Mr Penguin / Kekasihku Sangat Istimewa

Mr Penguin / Kekasihku Sangat Istimewa
Bab 11


__ADS_3

Setengah bulan sebelum dimulainya sekolah, pak Bambang menemukan satu masalah yang serius. SMP Negeri 7 tidak terlalu dekat sama rumah mereka, bagaimana Barsha dan Kelvin pergi ke sekolah?


Di lingkungannya sebagian besar anak ke sekolah dengan bersepeda dan ada juga yang menumpang angkot.


Sedangkan Kelvin tidak bisa bersepeda, dan juga tidak mudah untuk menumpang angkot sendiri, satu-satunya cara adalah ke sekolah dengan naik angkot dengan ditemani sama Barsha.


Tapi kali ini Barsha tidak mau!


Setelah tamat SD, neneknya memberinya sebuah sepeda model cewek yang sangat cantik. Dia selalu berpikir akan bersepeda ke sekolah saat SMP seperti orang-orang dewasa yang bersepeda di jalan. Sedangkan sekarang ayahnya memintanya untuk menemani Kelvin ke sekolah dengan naik angkot?! Tentu aja dia tidak mau!


Berjalan dari rumahnya ke tempat angkot perlu 5 menit, belum tentu angkot itu datang tepat waktu, beda dengan bersepeda, ingin berangkat ke sekolah kapan saja dan seenaknya bersama teman lain. Jadi Barsha marah ke ayahnya," Aku tidak mau ke sekolah naik angkot, tidak mau! Aku mau bersepeda ! Aku benci naik angkot bersama bapak-bapak ibu-ibu !"


"Lalu bagaimana dengan Kelvin?" Tanya pak Bambang.


"......" Barsha terdiam tidak bisa menjawab, akhirnya dia berkata dengan emosi," Aku tidak peduli! Kenapa apa yang kulakukan harus berhubungan dengannya! Menyebalkan!"


Pak Bambang sudah tidak bisa apa-apa tentang putrinya yang sudah berumur 12 tahun, dia tidak bisa dipukul pantat lagi. Jadi pak Bambang mencari bu Nina untuk membahas soal ini. Percakapan mereka secara tidak sengaja didengarkan oleh Kelvin.


Jadi Kelvin menghampiri ibunya dan pak Bambang, dengan nada kecil dia berkata," Mama, sebenarnya aku bisa belajar naik sepeda, dengan begitu aku bisa pergi ke sekolah sama Barsha dengan naik sepeda."


Bu Nina tercengang dengan omongan anaknya," Bagaimana kamu bisa bersepeda? Bagaimana kamu, kamu bisa menyetir dan mengerem?"


"Bisa menyetir pakai lengan atas sama bahu, Barsha latihan bersepeda di halaman kemaren aku juga sempat mencobanya, aku bisa bersepeda." Ucap Kelvin sambil membungkuk dan menggerakkan dua lengannya untuk menunjukkan kepada mereka," memang sedikit repot kalo mengerem, tapi kalo pelan-pelan tidak akan ada masalah."

__ADS_1


"Tidak bisa!" Bu Nina melarang dengan tegas," Di jalan itu beda sama yang di halaman! Begitu banyak mobil di jalan, kalo kamu bersepeda akan sangat bahaya!"


Kelvin mengabaikan kata-kata bu Nina. Saat orangtuanya sedang bekerja selama liburan sekolah, dia akan meminjam satu sepeda dari temannya yang bernama Adya dan berlatih bersama Barsha di halaman rumah mereka.


Sepeda punya Adya adalah sepeda model cowok, di mana di antara pegangan sama tempat duduk ada satu tongkat besi yang lurus, bagi Kelvin, desain itu membuatnya susah melompat dari atas sepeda kalo dalam bahaya.


Kelvin menaiki sepeda dengan tubuh tiarap, dengan begitu kedua lengan atasnya yang pendek baru bisa menjangkaui pegangan sepeda. Setelah itu dia mulai bersepeda mengeliling halaman dengan pelan-pelan.


Dia berusaha mengangkat kepalanya untuk memandang ke depan, gaya itu sangat memakan tenaga, sedangkan Barsha yang di samping malah mengeluh," Kelvin, kamu itu lambat sekali, lebih lambat dari kura-kura!"


Mendengar keluhan Barsha, Kelvin secara tidak sadar meningkatkan kecepatan mengayuhnya. Sepedanya langsung berlaju dengan cepat, tapi dia juga lebih susah untuk mengendalikan pegangan sepeda dengan kecepatan yang tinggi. Tiba-tiba kepala sepeda berguncang dengan parah sehingga dia akan menabrak dinding halaman. Di saat yang bahaya itu, dia juga tidak bisa mengerem, dia berusaha menginjak tanah dengan kakinya, tapi akhirnya dia tetap terjatuh bersama sepeda dengan keras di atas tanah.


Barsha dan Adya langsung berlari ke samping Kelvin, Adya kasihan sama sepedanya, jelas Barsha lebih khawatir tentang Kelvin. Setelah Barsha membantu Kelvin untuk berdiri, membantunya menepuk abu yang di tubuhnya, dan berkata dengan marah," Jangan kamu latihan lagi! Di halaman aja tidak bisa, apa lagi bersepeda di jalan!"


Barsha berpikir sejenak, dan tiba-tiba dia berkata," Bagaimana kalo aku memboncengmu ke sekolah pakai sepedaku?"


"Tidak mau!" Jawab Kelvin segera. Dia sudah umur 13, badannya juga semakin tinggi, mukanya juga tidak lagi bulat, mulai tampak tajam. Suaranya juga mulai berbeda, terdengar sedikit parau.


"Kenapa tidak mau?" Tanya Barsha dengan aneh," Tenagaku besar loh, gampang kalo bonceng kamu."


"Lebih baik aku jalan kaki daripada kau memboncengku." Kata Kelvin sambil naik sepeda lagi. Seolah-olah lagi kesal hati, dia mengayuh sepedanya dengan cepat, tindakannya membuat Adya terkejut dan berlari membuntuti di belakangnya.


Tidak terhindari, dia jatuh lagi dan jatuh lagi. Akhirnya Adya tidak mau meminjamkan sepeda padanya karena takut rusak, Kelvin terpaksa pulang ke rumah.

__ADS_1


Saat waktu makan, Barsha secara tidak sengaja memberitaukan hal itu kepadanya. Pak Bambang memang bukan orang yang berpendidikan tinggi, tapi dia juga tidak bodoh. Dengan dipikirnya semalam di ranjang, keesokan harinya dia pergi ke pabrik dan berusaha mendesainkan sesuatu di atas kertas. Akhirnya dia juga terpaksa harus ke kantor pak Andy.


Tiga hari kemudian, selembar kertas desain dan beberapa lembar uang diberikan oleh pak Andy kepada pak Bambang. Pak Bambang langsung mengambil uang itu untuk membeli satu sepeda baru dan segera dibawanya ke bengkel yang ada dipabrik.


Beberapa hari berlalu, dibikinlah satu sepeda khusus buat Kelvin yang dilengkapi dengan perangkat baru yaitu rangka baja tahan karat berbentuk 'U' yang dipasang di kepala sepeda memungkinkan Kelvin mengontrol arah dengan lengan atasnya tanpa membungkuk, dan di sisi kanan roda depan dipasangi rem pedal memungkinkannya mengerem secara tiba-tiba pakai kaki.


Kelvin amat terkejut dan senang setelah pak Bambang memberikan sepeda khusus itu kepadanya, dia mencoba bersepeda berkeliling di halaman, satu putaran, dua putaran... tidak lagi terjatuh!


Tanggal 13 Juli, tahun pelajaran baru dimulai.


Barsha dan Kelvin pergi ke sekolah dengan bersepeda.


Baru masuk pintu sekolah barunya, Kelvin sudah mendapatkan banyak perhatian. Semua itu sudah terduga olehnya, jadi dia tidak merasakan kesal. Malah Barsha yang melototi orang-orang yang penasaran dengan Kelvin.


Di tempat parkir sepeda, Barsha bertemu dengan Danita, teman baiknya saat SD. Setelah masuk SMP, mereka terbagi ke dalam kelas yang sama lagi membuat hubungan mereka bertambah lebih akrab.


Mereka sedang berbisik-bisik, ketika Kelvin melewati di depan mereka, tiba-tiba terdengar Barsha berteriak," Benarkah?!"


Kelvin terkejut. Saat berbalik melihat Barsha tersipu karena gembira,dia meraih lengan Danita dan berulang kali bertanya, "Benarkah? Kamu tidak berbohong padaku! Bukankah Daniel sudah membayar biaya sponsor ke sekolah Negeri 1, Kenapa dia bisa balik belajar di sekolah kita?!"


Danita berkata,"Benarlah! Tetanggaku adalah teman sekelas Daniel, Katanya Daniel tidak akan pergi ke SMP Negeri 1 karena terlalu jauh menurutnya. Daniel juga mengatakan bahwa dirinya sekolah di mana saja juga sama, dia akan bisa lulus ke SMA yang bagus. Ahh, lihat itu, Daniel..."


Barsha segera menoleh ke arah yang ditunjukkan oleh Danita, terlihat seorang pemuda yang tampan bersepeda biru dengan sangat cepat melewati di depan mereka seperti hembusan angin.

__ADS_1


__ADS_2