
"Ndut, ndut...Hi Barsha!!"
Rasa sakit yang mengalir dari paha membuat Barsha kembali jadi sadar. Dia menoleh ke kiri melihat Kelvin sedang menusuk pahanya pakai kepala pulpen yang dijepit di kaki kanannya.
"Mau apa kau?" Barsha mengelus pahanya. Karena sedikit rasa bersalah,dia mengecil nada tingginya.
"Apa kau sudah selesai buat kartu ucapan natal?" Tanya Kelvin.
Itu adalah tugas yang diberikan oleh guru kesenian untuk membagikan kartu ucapan ke teman-teman kelas karena sudah mau menjelang hari natal.
Bisa dibayangkan bahwa tugas seperti itu paling dibenci oleh Kelvin karena dia memang agak susah untuk menggunakan gunting dan peralatan lain pakai kaki. Apalagi dengan tugas kerajinan bekerjasama dengan beberapa orang lain, biarpun dia ada niat untuk ikut, tapi ada juga sebagian teman kelas tidak menginginkannya.
Untuk hal seperti itu, Kelvin belajar tidak memaksa kehendak orang lain. Dia yang sudah berumur 11 tahun telah mengerti bahwa di dunia ini tetap ada sebagian orang bagaimana pun tidak akan menerimanya, mereka akan berpikir dia itu kotor, aneh, bahkan menakutkan.
Terhadap keadaan seperti itu, dia tetap tidak berdaya untuk mengubah segalanya.
"Belum." Jawab Barsha sembari tanya balik," Bagaimana dengan kartu punyamu?" Kelvin membuka tasnya dan mengeluarkan kartu ucapannya dari dalam tas dengan jepitan kaki.
"Aduh, jelek sekali!" Barsha mengeluh setelah melihat kartu ucapan Kelvin yang digunting tidak merata," Aku tidak mau kartu ucapan sejelek ini."
"Tidak mau ya udah, aku kasih ke teman lain." Ucap Kelvin dengan kesal.
"Hemm, kalo gitu kartuku juga tidak akan ku kasih ke kamu." Balas Barsha.
"Terserah!" Kelvin menunduk," Aku juga tidak menginginkannya."
"Sama!" Barsha mencibir.
Setelah bercekcok, mereka menolehkan kepala mereka ke sisi yang berbeda. 10 menit kemudian, Barsha mengawali perkataan dengan tidak sabar," Kelvin, apa kau bisa membantuku untuk menggambar di kartu ucapan, gambarmu itu bagus."
Kelvin melirik ke arah Barsha dengan semyum tipis, tapi tetap berkata dengan muka dingin," Lagipula itu bukan untukku, aku tidak peduli itu bagus atau tidak."
Barsha berpikir sejenak, sepertinya memang begitu.Tapi dia adalah gadis kecil yang tulus, dengan segera dia berkata," Kalo begitu kartu kuberikan kepada kamu aja, tolonglah bantu aku menggambar."
Kelvin akhirnya tersenyum dan berkata," Jika itu memang untukku, lebih pantas kamu aja yang melukis, bukankah aku udah bosan melihat gambar sendiri?"
Barsha menggaruk-garuk kepalanya sembari bertanya," Apa kau tidak takut kalo gambarku itu jelek?"
"Tidak takut."Jawab Kelvin dengan yakin.
__ADS_1
Pada saat itu,Irfan berjalan ke arahnya dan bertanya," Kelvin, apa kamu ingin pergi ke toilet?"
"Ya." Kelvin mengangguk sambil memakai sepatunya.
Di sekolah, karena tubuhnya yang istimewa, banyak anak yang tidak berani berinteraksi dengannya, tetapi dia masih memiliki beberapa teman baik.
Irfan dan Liam adalah teman baik Kelvin. Ketika baru masuk SD, karena Kelvin tidak memiliki tangan, jadi ada banyak hal tidak bisa dilakukannya, terutama adalah masalah ke toilet.
Jadi guru di kelas sempat tanya ke orang tua anak-anak bahwa anak siapa yang bersedia membantu Kelvin untuk masalah ke toilet.
Sebagian besar orang tua berkata tidak mau karena kotor dan merepotkan, khawatir perbuatan itu akan mempengaruhi proses belajar anak mereka.
Tapi orang tua Irfan dan Liam bersedia. Kedua ayah mereka yang masih muda memesan ke anak mereka bahwa harus sering memperhatikan dan membantu Kelvin,dan Kelvin itu tidak ada bedanya dengan orang lain.
Berawal dari sana, masalah Kelvin pergi ke toilet menjadi pertanggungjawaban Irfan dan Liam. Mereka itu saling membagikan tugas, satu orang untuk giliran seminggu, Kelvin tidak bisa melepaskan celana perlu bantuan mereka, lambat laun, mereka bertiga menjadi teman yang baik.
Tentu aja, Kelvin tidak akan BAB disekolah, Jika dia kadang tidak bisa tahan, dia akan memilih untuk meminta bantuan guru laki-laki.
Secara kesimpulan, Kelvin adalah anak laki-laki yang ramah dan baik, dia tidak akan peduli tentang banyak hal, Tapi itu tidak berarti dia itu tidak peduli dengan semua hal.
Ketika kehidupan seperti ini baru mulai, dia juga sangat ketakutan dan bingung. Bagaimanapun bagi seseorang yang kehilangan sepasang tangan akan mengubah hidupnya berbeda jauh dengan orang normal yang lain.
Bu Nina juga pernah membohonginya. Ketika itu, Kelvin baru sadar dari operasi amputasi,dia menemukan kedua lengannya tertutup kain kasa dan sebagian besar lengan bawah serta tangannya ilang. Rasa sakit beserta rasa panik membuatnya menangis dan bertanya ke bu Nina dengan nada sedih," Kemana tanganku mama?"
"Setelah diperbaiki apa akan persis sama tangan yang dulu?" Tanya Kelvin dengan nada lemas.
"Tentu aja ya."
"Kalo sudah diperbaiki apa bisa dipasang?"
"Bisa." Bu Nina mengelus kepala Kelvin dengan rasa sayang dan berusaha menahan air mata.
"Bagaimana kalo tidak bisa dipasang?" Tanya Kelvin dengan khawatir.
"Tidak mungkin, pak Dokter itu sangat hebat, asalkan nak Kelvin patuh dan makan obat tepat waktu, tangan kecilmu akan segera balik."
Kelvin tersenyum dan mengganguk," Iya, aku akan baik-baik saja."
"Mama, kenapa tanganku belum sembuh?"
__ADS_1
"Mama, apa mereka akan lupa memperbaiki tanganku?"
"Mama, apa bisa tanya ke pak dokter tanganku kapan akan dikembalikan."
"Mama, apa mereka tidak bisa memperbaiki tanganku? Kalo rusak sedikit tidak apa-apa, aku butuh tanganku!"
Ketika dokter dan perawat membantunya memeriksa dan ganti obat, dia selalu akan tahan sakit dan memohon kepada mereka," pak dokter, tolong kalian segera pasangi tanganku, aku harus sekolah lagi."
Akhirnya pada suatu hari, dia bertanya ke bu Nina," Mama, tanggal berapa hari ini?"
"Ada apa?" Bu Nina tau bahwa Kelvin yang baru umur 6 tahun tidak akan paham benar tentang tanggal dan waktu, tidak mengerti kenapa dia bertanya begini.
"Tanggal 13 Juli aku akan sekolah lagi, mama, apa tanggalnya sudah sampai?" Tanya Kelvin dengan nada kecil.
"Belum sampai,nak." Sekarang sudah awal bulan Agustus, tapi bu Nina tetap membohonginya.
Lama-lama kemudian, Kelvin sepertinya sudah mengerti, dia jadi semakin terdiam, tidak lagi seperti dirinya di saat awal yang penuh harapan.
Dia tanya ke bu Nina," Mama, apa tanganku tidak akan kembali lagi?"
Di saat Kelvin tanya seperti itu, bu Nina tidak akan sanggup lagi untuk menahan air mata mengalir di mukanya. Dia akan menjawab dengan tenang," Kelvin, dokter beritahu ke mama bahwa tanganmu itu sudah rusak sekali, tidak bisa diperbaiki lagi."
"Kenapa mereka berbohong?" Tanya Kelvin dengan bergenang air mata," Bagaimana hidupku kalo aku tidak punya tangan?"
Bu Nina mengangguk dan tidak lupa menghiburnya," Kata dokter, kamu bisa memasang tangan robot di kemudian hari,akan......akan sama dengan tanganmu yang asli."
"Tangan robot?" Kelvin membuka matanya besar,"apa akan seperti tangan robot punyanya transformer?"
Saat itu, Kartun transformer lagi banyak ditonton oleh kalangan anak-anak. Kata bu Nina itu menimbulkan harapan buat Kelvin, dirinya yang masih kecil merasakan kalo bisa memasang sepasang tangan robot juga merupakan hal yang menyenangkan.
Bahkan di saat bu Elvina mengajak Barsha menjenguk ke rumah sakit, Kelvin akan berkata dengan bangga, 'di kemudian hari, dia akan memasang sepasang tangan robotik yang serba guna, bisa menembak peluru dan berubah bentuk.'
Barsha yang kecil akan menatap iri kepadanya, mengulurkan tangan gemuk kecilnya untuk mengelus lengan putus dimana terbungkus dengan kain kasa dan bertanya," apa akan dipasang di sini?"
"Iya,benar."
"Sakit tidak kalo dipasangi?"
"Engggg...mungkin akan sedikit sakit." Jawab Kelvin dengan serius," Tapi aku tidak takut!"
__ADS_1
"Kalo begitu, apa aku boleh meminjam tangan robotmu untuk bermain nanti?" Tanya Barsha.
"Boleh sih, cuma kamu harus mengembalikannya kepadaku." Kelvin berkata dengan senang, kemudian menjadi lagi sedikit putus asa," Pak dokter itu tidak mau menepati janjinya, awalnya bilang bisa memperbaiki tanganku, tapi akhirnya bilang tidak bisa. Sebenarnya aku itu lebih suka tangan asliku daripada tangan robot."