
Ketika Barsha dan Kelvin pulang dari sekolah, Kelvin memberitahunya bahwa dia akan pergi ke Jakarta selama liburan sekolah.
"Buat apa ke Jakarta?" Tanya Barsha.
"Aku juga tidak tau, itu kata ayahku." Jawab Kelvin sambil menendang batu yang ada di jalan.
Dalam perjalanan pulang, saat melewati seorang pedagang kaki lima yang lagi panggang jagung, Barsha tertarik dengan bau jagung yang menggiurkan seleranya.
"Mau makan jagung gak?" Tanya Barsha.
Kelvin menggelengkan kepalanya.
"Kalo begitu aku beli satu yang kecil aja." Barsha beranjak ke depan pedagang jagung dan keluarkan uang koin Rp.500, dia berkata,"pak, tolong berikanku sebatang jagung."
Pedagang itu menoleh ke arah Barsha dan berkata," Adik kecil, jagung bapak sini tidak ada yang lima ratus rupiah, adanya seribu aja."
Barsha jadi malu, dia hanya ada uang Rp.500 saja.
"Kalo begitu aku tidak jadi beli." Katanya sambil memasukkan uang koinnya ke dalam saku.
Ketika Barsha mau berbalik pergi, Kelvin memanggilnya," Ndut, ini aku ada uang, kau ambil beli jagung sana."
Barsha berkata dengan kesal,"Aku tidak mau, itu uangmu!"
"Begini aja, satu jagung kita makan barengan." Ucap Kelvin.
Mendengar katanya, Barsha kembali jadi senang, secara mahir dia memasukkan tangannya ke dalam saku Kelvin untuk mengambil uang.
Sambil makan jagung yang enak sambil berjalan, Barsha teringat lagi topik bicara tadi dan tanya ke Kelvin,"Apa papamu bawa kamu ke Jakarta untuk liburan?"
"Tidak tau, mungkin saja."
"Papaku juga pernah ke Jakarta." Ucap Barsha tidak jelas dengan mulut penuh dengan biji-biji jagung,"Kata papa, di Jakarta ada banyak kereta api."
"Papaku juga kata begitu, apa kamu pernah naik kereta api?" Tanya Kelvin.
"Tidak pernah." Barsha menggelengkan kepalanya," Bagaimana denganmu?"
"Aku juga tidak pernah, mungkin kali ini ke Jakarta akan naik kereta api." Ucap Kelvin.
"Saat kamu kembali, beri tahu aku apakah itu menyenangkan atau tidak."
__ADS_1
"Baiklah."
"Hi, apa kamu mau makan jagung?"
Tiba-tiba Barsha teringat jagung lezat di tangannya," Katanya mau makan bareng, kalo kamu tidak makan lagi, hampir kuhabisi jagungnya."
Kelvin melihat jagung di tangan Barsha yang hampir mau habis, dengan sedikit jijik dia berkata," Aku tidak mau."
Barsha melototnya,"Kenapa tidak mau!"
"Aku tidak lapar." Kelvin menoleh kepala ke depan berjalan dengan cepat.
Barsha mana mau membiarkan Kelvin pergi, dengan cepat dia menghampiri dan mengulurkan jagung ke samping mulut Kelvin," Kamu gigit sekali aja, jagungnya manis kok!"
Kelvin berusaha untuk menghindar, tapi akhirnya tetap terpaksa harus makan sekali jagungnya.
"Ok, aku sudah makan!"
"Manis tidak?"
"Manis." Ucap Kelvin dengan pasrah.
Barsha jadi tersenyum manis. Di saat itu, seorang ibu yang bersepeda melewati mereka, menyaksikan kedua anak itu lagi berasyik main, jadi dia berseru," Hi, Kelvin, bahaya kalo main di jalan, segera ajak istrimu pulang."
Tunggu ibu Rai itu bersepeda jauh, Barsha mencibirkan bibirnya dan berkata dengan emosi," Kenapa kamu bicara sama bu Rai, karena dia itu sangat cerewet dan suka bergosip, jadi mamaku amat benci ibu itu."
Kelvin menatapnya tanpa berkata.
Wanita itu memang suka gosip dan cerewet, sebagai contoh, ibu itu merupakan satu-satunya orang yang masih memanggil Barsha sebagai "istri Kelvin".
Bahkan demi itu bu Elvina pernah bertengkar hebat sama bu Rai di kantin pabrik tempat di mana mereka bekerja.Tapi bu Rai tetap tidak berubah sikap.
Saat itu, bu Rai menyindir kepada bu Elvina," Saat Kelvin masih utuh, kalian itu kayak menempel di rumah mereka, bantu antar jemput, bantu jaga anak, memang benar menganggap Kelvin itu anak sendiri. Sedangkan sekarang Kelvin jadi cacat, kalian itu ingin menghindarnya! Apa salahnya kalo aku cuma panggilnya 'istri Kelvin'? Ohhh! Apa Kelvin sekarang tidak pantes sama si gendut rumahmu itu! Jangan lupa, Kelvin menjadi cacat, si gendutmu itu juga harus tanggung jawab!"
Mendengar perkataan itu, bu Elvina langsung naik darah dan ingin memukulnya. Akhirnya ditarik oleh pak Bambang yang datang setelah memahami situasi. Di hadapan para rekan kerja, pak Bambang berjanji," Jika di kelurgaku ada yang benci sama Kelvin, aku rela disambar petir! Pak Andy adalah saudara baikku, aku akan menjaga anaknya baik-baik seperti anakku sebelum beliau balik dari luar negeri! Sedangkan Kelvin sama Barsha, mereka itu masih kecil, tolong kalian jangan berkata yang tidak-tidak tentang hubungan mereka! Jika di saat mereka sudah dewasa, kalo kedua anak saling menyukai, aku pak Bambang menaruh janji di sini, aku pasti tidak akan melarang hubungan mereka!"
"Pak, apa yang bapak bicarakan!" Bu Elvina menariknya dengan marah.
"Stop omong, bikin malu saja!" Bentak pak Bambang sambil melototnya.
Kejadian ini tentu saja tidak diketaui oleh Kelvin dan Barsha. Tapi setelah itu, bu Elvina amat benci sama bu Rai, dia kadang juga akan membicarakan kejahatan bu Rai di depan Barsha, dan memesan ke putrinya untuk jangan mendengarkan omong kosong ibu itu.
__ADS_1
Untuk hal Kelvin, pak Bambang dan bu Elvina bersikap jauh berbeda. Setelah Kelvin penyembuhan setahun di rumah, Kelvin masuk sekolah dasar bersamaan dengan Barsha. Saat itu pak Andy belum balik dari luar negeri, apa yang diperlukan kedua anak itu semua diurus oleh pak Bambang. Dia memesan ke tukang kayu untuk membuat meja khusus buat Kelvin bahkan meminta ke guru bahwa biarkan putrinya menjadi teman sebangku Kelvin dalam kelas.
Ketika itu Kelvin dan Barsha masihkecil, wajar mereka tidak protes. Akhirnya secara tidak terduga mereka menjadi teman sebangku selama 5 tahun di sekolah.
Malam hari, saat keluarga Barsha sedang makan, tiba-tiba bu Elvina bertanya ke Barsha," apa kamu hari ini ketemu dengan bu Rai?"
Barsha mengangguk dan menjawab dengan segera," Aku tidak berkata apa-apa dengannya."
"Kalo lain kali ketemu dia, segera menghindar, jangan menggubrisnya." Lanjut bu Elvina sambil menambah sayur ke piring Barsha," Mama tadi ketemu sama wanita gila itu, dia bilang melihat kamu sama Kelvin bermain di jalanan, kamu menyuapi jagung kepadanya, kelihatan hubungan kalian sangat akrab, apa yang dikatakan ibu itu omong kosong, jangan didengarkan!"
Barsha terdiam.
Pak Bambang sedikit emosi,"Elvina!"
"Apaan sih!" bu Elvina kembali menoleh ke Barsha," Mama tanya ke kamu, apa kamu menyuapi jagung ke Kelvin?"
"Tidak ada." Barsha menggeleng dengan segera," Jagung itu aku makan sendiri."
Bu Elvina melihat putrinya sejenak dan berkata," Kamu sudah besar, harus paham sedikit, Kelvin itu anak laki-laki, biarpun kalian duduk sebangku, tapi kamu juga jangan terlalu dekat dengannya, mengerti?"
"Iya..." Barsha mengangguk-angguk.
"Untungnya kalian berdua tidak lagi satu sekolah setelah tamat SD." Bu Elvina tersenyum setelah memikirkan hal itu.
Barsha terkejut, dia langsung mengangkat kepalanya bertanya," Kenapa?"
Pak Bambang segera menghentikan bu Elvina," Hal yang belum pasti, jangan banyak omong."
"Papa......" Tidak tau kenapa, setelah tau mungkin tidak akan bersekolah sama dengan Kelvin, Barsha merasakan gelisah.
Pak Bambang langsung menghentikan pertanyaannya," Udahlah, lanjut makan! Masih satu setengah tahun baru tamat, buat apa buru-buru."
Hari berikutnya, Barsha melemparkan pertanyaan ke Kelvin, sepertinya dia juga tidak paham," Aku tidak tau, orang tuaku tidak pernah mengatakannya kepadaku."
"Apa kamu akan bersekolah ke Jakarta?" Kelihatan Barsha sangat cemas," Segera kamu pulang ke rumah tanya orang tuamu!"
Lihat rupa Barsha yang gelisah, Kelvin malah tertawa," Bukannya kamu itu terus berkata tidak suka jadi teman sebangkuku, kalo kita tidak lagi di sekolah yang sama, impianmu kan terwujud."
Barsha tercengang, berkedipkan matanya dan berkata," Betul juga...... Kalo begitu aku tidak perlu lagi pergi sekolah bersamamu, tidak perlu lagi membantumu belanja di kantin, tidak perlu lagi membantumu memakai jas hujan, ikat sepatu, pakai tas......"
"Iya betul." Kelvin menatapnya dengan bibir tersenyum," Bukankah itu bagus, kamu selalu bilang aku itu merepotkan."
__ADS_1
"Bagus, bagus......" Lanjut Barsha berkedip mata, tiba-tiba dia jadi galak," Bagus apanya!"