
Di masa Barsha masih kecil memang gemuk, sedangkan Kelvin adalah anak yang sehat dan normal sebelum umur 6 tahun.Tidak hanya sehat, Kelvin juga sangat pintar, tampan dan ceria, amat disenangi oleh orang. Ini berbeda terbalik dengan keadaan Barsha.
Pada satu siang hari September tahun 1993, cuaca tampak panas. Di RS kota S, Barsha terlahir dengan operasi Caesar karena mamanya tidak sanggup melahirkannya secara normal selama satu hari satu malam.
Pak Bambang ayahnya Barsha sempat terkejut melihat bayi perempuannya di pandangan pertama,tampak besar ketimbang bayi disekelilingnya. Wajahnya bulat dan merah tanpa ada keriput, rambutnya banyak nan hitam. Panjang tubuhnya 50cm, beratnya hampir 5 kilo merupakan bayi terberat di RS tahun itu, dijuluki "baby 5 kilo".
Saat pak Bambang menggendong "bayi 5 kilo" nya jalan-jalan di lorongan RS, pak Andy mengajak istri dan anaknya menengok ke RS.
Bu Nina mamanya Kelvin tersenyum melihat bayi gemuk yang ada di dalam gendongan pak Bambang, sambil membujuk anaknya yang baru umur 1 tahun di pelukannya," Kelvin, nak, lihat tuh calon istrimu."
Kelvin mengedipkan sepasang mata besarnya seperti menemukan satu mainan yang menarik saat melihat bayi gemuk yang ada di dalam lampin. Dia terkikik dan mencondongkan tubuh ke depan,
melambaikan kedua tangan kecilnya ke arah Barsha.
Pergerakannya itu sepertinya menakuti Barsha. Bayi 5 kilo itu mulai menangis nyaring di lorongan RS. Kelvin yang tidak tau apa yang terjadi juga ikutan menangis. Jadi, ketenangan di RS langsung dipecahkan oleh tangisan kedua bayi, membuat semua orang pada menolehkan kepala mereka ke arah di mana sumber keributan berada.
Barsha dan Kelvin dibesarkan secara bersamaan, hubungan keluarga mereka juga terjalin semakin akrab. Mereka akan saling menitipkan anak mereka jika di salah satu rumah ada urusan penting. Jadi tidak peduli Kelvin mau atau tidak, dia kadang harus tetap bersama dengan Barsha. Makan,menggambar,melakukan permainan,menonton kartoon, bahkan mandi harus secara bersamaan.
Biarpun Barsha dan Kelvin dibesarkan dengan garpu dan sendot yang sama, tetapi tidak menghalangi pertumbuhan mereka ke arah yang berbeda. Simpel kata, Kelvin semakin tampan dan manis, sedangkan Barsha yang bertubuh besar terus bertambah gemuk.
Anak yang baru berumur 3 tahun sudah menjadi anak yang paling gemuk di lingkungan rumahnya.
Barsha memang kuat makan, satu kali makan bisa menghabiskan dua piring nasi.Makanan paling disukanya adalah daging, dengan lambat laun, semua yang kenalnya tidak lagi memanggilnya Barsha, tapi "si gendut".
Hanya kakek dan nenek Barsha
merasakan bahwa anak kecil kalo kuat makan bukan sesuatu hal yang buruk. Sedangkan orang tua Barsha sangat kepikiran kegemukan Barsha, apalagi dibandingkan dengan Kelvin yang berumur 4 tahun anak tetangga mereka .
Waktu itu, Kelvin sudah masuk TK,dia mewariskan semua kecantikan dari kedua orang tua nya, dia tampak begitu ganteng dan manis. Tidak hanya itu, Kelvin juga sangat pintar dalam hal bernyanyi, menghitung,bergambar... apa yang dibelajarnya di TK dengan paling cepat sudah dia bisa ketimbang teman-teman sekelasnya.
Semua orang pada suka Kelvin, dia bersopan santun dan tidak nakal.
Orang-orang kalo membahas anak dari pak Andy semua menunjukkan
__ADS_1
jempol. Apalagi dibandingkan dengan anak perempuan dari pak Bambang, mereka pada tinggal geleng-geleng kepala.
Barsha males, serakah,suka membuat ulah dan menyusahkan orang ditambah dengan gampang emosi. Karena kegemukannya, orang tua susah mencari baju untuknya.Ini mengakibatkan Barsha jarang memakai baju baru yang cocok apalagi gaun cantik. Jadi, Barsha yang gemuk dan jelek lama laun menjadi anak yang paling kesepian di kompleks perumahan lingkungannya karena tidak ada yang mau berteman dengannya.
Jadi hanya Kelvin masih mau bermain dengan Barsha.Jelas Barsha merasakan senang masih ada yang mau bermain dengannya. Apalagi Kelvin kelihatan lebih dewasa dan tampan.
Sedangkan bagi Kelvin, perasaannya terhadap Barsha tidak begitu akrab. Mamanya selalu memesan,"Nak, Barsha itu adikmu, kau tidak boleh mengabaikannya, harus ajak dia main bersama!"
Karena itu Kelvin kadang merasakan beban, bukan dia tidak mau ajak Barsha bermain bareng, tetapi di lingkungannya tidak ada anak lain yang mau main bersama Barsha.
Jadi, saat Kelvin mendapat titipan orang tua nya untuk ajak Barsha main bareng, pemandangan yang sering muncul adalah, dia memimpin sekelompok anak berusia 4 atau 5 tahun berkejar-kejaran di halaman, hanya Barsha duduk sendirian di atas bebatuan.
Di lingkungan perumahan mereka ada sebuah lapangan kosong, di mana hanya ada beberapa pohon dan sebuah rumah kecil. Di sana tertinggal seorang kakek yang sudah berusia 60 tahun. Kakek itu bernama Abdul. Pak Abdul itu tidak pernah menikah, dan selalu tinggal sendiri. Jadi apa yang dimakannya juga sangat simpel.
Dia akan meletakkan sebuah alat panggang di depan rumahnya. Beberapa sayap dan paha ayam akan dipanggangnya sekalian buat makannya beberapa hari ke depan.
Kadang pak Abdul lagi panggang paha ayam, bau enaknya sering terbawa oleh tiupan angin ke hidung Barsha. Sampai pada suatu hari, Barsha tidak lagi kuat menahan selera makannya, jadi dia menganjakkan kakinya menuju ke rumah kecil pak Abdul. Barsha terus menatap paha ayam yang dipanggang pak Abdul sampai keluar air liur.
Barsha nampak begitu gembira, sepasang tangan gemuknya memegang bungkusan ayam dengan hati-hati dan berjalan pelan-pelan balik ke tempat di mana biasanya dia duduk untuk menunggu Kelvin bermain.
Tingkah lakunya yang aneh berhasil menarik perhatian dua anak yang berumur 6 dan 7 tahun. Mereka itu bernama Aldo dan Dean. Mereka segera memampiri di sisi Barsha, dengan cepat mereka memahami kalo di dalam bungkusan koran itu ada paha ayam yang lezat.
Kedua anak cowok itu juga tidak bisa tahan serakah mereka terhadap paha ayam. Aldo berkata," Gendut, apa boleh paha itu kau kasih ke kakak ya."
Barsha menatap Aldo tanpa berkata dan memeluk bungkusan ayamnya semakin erat.
Dean memberikan topeng mainannya kepada Barsha," Topengku ini aku kasih kau pinjam main sebentar, jadi berikan paha itu pada ku aja."
Barsha tetap mengeleng-geleng kepalanya.
Kalo tidak bisa dengan dibujuk,
Aldo mulai menakuti Barsha," Hi gendut, cepat kau kasih paha ayam itu ke aku, kalo tidak, aku akan memberitahu orang tua mu bahwa kau mencuri paha ayam kakek Abdul!"
__ADS_1
Barsha jadi gelisah dan berteriak," Aku tidak mencuri!"
Dean ikut meringis dan berteriak," Pasti kau yang mencuri paha kek Abdul."
Dia sama Aldo berlagak goyang pantat mereka di depan Barsha dan mulai nyanyikan ejekan mereka," Barsha si gendut, mukanya bulat, pantatnya gede, jalannya kayak bebek..."
Dengar ejekan mereka,Barsha hanya bisa melindungi paha ayam nya dengan tangan dan melotot tajam ke mereka.
Habis mengejek, Aldo berlagak jalan kayak bebek di depan Barsha.
Melihat lagak Aldo, anak-anak di sekitar pada ikut ketawa.
Ahkirnya Barsha menangis karena tidak sanggup dipermalukan. Dia sambil menyeka air matanya dan bersiap untuk pulang ke rumah.
Tapi Aldo sama Dean mana mau membiarkan Barsha pergi begitu saja, mereka mengelilingi Barsha dan berniat untuk merebut paha yang ada di tangannya. Barsha tidak lagi menahan emosinya dan mulai bertarung dengan mereka.
Kelvin melihat keributan itu saat dia balik dari halaman luar dengan beberapa anak yang mengikutinya.
Dia langsung membuang mainan pistol kesayangannya dan bergegas ke sisi Barsha untuk mendorong Aldo yang lagi menarik rambutnya.
Aldo dan Dean mana mau mempedulikan Kelvin yang baru umur 5 tahun, dia berani bantu Barsha, pukul aja sekalian!
Dua anak TK mana adalah tandingan dua anak SD, paha ayam yang di tangan Barsha akhirnya berhasil direbut oleh mereka dan lari.
Tangkisan Barsha semakin nyaring setelah tau paha ayam nya hilang direbut sama orang.
Kelvin melihat baju dirinya yang sudah robek, dan rambut Barsha yang berantakan akhirnya mengulurkan tangan ke Barsha dan berkata dengan lembut," Ndut, udahlah jangan nangis lagi, sini kakajak pulang."
Mendengar kata Kelvin,Barsha berdiri dengan menangis beriba-iba, sambil memegang tangan Kelvin dengan erat.
Dalam ingatan Barsha, ini adalah salah satu dari sedikit pengalaman di mana dia dan Kelvin bergandengan tangan. Sebagian besar waktu, ketika dia berinisiatif untuk menarik tangannya, Kelvin akan menghindar dan membuang pegangannya. Kelvin yang di saat itu kelihatan memang sedikit sombong dan kalem, karena dia disukai oleh banyak gadis kecil di taman kanak-kanak. Dia bersinar seperti seorang pangeran kecil di mana aja dia berada.
Hanya aja di saat itu mereka tidak berpikir di mana ketika Kelvin ingin mengandeng tangannya, hanya tinggal ketidakdayaan yang abadi.
__ADS_1