
Sambil berbicara, Barsha menangis, air mata jatuh satu per satu, "Pak Cakra juga mengatakan bahwa aku bisa masuk kelas cepat karena aku satu meja denganmu. Awalnya, seharusnya aku dibagikan ke kelas lambat. Kelvin, teman sekelas cewek sekarang membicarakan banyak hal di kelas, sedangkan aku tidak bisa terlibat dalam percakapan, dan teman sekelas cowok selalu menertawakan hubungan kita. Aku sangat benci itu. Sungguh, aku membencinya. Kelvin, mengapa aku harus selalu memikirkanmu ketika aku melakukan sesuatu? Sudah enam tahun lebih, sudah sangat lama. Sekarang kamu sudah baik-baik saja dengan kakimu, dan kenapa kamu itu harus tetap memaksaku untuk duduk sebangku denganmu? "
Saat Barsha berbicara, mata Kelvin yang jernih berangsur-angsur menjadi gelap. Dia menatapnya dalam-dalam, bibirnya terkatup rapat.
Keduanya terdiam bersama, dan hanya suara isak tangis Barsha yang tersisa di ruangan itu. Setelah beberapa saat, Kelvin berkata: "Lalu ... Ndut, jika kamu sudah berganti tempat duduk, apa kita masih bisa pergi ke sekolah bersama?"
"Bisakah kamu naik sepeda sendiri?" Barsha berkata dengan mata merah dan bengkak, "Jika kamu bisa bersepeda sendiri, sebaiknya kita tidak pergi ke sekolah bersama. Aku benci mereka berbicara dengan kita."
Kelvin menggertakkan giginya dengan erat, dan gusinya sakit. Dia bertanya lagi, "Lalu semester depan, pada malam hari, maukah kamu datang ke rumahku untuk mengerjakan PR?"
Barsha mendengus dan menggelengkan kepalanya perlahan.
Kelvin mengerutkan kening, "Lalu bagaimana jika nilai kamu turun lagi? Aku berjanji kemaren menjamin kamu tidak akan lagi mendapatkan nilai yang lebih buruk daripada di ujian tengah semester."
Barsha berkata dengan lesu, "Aku akan rajin belajar sendiri. Kelvin, kamu bukan seorang guru. Aku mengerjakan ujian dengan baik atau buruk itu bukan urusanmu."
Mendengar kata-katanya, Kelvin tercengang.
Barsha masih menunduk dan memeluk lututnya. Kelvin berdiri dan berkata dengan pasrah, "Baik, kalo begitu aku balik dulu."
Dia berjalan ke pintu kamar Barsha, mengangkat kakinya untuk membuka pintu, menurunkan jari kakinya setelah menyentuh gagang pintu, dan menoleh untuk menatap Barsha sekali lagi.
Postur Barsha tidak berubah, Kelvin tetap menatapnya seketika, kedua orang itu tidak bergerak seperti dua patung. Setelah waktu yang lama, Kelvin menoleh, mengangkat kakinya lagi dan membuka tutup pintu, dan berjalan keluar perlahan.
Barsha mendengar suara dia menyapa ke ibunya untuk pulang, dia mengganti sepatu di pintu, kursi menggosok lantai, membuat suara berderak, dan kemudian pintu dibuka dan ditutup lagi, lalu rumah langsung menjadi sunyi.
__ADS_1
Barsha mencondongkan tubuh ke depan dan jatuh di tempat tidur.Setelah beberapa saat, dia tidak bisa menahan tangis lagi.
Selama liburan sekolah tahun ini, Barsha dan Kelvin tidak bermain bersama. Kedua keluarga hanya pernah makan malam bersama sekali saja. Dia bertemu dengannya dan hanya mengatakan sesuatu yang biasa saja, mengobrol tentang kartun dan PR. Barsha merasa bahwa sikap Kelvin sangat sopan, dan dia sepertinya tidak bisa menjadi liar di depannya seperti dulu.
Setelah semester baru dimulai, Guru Cakra benar-benar mengatur posisi duduk Barsha. Untuk menutupi itu, dia membuat penyesuaian besar-besaran di seluruh kelas. Kali ini, Barsha dimasukkan dalam barisan penyesuaian, dan para siswa sangat terkejut, tetapi Barsha dan Kelvin tetap diam.
Barsha akhirnya dipindahkan ke baris kedua dari kelompok besar di dinding, posisinya cukup jauh dengan Kelvin. Ketika Barsha sedang mengemasi tas sekolahnya, Kelvin menundukkan kepalanya dan tidak mengatakan apa-apa.
Akhirnya, dia berdiri dengan tas sekolah di pelukannya dan bertanya dengan lembut kepada Kelvin, "Apakah kamu tahu siapa teman sebangkumu yang baru?"
Kelvin tidak mendongak, tetapi memberinya jawaban, "Aku memberi tahu Guru Cakra, Aku tidak mau lagi teman sebangku, Aku ingin duduk sendiri."
Barsha "......"
Barsha memiliki teman sebangku baru, yaitu seorang anak laki-laki bernama Haris. Dia gemuk dan suka senyum, kelihatannya seperti Buddha Maitreya, dan dia sangat mudah bergaul. Meja depannya adalah Jarvis dan Adelia, dan meja belakangnya adalah Friska dan Daniel.
Sejak belajar, Barsha tidak pernah duduk di depan kelas, pada awalnya dia merasa sedikit tidak nyaman, tetapi setelah sekian lama, dia menemukan bahwa perasaan berada di antara siswa sangat baik.
Terutama, dia masih duduk di depan Daniel, dan dia bisa berbicara dengannya saat jam istirahat kelas, dan setiap kali dia melihat Daniel, hatinya akan berdebar keras seperti ada seekor rusa berlari dalam hati.
Sedangkan Kelvin duduk sendirian di belakang kelas.
Setelah penyesuaian kelas setelah ujian akhir semester lalu, masih ada 47 orang di Kelas 1, dan 46 di antaranya duduk berpasangan.Hanya Kelvin yang duduk sendiri.
Dia menjadi lebih diam, pergi dan pulang sekolah sendirian, hanya sesekali berbicara dengan Irfan dan memintanya bantu untuk pergi ke kamar mandi.
__ADS_1
Kelvin tidak seperti ini sebelumnya.
Ketika dia SD, dia banyak berbicara, dan dia juga aktif mengikuti kegiatan di kelas. Ketika pak Bambang dan bu Elvina mengobrol, mereka akan berbicara tentang Kelvin, mengatakan bahwa anak ini benar-benar tidak mudah, dengan kedua tangannya hilang tetap tidak menjadi minder dan sensitif, bahkan masih bisa tertawa dan bersenang dengan Barsha setiap hari.
Bagaimana dengan sekarang?
Barsha duduk di depan. Untuk sebagian besar waktu, dia tidak bisa melihat Kelvin lagi. Bahkan saat pelajaran kelas selesai, dia tidak bisa melihatnya secara terang-terangan, dia hanya bisa melihatnya secara diam-diam ketika Kelvin keluar masuk kelas.
Barsha selalu masuk dan keluar kelas melalui pintu belakang, karena dengan begitu dia dapat melihat Kelvin yang duduk di belakang.
Berkali-kali, Kelvin hanya duduk di kursi sambil melengkungkan tubuh sambil mengerjakan soal-soal dengan pulpen yang dijepit dengan kaki.
Hanya sekali, ketika Barsha hendak memasuki ruang kelas dari pintu belakang, dia melihat Kelvin duduk tegak bersandar di kursi, dengan kaki di lantai, lengannya yang kempes tergantung di sampingnya, menoleh dan melihat ke luar jendela.
Teman di kelas membuat banyak keributan, tapi dia tidak menyadari semua itu, hanya melihat ke luar jendela secara diam-diam.
Saat itu cuacanya sangat bagus. Langit biru dan cerah, dengan hanya sedikit awan yang mengapung di atas sana, Barsha tiba-tiba teringat ketika dia sedang duduk di dekat jendela sana, angin bertiup ke wajahnya, sangat segar.
Barsha tahu bahwa Kelvin dulu jarang melihat keluar jendela seperti ini, karena jika tatapannya mengarah ke sana, Barsha akan mengira dia sedang menatapnya. Jadi dia akan menyodok pinggang Kelvin dengan pena, dan berkata dengan keras, "Apa yang kamu lihat! Putar kepalamu sana!"
Sekarang, kursi di dekat jendela di sampingnya kosong, dan tidak ada yang bisa menghalangi pandangannya lagi ketika dia ingin melihat keluar jendela. Saat ini Barsha hanya dapat melihat belakang kepala Kelvin jadi dia tidak bisa tau apa ekspresi yang ada di wajahnya.
Pada saat ini, Kelvin menoleh tiba-tiba, dan Barsha tidak punya waktu untuk menarik pandangannya,hanya bisa menatapnya dengan panik.
Kelvin tidak menunjukkan rasa malu di wajahnya. Matanya setenang air. Setelah melihat Barsha, dia melepas sepatunya lagi, meletakkan kakinya di atas meja, dan menundukkan kepalanya dalam-dalam.
__ADS_1