
Tapi Barsha tidak tahu apa-apa kenapa guru memanggilnya. Dia pergi ke kantor guru dengan kebingungan. Ada tujuh atau delapan guru di kantor, semuanya sibuk dengan urusan masing-masing. Barsha menghampiri Guru Cakra dengan hati-hati dan bertanya: "Pak Cakra, Apakah Anda mencari saya? "
Pak Cakra menoleh ke arah Barsha. Gadis itu terlihat sedikit gugup dan wajahnya memerah.Pak Cakra berpikir sejenak lalu berkata dengan lugas, "Barsha, bapak menyuruhmu datang ke sini untuk menanyakan beberapa hal.Saat ujian semester lalu, matematika dan bahasa inggrismu hampir gagal. Tapi setelah itu, pak guru melihat pekerjaan rumah dan tes unit mu semakin bagus. Sedangkan bapak tidak pernah melihat kamu datang untuk mengajukan pertanyaan ke guru. Kali ini,di ujian akhir, aku memberi perhatian khusus pada nilaimu, Nilai bahasa Inggris dan matematika mu sangat jauh lebih bagus dibandingkan dengan tes ujian sebelumnya, peningkatannya sangat besar dalam waktu dua bulan saja. "
Semakin banyak mendengar kata-kata guru, Barsha semakin tidak dapat menemukan poin utama yang mau disampaikan sama pak Cakra. Pada saat itu, pak Cakra berhenti sejenak dan bertanya dengan jelas, "Barsha, katakan yang sebenarnya dengan bapak, apa kamu selama ini menyalin pekerjaan rumah dari Kelvin, lalu minta dia untuk membiarkan kamu mengintip selama ujian? "
Mendengar ucapan pak Cakra, otak Barsha langsung meledak. Dia tanpa sadar melihat ke sekeliling ke guru lain yang di kantor,kelihatan mereka sedang sibuk pada kerjakan tugas mereka. , Tapi Barsha merasakan bahwa mereka semua lagi mendengarkan percakapan guru Cakra dengannya.
Wajahnya merah seperti terbakar sehingga dia tidak tahu harus berkata apa sekaligus. Dia mengatur kosakata di dalam hatinya dan dia ingin menjelaskan secara sistematis kepada Guru Cakra bahwa dia benar-benar mengerjakan pekerjaan rumahnya sendiri dengan Kelvin setiap malam, dan nilai ujiannya juga merupakan hasil dari belajar kerasnya sama sekali bukan hasil intip dari Kelvin.
Tetapi dia tidak memiliki kesempatan untuk mengatakan semua itu. Pak Cakra sudah mulai lanjut membicarakannya, "Barsha, Kelvin adalah anak cacat. Dia tidak nyaman dalam hidup. Kamu harus merawatnya dan membantunya, tetapi kamu tidak boleh mengancamnya dan memanfaatkannya untuk biarkan kamu menyalin pekerjaan rumahnya! Sekolah mengizinkanmu mengikuti kelas cepat karena ayahmu meminta kami untuk mengatakan bahwa Kelvin terbiasa berada di meja yang sama denganmu, bukan karena nilai kamu. Kamu tahu levelmu sendiri, semester tengah Ujian adalah hasil nyata kamu. Kau dan Kelvin telah berada di meja yang sama begitu lama, dan dia aja tanpa tangan bisa belajar dengan giat . Mengapa kamu tidak mempelajari semangatnya? Bagaimana kamu bisa menggertaknya dan membiarkan dia memberimu sontekan! "
Guru Cakra meminum air dan berkata lagi dengan sungguh-sungguh, "Selain itu, Barsha, kamu dan Kelvin hanya duduk di kelas satu SMP. Saat ini, kamu harus belajar keras dan tidak boleh memikirkan hal-hal yang tidak pantas. Kelvin relatif merupakan anak yang polos. Wajar karena kekurangannya. Jika kamu memperlakukannya dengan baik, dia mungkin akan terharu, ini wajar.Pak guru tidak baik membicarakan hal ini dengannya karena takut melukai harga dirinya. Tapi kamu harus bijaksana, Barsha, Kamu tidak boleh memanfaatkannya! Masa depan Kelvin hanya ada satu jalan yaitu belajar. Dia bekerja sangat keras, sebaiknya kamu tidak baik mengalihkan perhatiannya! "
Setelah mendengar semua itu, Barsha benar-benar kehilangan keinginannya untuk berdebat sama guru Cakra. Dia hanya terdiam di tempat tanpa kata dan membiarkan pak Cakra berbicara panjang lebar tanpa henti.
__ADS_1
Akhirnya pak Cakra meminta Barsha berjanji kepadanya bahwa tidak akan terjadi hal serupa lagi.Barsha akhirnya angkat bicara ketika guru-guru lain di kantor memandangnya.
Dia berkata, "Pak Cakra, saya meminta untuk pindah kursi, saya tidak ingin berada di meja yang sama dengan Kelvin lagi."
Barsha keluar dari kantor dan berjalan di sepanjang koridor menuju ruang kelas. Sebelum dia sampai di kelas dia udah tidak dapat menahan tangisnya.
Saat itu pas jam pulang sekolah, para murid yang telah mengetahui hasil ujian berjalan melewatinya, sebagian besar dari mereka menoleh ke arah Barsha dengan rasa penasaran.
Barsha menyeka air matanya dengan punggung tangannya dan kembali ke kelas dengan kepala tertunduk.
Setelah Barsha berdiri dan mengenakan tas sekolahnya di bahu, Kelvin memanggilnya: "Ndut!"
Lalu dia bangkit dan berdiri di depan Barsha, tetapi Barsha berbalik untuk menghindarinya. Kelvin berjalan mengelilinginya lagi dan memblokirnya di dekat meja.
Barsha tidak punya cara untuk menghindar, jadi dia hanya bisa menundukkan kepalanya dalam-dalam. Kelvin sedikit membungkuk untuk melihatnya beberapa saat,lalu dia bertanya: "Ada apa denganmu? Ada apa guru Cakra mencarimu?"
__ADS_1
"Tidak apa-apa"±Jawab Barsha dengan suara rendah, "Ayo pulang, kartunnya akan segera mulai."
Kelvin ingin bertanya lagi, tetapi teman sekelasnya yang lagi membersihkan di kelas mulai bersorak, dikarenakan postur Kelvin dan Barsha yang di pojok gampang membuat orang salah sangka.Jarak di antara mereka begitu dekat sehingga mereka bisa dengan jelas merasakan napas satu sama lain. Beberapa anak laki-laki memegang sapu mereka dan bersiul, dan ada juga bahkan berteriak, "Kelvin! Ayo cium!"
Kelvin terpaksa harus berdiri tegak dan mundur selangkah, pipinya tersipu malu, Barsha juga mengangkat kepalanya, dia menatap tajam ke arah anak laki-laki yang lagi bersorak dengan mata merah.
Mereka tidak memperhatikan keanehan Barsha, mereka masih bercanda. Salah satu cowok yang bernama Ilham bahkan meniru pergerakan Kelvin dengan memblokir cowok lain di pojok papan tulis, cowok yang terblokir di pojok itu berpura-pura berkata dengan suara cewek," Jangan, jangan cium aku!"
Para penonton tampak seperti mereka ingin tertawa tetapi tidak berani tertawa. Kelvin mengertakkan gigi dan menurunkan matanya. Baru saja dia ingin menyuruh Barsha pergi, gadis di depannya sudah melangkah menuju ke depan papan tulis.
Barsha mengambil kotak kapur di meja guru dan mengangkatnya tinggi-tinggi. Ketika melihat bahwa dia akan menjatuhkannya ke kepala Ilham, Kelvin berseru, "Barsha, jangan!"
Tapi kapurnya tidak jatuh. Seseorang menangkap pergelangan tangan Barsha dari belakang. Dia menoleh ke belakang dengan berlinang air mata, dan ternyata itu adalah Daniel yang baru saja kembali dari bermain.
Kelvin berlari ke Barsha, menatapnya sambil mengernyitkan alis. Daniel memegang kotak kapur dari Barsha tanpa ekspersi. Dia melirik ke Ilham, lalu berbalik badan dan berjalan di sekitar lorong kelas, sambil berjalan dia sambil menuangkan kapur ke tanah. Dia bahkan menginjak kapur tulis sampai pecah, dan buih abu-abu membuat tanah menjadi sangat kotor.
__ADS_1
Semua orang terdiam, Daniel berjalan kembali ke depan, melemparkan kotak kosong ke Ilham dan dia berkata dengan dingin: "Apa tidak punya kerjaan? kalo begitu sapu aja lantainya."