Mr Penguin / Kekasihku Sangat Istimewa

Mr Penguin / Kekasihku Sangat Istimewa
Bab 2


__ADS_3

Barsha dan Kelvin kedua-duanya merupakan siswa kelas 5 SD Harapan di kota S. Kedua anak itu bersekolah di kelas yang sama dan duduk berdampingan.Tidak hanya itu, orang tua mereka juga merupakan rekan kerja dan teman yang baik,apalagi rumah mereka bertetangga satu sama lain.Jadi, Barsha dan Kelvin dibesarkan secara bersamaan oleh kedua pasang orang tua mereka.


Saat mereka tiba di sekolah sudah terlambat 15 menit. Tapi karena hujan yang deras, siswa yang sampai di kelas saat itu hanya setengah dari jumlah biasa. Barsha menghela nafas panjang. Guru juga tersenyum melihat Kelvin masuk kelas dengan aman.


Saat teman kelas lagi duduk belajar di bangku, Barsha berdiri di samping pintu kelas membantu Kelvin untuk melepaskan jas hujan. Setelah itu mereka menuju ke tempat duduk mereka yang berada di paling belakang kelas.


Meja yang ditempati Kelvin sedikit berbeda dengan murid lain. Biarpun ukuran meja sama, tapi tinggi meja cuma separuh ketimbang yang lain.


Setelah kedua anak duduk di bangku, Barsha membantu Kelvin untuk taruh tas. Habis itu, dia tidak lagi membantu kelvin untuk hal yang lain. Sedangkan Kelvin duduk bersandar di kursi, melepas sepatunya dengan gesekan kedua kakinya, dan menaruh kakinya di atas meja yang pendek itu.


Dengan kaki kiri Kelvin menjepit tas, dan kaki kanannya membuka ritsleting tas dengan mahir, sembari mengeluarkan buku pelajarannya beserta kotak pensil dari dalam tas dengan kedua kakinya.


Teman kelas tidak banyak memperhatikan tingkah lakunya, yang baca tetap baca, yang menulis tetap menulis. Guru yang lagi mengawasi murid di depan kelas juga tidak banyak menoleh ke arah kelvin.


Kelvin duduk tenang dengan tatapan ke bawah, kadang juga berbisik sama Barsha.Barsha sambil mengerjakan tugas yang diberikan guru, kadang juga menjawab bisikannya.


Semua kelihatan normal aja, hanya tidak kelihatan ada isi tangan di dalam kemeja lengan panjang yang dipakai sama Kelvin!


Saat jam istirahat, Barsha sudah tidak betah lagi duduk di bangku kelas. Riska teman kelas memanggilnya," Beruang! Ayo kita ke kantin!"


"Beruang" adalah julukan Barsha di kelas, hampir semua teman memanggilnya begitu kecuali kelvin. Apa Kelvin memanggil Barsha dengan namanya? Tentu aja tidak!


Barsha bergegas memasukkan buku pelajaran ke kolom meja dan berlompatan ke arah Riska yang berada di pintu kelas. Sepertinya Barsha teringat sesuatu sebelum pergi, dia menoleh ke arah Kelvin dan bertanya,"Kau mau ikut?"


Kelvin yang selalu duduk di belakang mejanya, memandang keluar jendela sejenak dan balik menatap Barsha, akhirnya berkata,"Tidaklah, aku di sini aja."

__ADS_1


Setelah Barsha memberi senyum kepada Kelvin,dia bersama Riska berdua berlari menuju ke kantin dengan berpegangan tangan.


Selama jam istirahat, Kelvin hanya duduk di atas bangku dan menyaksikan permainan anak-anak di luar jendela. Kadang dia juga akan membuka buku kembali untuk belajar lagi apa yang diajari gurunya tadi di jam pelajaran. Semua sepertinya membosenkan, cuma bagi Kelvin ini sudah terbiasa di hari-harinya berada di sekolah.


15 menit segera berlalu, bell kelas sudah berdering, anak-anak satu persatu balik ke kelas.Di saat itu, tatapan mata Kelvin selalu berpusat di pintu masuk kelas, sepertinya dia lagi menunggu sosok seseorang masuk kelas.


Akhirnya Barsha duduk di samping Kelvin dengan nafas terengah-engah. Rambutnya sedikit basah dan pipinya agak memerah dan sorotan matanya membawa sedikit kelicikan.


"Ada yang seru?" Tanya Kelvin.


"Tidak seru! di mana-mana ada hujan." Barsha berkedip dan berkata,"Aku maunya main ke lapangan, tapi disana kayaknya juga lagi banjir."


"Oh." Kelvin melihat tangan Barsha berada dibelakang punggung, seperti lagi menyembunyikan sesuatu,dia bertanya ke Barsha," Apa yang kau sembunyikan di tangan?"


Kelvin langsung melompat dari kursi karena rasa dingin yang mengembara di permukaan badannya.Lompatan itu membuat Kelvin hampir kehilangan keseimbangan, kursinya juga ditabrak jatuh bikin suara besar meledak di kelas. Guru yang ada di depan dibuat terkejut dan semua teman kelas menoleh ke arah mereka dengan pandangan curiga.


Barsha menyembunyikan diri


di belakang meja dengan muka ketawa yang ditutupinya pakai tangan. Sedangkan Kelvin berdiri di samping meja dengan tanpa ekspresi. Beberapa saat kemudian, dia mengangkat kursi yang jatuh dengan jepitan jari kaki, dan duduk kembali seperti orang yang tidak apa-apa.


Semua orang pada balik belajar lagi, dan guru juga mulai melanjuti pelajarannya.Hanya es batu yang ada di dalam kemeja Kelvin mulai meleleh jadi air oleh suhu tubuh dan mengalir di permukaan tubuh Kelvin, akhirnya diserap oleh baju.


Kelvin kembali membungkuk dan membuka buku pelajarannya dengan telapak kaki tanpa mempedulikan kedinginan yang dirasakannya di bagian tubuh.


Beberapa saat kemudian, Barsha mencoba menarik baju Kelvin,tapi Kelvin tidak lagi mempedulikannya.

__ADS_1


Terasa diabaikan, Barsha mulai menusuk pinggang, punggung, bahkan paha Kelvin dengan pulpen. Kelvin tidak bisa menghindar, ahkirnya melotot Barsha dan berbisik," Udahlah, stop!"


"Ahhh, nggak seru!" Barsha mencibir dan menarik pulpennya.


Saat pulang sekolah, hujan sudah mereda.Barsha dan Kelvin pulang rumah secara bersamaan.


Di saat perjalanan pulang, Kelvin melihat ada tanah yang dibasahi oleh hujan. Dia memanggil Barsha yang berjalan terhuyung-huyung di depannya," Bukankah kau bilang mainnya kurang seru di sekolah, kalo begitu, mau gak kita bikin mainan pakai tanah liat?"


Barsha menolehkan kepalanya dan melihat sebentar ke tempat yang ditunjukkan Kelvin,"Udahlah, kalo cuma aku main sendiri tidak ada orang lain, tetap saja tidak seru!"


"Aku bukan orang di sini?!" Mendengar omongan Barsha, Kelvin sedikit emosi.


"Kau itu tidak ada tangan, bagaimana mainnya." Barsha tidak pernah merasakan ketidakpantesan bicara di depan Kelvin.


"Pakai kaki aja tetap bisa main!" Jawab Kelvin dengan tidak mau mengalah.


Habis berkata, Kelvin sudah mulai mencoba melepas sepatunya. Dia mengenakan kemeja coklat dan menggendong tas dipunggung, dua lengan kemeja yang kosong berjuntai di kedua sisi tubuhnya.


Barsha masih berdiri dan melihatnya dengan ragu. Tiba-tiba Kelvin menoleh memanggilnya, "Ayo! Ndut,cepatan!"


Mendengar ejekan Kelvin, Barsha langsung meledak, sambil menghentamkan kakinya ke tanah dan berteriak," Udah kubilang jangan panggil aku itu ndut! Aku sudah tidak lagi gemuk!"


Kelvin tersenyum dan berkata,"Semaunya aku. Ndut,ndut,ndut..."


Barsha menjadi kesal,mengejarnya dan berlagak mau memukulnya. Kelvin langsung balik badan melarikan diri. Dengan lariannya yang kencang, dua lengan kemejanya semakin keras berjuntai seperti dua sayap kecil lagi mengipas...

__ADS_1


__ADS_2