
Barsha memang sering bilang bahwa dia tidak mau jadi teman sebangku Kelvin.
Terutama di saat kelas 3 SD, ketinggian anak-anak pada mulai berubah, guru yang sering mengatur posisi duduk memindahkan yang pendek dan punya mata rabun jauh ke posisi terdepan, sedangkan yang tinggi dipindahkan ke belakang.
Hanya Barsha dan Kelvin tidak pernah tukar posisi tempat duduk biarpun sudah ganti kelas, dia tetap akan duduk di pojok paling belakang di kelas yang dekat jendela sama Kelvin seperti sepasang barang yang sudah terikat.
Barsha yang terlahir di bulan september termasuk anak yang kecil dikelas, dengan badannya yang kurang tinggi tapi selalu ditaruh di paling belakang membuatnya kesal. Apalagi ditambah dengan posisi duduk mereka dekat dengan tempat sampah, jika di hari-hari panas, sampah banyak akan selalu menimbulkan bau yang kurang sedap. Oleh karena itu, Barsha berkali-kali komplain. Tapi karena keistimewaan Kelvin dalam membaca dan menulis, dia tidak bisa duduk di posisi depan. Jadi, ada sepanjang waktu, Barsha hampir setiap hari protes tidak mau jadi teman sebangku Kelvin.
Kelvin tidak pernah berkata apa-apa, atau menampilkan kekesalannya. Di saat kelas 4, dia malah mencari gurukelas untuk meminta menggantikan posisi Barsha ke depan kelas.
"Pak guru, tolong bantu Barsha pindah ke depan, saya bisa duduk di belakang sendiri dan mengerjakan tugas dengan kaki sudah tidak masalah, tidak perlu lagi bantuan Barsha." Ujar Kelvin.
Gurunya juga tidak langsung menyetujui permintaannya, dia memberitahukan hal itu ke orang tua mereka.
Pak Bambang itu sengaja meminta putrinya duduk di samping Kelvin dikarenakan kedua anak itu dibesarkan secara bersamaan,udah saling kenal baik. Terhadap Barsha, Kelvin tidak akan merasakan malu karena cacat. Di sisi lain, Barsha yang merupakan anak perempuan akan lebih teliti untuk membantu Kelvin dalam kehiduapan sehari-hari.
Tapi sekarang, kedua anak saling meminta untuk tidak duduk sebangku membuat guru mereka jadi bingung.
Setelah mendengarkan penjelasan dari guru, muka bu Nina jadi pucat, membiarkan anaknya duduk sendiri di pojok belakang tentu saja dia tidak ingin seperti itu. Tapi, kalo ganti teman sebangku ...... bahkan Barsha saja tidak rela, apalagi orang lain?
Melihat bu Nina menunduk tanpa berkata, pak Bambang sudah mengerti,dia berkata ke pak guru bahwa tidak perlu bantu Barsha ganti posisi tempat duduk di kelas, dia akan menjelaskan itu kepada putrinya saat pulang.
Cara yang dipakai sama pak Bambang untuk menjelaskan hal itu ke putrinya adalah dengan memukul pantat Barsha sampai merah.
Di hari kedua, Kelvin pergi ke sekolah bersama Barsha yang bermata merah bengkak karena menangis semalam.
Barsha marah dan tidak menggubris Kelvin biarpun dia ajak omong tetap tidak peduli.
Barsha merasa dirinya tidak ada salah, itu semua gara-gara Kelvin! Kalo tidak mau ganti tempat duduk ya sudah, buat apa melapor itu ke guru! Sampai dia dipukul sama papanya!
Perang dingin sepihak berakhir di pelajaran terakhir.Saat waktu istirahat, Kelvin keluar sendiri dari kelas, dan ketika dia kembali, dibawah bahunya terjepit sebungkus permen coklat.
Dia membungkuk di depan Barsha, terdengar suara "tak", permen coklat itu jatuh di depan meja Barsha.
"Ini untukmu." Ucapnya.
Muka Barsha sedikit memerah karena Kelvin duduk di bangku sedang menatapnya terus.
"Kenapa hari ini kau kurang gembira? Apa karena sakit perut?" Tanya Kelvin dengan nada ringan dan cemas membuat pikiran Barsha jadi kacau.
__ADS_1
Tanpa berkata apa-apa, Barsha membuka bungkusan permen dan memasukkan sebutir ke mulutnya.
Kemanisan permen coklat langsung meleleh di ujung lidahnya. Dia menoleh ke arah Kelvin yang sedang menatapnya dengan mata jernih, dan berkata," Bisa aku tidak ganti tempat duduk! Tapi, mulai sekarang, PR matematikamu harus terus kasih ku nyontek."
Kelvin,"......"
"Saat ujian matematika juga." Kata Barsha yang merasa tidak adil dirinya dipukul sama papanya tanpa alasan jelas. Dia sambil mengguyah permen coklat lagi satu dan berkata dengan nada agak sedih," Selain itu, kamu juga harus bantu aku menggambar, memberiku makanan yang enak, dan tidak boleh melapor lagi sesuatu ke guru dan papaku!"
Mulut Kelvin setengah terbuka tanpa bisa mengeluarkan kata apa-apa.
"Apa kau tidak setuju?" Barsha melototnya.
"Yang lain semua bisa, cuma matematika......tidak bisa." Kelvin mencibir,"Di mana kau tidak bisa akan kuajari."
Setelah kejadian itu, di kemudian hari, Barsha tidak lagi membicarakan masalah ganti tempat duduk.
Saat liburan sekolah, Bu Nina ingin mengajak Kelvin pulang ke kampungnya di mana kakek dan nenek Kelvin berada.
Kelvin memberitahukan itu ke Barsha.
Setelah dia terluka, mamanya belum pernah mengajaknya pulang ke kampungnya. Dikarenakan kakek nenek sangat merindukan cucunya, jadi pak Andy dan bu Nina baru memutuskan untuk ajak Kelvin ke sana sebelum pergi ke Jakarta.
"Kalo begitu buat apa kau ke Jakarta?" Tanya Barsha.
"Aku sungguh tidak tau, mamaku tidak mau mengatakannya. Kita tunggu aja nanti." Jawab Kelvin sambil angkat bahu.
Lebih dari 20 hari Kelvin pergi. Ini adalah waktu terlama bagi Barsha berpisah dengan Kelvin sejak dia ada ingatan. Di mana mereka masih kecil, mereka hampir setiap hari bertemu, dan Barsha menemukan bahwa dia mulai merindukannya setelah tidak melihat Kelvin begitu lama.
Setelah liburan sekolah berakhir, keluarga Kelvin baru balik dengan tergesa-gesa.
Saat keluarga Kelvin baru masuk rumah, kebetulan pak Bambang lagi merokok di balkon. Dia berteriak kepada Barsha yang di dalam kamar," Barsha, Kelvin sudah balik."
Barsha yang lagi nonton serial televisi langsung melompat dari tempat duduk, berlari keluar tanpa memakai sandal.
Barsha melihat Kelvin yang berjalan di belakang pak Andy mengenakan baju baru dengan rambut sedikit berantakan.
Kelvin tercengang melihat Barsha,dengan sedikit kaku dia menyapa," Apa kabar?"
"Baik," Sahut Barsha sambil membuntuti mereka.
__ADS_1
Melihat Barsha yang mengikutinya terus di belakang, Kelvin memohon ke pak Andy," papa, boleh aku main ke rumah Barsha sebentar?"
"Boleh." Jawab pak Andy sambil memasuki bagasi ke dalam rumah.
Ketika Kelvin hendak masuk ke rumah Barsha, bu Nina tiba-tiba menghentikannya, dia mengeluarkan sebuah kantong plastik kecil dari tasnya dan menyerahkannya kepada Kelvin. Dengan sedikit malu, Kelvin menjepitkan kantong plastik kecil itu di bawah bahu.
Kedua anak itu datang ke kamar Barsha. Barsha tidak sabar untuk bertanya kepadanya,"Kelvin, apa yang kamu lakukan di Jakarta?"
Kelvin terus menjepit bahunya. Setelah duduk di tepi tempat tidur, dia mengedipkan mata ke Barsha dan berkata," Ini adalah hadiah untukmu, tolong ambil sendiri."
"Wow,Masih ada hadiah!" Dengan senang hati,Barsha mengeluarkan tas plastik yang dijepit Kelvin. Ternyata di dalam tas itu terisi sepasang jepit rambut kupu-kupu berwarna silver.
"Terima kasih Kelvin!" Kata Barsha amat gembira.
"Belinya di Jakarta, bagus kalo kau suka." Sahut Kelvin dengan nada kecil, pipinya tampak sedikit memerah.
"Apa kamu sudah pernah duduk kereta api di Jakarta?" Tanya Barsha sambil duduk di sampingnya.
"Sudah." Ucap Kelvin dengan mengangguk.
"Bagaimana, seru tidak?" Tanya Barsha penasaran.
"Lumayan." Ucap Kelvin," bahkan aku sudah pernah naik pesawat."
"Pesawat?!" Barsha membuka mulutnya lebar," Kok bisa kamu jadi naik pesawat?"
"Iya, saat mau balik dari Jakarta tidak ada tiket kereta, terpaksa beli tiket pesawat karena mamaku mabuk bus."
Kata Kelvin sedikit bangga," Pesawatnya kelihatan besar, tapi di dalamnya agak sempit sih. Saat terbang, suaranya juga besar dan bisik.Oh ya masih ada, di sana kita bisa makan dan minus gratis!"
Barsha mendengarkan kata-kata Kelvin dengan penuh semangat, dan terkadang dia juga menyela untuk menanyakan beberapa pertanyaan.
Pembicaraan mereka berlanjut dengan seru. Hampir sebulan tidak ketemu, sepertinya pembicaraan mereka itu tidak ada akhirnya.
Saat Kelvin mau pulang ke rumah untuk makan, sesekali Barsha bertanya kepadanya," Hi, kamu belum kasih tau ke aku, kenapa orangtuamu mengajakmu ke Jakarta?"
Kelvin agak ragu untuk menjawab," Ennn, lain kali kukasih tau."
"Kenapa?"
__ADS_1
"Sekarang aku juga tidak bisa menjelaskannya." Ucap Kelvin sedikit tegang," Lagi sebulan kita akan tau!"