Mr Penguin / Kekasihku Sangat Istimewa

Mr Penguin / Kekasihku Sangat Istimewa
Bab 6


__ADS_3

Barsha duduk di meja, memegang dagunya sambil memikirkan kata-kata yang diucapkan Kelvin dalam perjalanan ke sekolah tadi bahwa ayahnya merasakan Kelvin itu sedikit memalukan karena tidak punya tangan.


Kata-kata itu menusuk hati Barsha bagaikan jarum. Meskipun dia sudah terbiasa dengan penampilan dan perilaku Kelvin yang istimewa. Tapi tidak menyangkal bahwa seketika Kelvin meninggalkan tempat biasanya seperti sekolah atau rumah ke tempat yang umum, dia bakal seratus persen menjadi titik fokus orang lain.


Apakah mungkin gara-gara ini, jadi paman Andy tidak pernah ajak Kelvin main keluar?


Sedangkan Kelvin tidak takut untuk keluar rumah. Dia akan mengikuti setiap kegiatan yang diadakan oleh sekolah. Dia juga pernah pergi ke perpustakaan dan taman sama Barsha. Cuma setiap kali selalu akan ada orang yang tidak dikenal mengajak omong sama mereka dengan penasaran dan simpati, tanya apa yang terjadi dengan tangan Kelvin.


Barsha merasa sangat kesal dengan perbuatan orang-orang itu. Bahkan ada ibu-ibu minta mau melihat luka amputasi Kelvin. Kalo dihindar oleh Kelvin, ibu itu akan berkata 'kasihan sekali anak ini'.


Barsha malah heran kalo Kelvin itu tidak pernah kesal sama mereka yang suka tanya-tanya. Dia akan menjawab dengan simpel," diguling sama truk waktu kecil."


"Saat umur berapa?" Orang tanya lagi.


"Umur 6 tahun." Jawab Kelvin.


Setiap kali mendengar jawaban Kelvin, perasaan Barsha akan menjadi kesal. Dia akan menghampiri Kelvin dan mendorong punggungnya atau menarik lengang kemeja kosongnya untuk bawanya pergi, sambil berseru," ayo cepat jalan,kita akan telat!"


Pada saat itu, Barsha tahu dirinya akan merasakan kesal dengan pertanyaan orang-orang itu, dikarenakan pertanyaan orang-orang itu akan selalu membawa ingatannya kembali ke sore yang gerah itu berulang kali. Tapi apa yang terjadi pada Kelvin adalah sesuatu yang tidak ingin dia ingat seumur hidupnya.


Bagaimana bagusnya jika di dunia ini ada mesin waktu. Kalo terjadi hal buruk, orang akan berpikir umpama waktu itu tidak begitu, apa hal akan menjadi berbeda.


Barsha yang baru berumur 10 tahun kadang juga berpikir begitu. Kalo hari itu, dia tidak menendang bola ke bawah sebuah truk besar, Kelvin yang sekarang ini akan sama dengannya menjadi seorang siswa yang normal. Bahkan dia akan lebih unggul dan tetap merupakan anak kebanggaan pak Andy.


Kalo hari itu bukan Kelvin yang masuk ke bawah truk, apa yang akan terjadi?


Pada musim kemarau tahun 1998,Kelvin udah tamat dari TK. Saat itu dia lagi bersenang-senang dengan hari liburnya. Bu Nina sudah bantu dia menyiapkan peralatan tulis dan tas sekolah baru buatnya untuk persiapan masuk ke sekolah dasar.

__ADS_1


Sedangkan Barsha tetap merupakan seorang gadis kecil yang gemuk yang lagi tunggu masuk TK.


Saat itu juga, pak Andy telah menaik pangkat jadi insinyur dari seorang teknisi, dan dia bahkan mendapatkan sebuah kesempatan belajar keluar negeri selama 1 tahun bersama 2 rekan kerjanya.


Setelah pak Andy keluar negeri, bu Nina yang harus bekerja dan juga mengurus masalah rumah tangga tentu saja jadi sibuk. Jadi selama hari liburan sekolah, dia akan sering menitip Kelvin di rumah Barsha untuk dijaga sekalian oleh kakek dan nenek Barsha.


Setelah kejadian perebutan paha ayam, pertemanan antara Barsha dan Kelvin menjadi lebih akrab. Kelvin tidak berani lagi membiarkan Barsha sendirian. Tidak peduli teman-temannya main apa, dia akan selalu membawa Barsha.


Barsha yang gemuk dan gampang emosi, sering marah kalo kalah dalam permainan, teman setimnya selalu mengeluh tentang itu, tapi Kelvin tidak peduli.


Di saat itu benda seperti AC belum merakyat. Barsha masih ingat siang itu amat panas, dia dan Kelvin tertidur di bawah tiupan kipas. Habis bangun, mereka masing-masing menghabiskan dua potong semangka. Lalu, Kelvin sudah tidak betah lagi diam di rumah, dia keluar mengajak beberapa anak pergi main. Itu adalah kegiatan mereka setiap hari, kakek dan nenek Barsha juga tidak banyak melarang, mereka hanya memesan kepada Kelvin untuk menjaga Barsha dengan baik.


Setelah mereka bermain sebentar di lingkungan rumah mereka, Kelvin memerintahkan untuk pindah medan perang. 6 orang anak kecil itu langsung berlari menuju ke lapangan pabrik logam yang tidak jauh dari perumahan mereka.


Mereka itu rata-rata adalah anak dari pegawai pabrik,hampir setiap hari mereka bermain di sana, jadi satpam yang ada di sana juga tidak banyak melarang mereka bermain di area pabrik, karena selama ini belum ada kejadian apa-apa.


Waktu anak-anak lagi bermain petak umpet, datang seorang anak umur 7 tahun yang bernama Farid memamerkan sepak bola barunya," Kalian lihat ini, bola baru loh, dibeli sama papa ku karena aku ulang tahun kemaren!"


"Wow, bagus ya." Seru salah satu anak," Pasti mahal ya?"


"Tentu saja mahal." Jawab Farid dengan lagak sombong.


"Ayo kita main tendang-tendangan yuk." Saran anak-anak kepada Farid.


"Ini..." Farid jadi ragu," Boleh sih, cuma jangan buat bola baru ku jadi kotor ya."


Jadi mereka langsung membagikan diri mereka jadi dua tim dan membuat gawang simpel pakai batu bata yang ada di pabrik.

__ADS_1


Permainan sepak bola mereka berlanjut dengan seru. Cuma di dalam permainan lagak Barsha yang linglung dan kurang lincah karena gemuk sering ditertawai oleh teman-temannya. Terakhir kali Barsha berniat menendang bola ke gawang, tendangan tidak kena bola, malah bikin dirinya jatuh karena kehilangan keseimbangan. Anak-anak yang menyaksikan tindakan konyolnya langsung tertawa terbahak-bahak.


Mungkin pantatnya sakit karena jatuh ditambah dengan ejekan teman-temannya, Barsha jadi marah. Setelah berdiri dia langsung menendang bola ke arah lain dengan keras sambil berteriak dengan emosi," Bola jelek, males main, aku mau pulang!"


Anak-anak lain pada lagi menyaksikan bola ditendang jauh oleh Barsha bergulir masuk ke bawah sebuah truk besar lagi siap mengangkut bahan logam.


Farid melihat bola kesayangannya tersangkut di bawah truk yang mungkin akan rusak terguling oleh roda gede, dia langsung naik darah dan berteriak ke arah Barsha," Gendut!! Kamu itu menyebalkan! Kalo bolaku rusak, akan aku hajar kamu habis! Cepat kamu sana ambil bola, cepat!!"


Mungkin karena teguran Farid yang cukup menakutkan, Barsha jadi menangis," Tidak mau, tidak mau, aku takut sama truk."


"Itu kesalahanmu, kamu harus bertanggung jawab." Lanjut Farid tidak peduli tangkisan Barsha.


Kelvin yang disamping tidak tega melihat Barsha dimarahi terus, dia memajukan diri dan berkata," Biar aku aja yang bantu mengambil bolanya."


Habis berkata, Kelvin langsung berlari ke arah truk itu. Truk tampak besar dan tinggi ketimbang tubuhnya yang baru umur 6 tahun. Bola Farid tersangkut cukup dalam di bawah truk. Kelvin sudah mencoba mengulurkan kakinya tapi jangkauannya tetap jauh dari posisi bola.


'Kalo ada tongkat baru bisa ambil bola', pikir Kelvin. Setelah dia melihat keliling, tidak ketemu benda yang diinginkannya.


Setelah berpikir beberapa saat, anak-anak lain juga pada menghampiri truk.


Farid melihat Kelvin sudah mencoba beberapa kali tetap belum bisa mengeluarkan bolanya dari bawah truk, mulai jadi tidak sabar,"Sebelum truk jalan, cepatan kamu masuk ke bawah sana ambil bolanya! Awas kalian kalo bolaku meledak!"


"Ayo cepatan, ayo cepatan...!" Anak-anak lain pada ikut berteriak.


"Sudahlah." Kelvin mencoba memberanikan diri karena desakan anak-anak lain. Dia menurunkan posisi badannya tempel di tanah, dengan merayap dia menyelinap ke bawah truk.


Akhirnya dapat bola, Kelvin tersenyum dan siap mengeluarkan dirinya dari bawah benda raksasa di atasnya. Tapi baru dia mau merayap ke depan pakai dua tangan, musibah terjadi! Tiba-tiba truk itu bergerak maju,dan Kelvin sudah terlambat menarik sepasang tangannya. Terdengar teriakan anak menyakitkan meraung dilapangan pabrik yang luas.

__ADS_1


"Stop...pak...stop..." Mendengarkan teriakan anak-anak lain, pelan-pelan Kelvin kehilangan kesadarannya karena sakit.


__ADS_2