejak dia masih kecil, karena Barsha itu selalu akan tampil senang dan nikmat dengan apa pun yang dimakannya pada setiap kali, itu membuat Kelvin juga ikut merasakan bahagia.
Kelvin melihat lagi tangannya, mungkin karena Barsha baru saja selesai mandi, seluruh tubuhnya terlihat sangat putih, tangannya kecil , jari-jarinya imut dan bulat, menembus warna merah jambu yang sehat.
Cantik sekali gumam Kelvin dalam hati.
Setelah Barsha selesai makan kue kacang hijaunya, siap mengerjakan PR, dia mendongak ke arah Kelvin, melihat ekspresinya yang kaku, jadi Barsha bertanya, "Hei, kenapa kamu bengong kayak gitu?"
Kelvin mendapatkan kembali pikirannya, dan wajahnya tiba-tiba menjadi merah. Barsha berkedip dan bertanya lagi, "Apa kamu merasa panas?"
Kelvin menggelengkan kepalanya, berbalik menghadap meja dan meletakkan kakinya di atas meja itu, menjepit pulpen di antara jari-jari kakinya untuk menggambar di atas kertas tanpa tujuan,lalu dia memunggungi Barsha tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
__ADS_1
Barsha mengipasi dirinya dengan telapak tangannya sambil berkata, "Ngomong-ngomong, sangat panas untuk hidup pemanas itu. Kalo tau itu mending aku datang tidak pakai jaket."
Barsha secara alami melepas jaketnya, di dalamnya ada piyama, kerah bulat besar, pola piggy merah muda, setelah melepasnya, dia tiba-tiba merasa jauh lebih nyaman.
Kelvin sedikit linglung selama tutorial ini.
Dia hanya ingin menyelesaikannya lebih awal,tapi seperti Barsha tidak mau mengindahkannya.
Ketika Kelvin sedang mengajari soal matematika, perhatian Barsha entah bagaimana bisa mengalir dari buku ke kakinya.
"Kelvin, kuku kakimu panjang lagi,"Ujar Barsha.
"Dimana gunting kukunya?" Tanya Barsha dan lanjutnya," Biarkan kupotong untukmu."
Kelvin berkata dengan kaku, "Tidak perlu, aku akan memotongnya sendiri."
Barsha tidak mau setuju, "Lama kalo kau itu potong sendiri, sini biar kubantu."
Dengan duduk di samping Kelvin, Barsha menarik kakinya, menundukkan kepalanya dan membantunya memotong kuku kakinya.
Suara "klik" dan "klik" terdengar satu demi satu, dan Kelvin merasa dirinya sedikit pusing. Dia memaksakan dirinya fokus pada kakinya, tetapi mau tidak mau pandangannya akan terpusat pada tangan Barsha, tangan yang lembut dan putih itu.
Ini bukan pertama kali Barsha memotong kuku kakinya. Sejak Barsha sudah bisa memotong kukunya sendiri, dia telah mengincar kaki Kelvin. Kalo kuku kaki Kelvin agak panjang, dia akan langsung melambaikan gunting kuku dan berteriak mau memotongnya. Bagaikan sebuah permainan yang menyenangkan.
Permainan ini telah mengalamai tiga tahap.
Tahap pertama, dimana Barsha ingin bantu memotong, tapi Kelvin tidak mau.
Tahap kedua, dimana Kelvin ingin dipotong Barsha, Barsha malah tidak mau.
Pada sekarang mereka berada di tahap yang ketiga, Kelvin tidak mau, Barsha juga tidak mau. Jadi, sebenarnya Barsha sudah lama tidak bantu memotong kuku Kelvin.
__ADS_1
Pandangan Kelvin ditarik dari tangan Barsha dan terjatuh lagi di tubuhnya, tiba-tiba dia menyadari bahwa kerah piyama Barsha sedikit terkulai karena dia membungkuk dengan kepala ke bawah, dan rambut hitam panjangnya tersangkut di bahu memicu kulit di bawah lehernya semakin putih bagai salju. Pikiran Kelvin langsung meledak, dia sebenarnya tidak melihat pemandangan di dalam pakaiannya, tetapi hanya dengan membayangkannya saja sudah cukup untuk membuatnya kaku terpaku.
Kemudian, Barsha diusir pulang oleh Kelvin, dia merasakan bingung kenapa tingkah laku Kelvin begitu aneh pada hari ini.
Kemudian, ketika Kelvin pergi tidur lebih awal, dia berbolak-balik, tapi tetap tidak bisa tidur dengan cara apa pun, sampai di tengah malam, dia tengkurap di tempat tidur dan akhirnya jatuh dalam mimpi.
Dalam mimpi itu, dia masih anak kecil yang sedang mandi di dalam bak mandi besar.
Waktu sedang mencuci-cuci, seorang gadis kecil gemuk tiba-tiba muncul di depannya, dan gadis itu duduk telanjang di bak mandi juga, menatapnya dengan penasaran.
Kelvin tiba-tiba merasa sedikit malu, ketika dia ingin menutupi burung pipit kecilnya pakai tangan, dia baru menyadari bahwa kedua tangannya sudah tidak ada. Kelvin merasa kecewa karena burung pipit kecilnya itu tidak jauh dari depan gadis kecil, dengan tatapan mata yang bingung gadis itu lalu mengulurkan tangannya ke sana...
Kelvin terbangun dengan kaget, dan menemukan dirinya masih dalam posisi tidur tengkurap, hanya ...... dia menemukan celana dalamnya sudah basah.
Dia tidak berani bergerak dan merasa panik. Punyanya di sana sudah berubah, saat ini sedang bersandar keras di tempat tidur.
Kelvin merasa sangat malu pada dirinya, karena dia menemukan bahwa posisi tengkurap seperti ini benar-benar membuatnya merasa nyaman.
Dia menggerakkan tubuhnya dengan hati-hati, dan perasaan indah yang ditimbul oleh gesekan kecil membuatnya semakin ketakutan. Dia tengkurap di atas selimut dengan mata terbuka, jantungnya berdetak seperti drum, dan setelah beberapa saat berlalu, detak di hatinya akhirnya menghilang dan dia ditutupi oleh keringat. Dia membuka selimut dan duduk secara perlahan.
Lalu dia mengangkat kakinya untuk menyalakan lampu samping tempat tidur dan membungkuk untuk melihat pakaian dalamnya, di mana ada cairan lengket yang merendam di dalam.
Kelvin mengatupkan bibirnya sejenak, lalu menggigit tongkat pembantu untuk mengganti celana dalamnya.
Kaosnya juga basah kuyup keringat, jadi dia harus gantinya sekalian. ketika dia melepas pakaian basahnya dan mengambil pakaian bersih di lemari, tiba-tiba Kelvin melihat dirinya di cermin lemari.
Dia bertelanjang dada, hanya mengenakan celana dalam, seluruh kulitnya cerah, tubuhnya ramping, dan dia memiliki sepasang kaki yang panjang dan lurus. Kelvin yang saat ini berumur 13 tahun 4 bulan, di mana tubuh akan bertumbuh pesat. Katanya bu Nina, celana yang dipakai sama Kelvin tidak lebih dari dua bulan akan menjadi pendek, dan sepatu yang dibelikan untuknya juga semakin bertambah besar.
Kelvin tahu dirinya mulai menjadi dewasa, perubahan-perubahan pada tubuhnya tidak akan terhindari, seperti hal yang baru saja terjadi dalam mimpi tadi.
Namun, dibandingkan dengan anak laki-laki lain, tidak dapat disangkal bahwa Kelvin akan menjadi sedikit lebih bingung, tidak pasti, dan takut.
__ADS_1
Di malam yang larut, dunia yang hening, remaja mungil itu berdiri di depan cermin lemarinya,sekali lagi melihat ke tubuhnya yang cacat, dia menghelakan nafas, lalu mengenakan pakaian bersihnya dan balik ke tempat tidurnya.