Mutiara Yang Terlupakan

Mutiara Yang Terlupakan
taman bukit atas


__ADS_3

setelah itu giliran bu Mala yang berbicara " bu Nyai apakah Cantik sudah silaturahmi ke sini" ucap bu Mala kepada bu Nyai.


"belum bu mereka belum ke sini mungkin besok mereka baru akan ke sini" ucap umi Fatimah.


Di sisi lain


Cantik dan pak Andi sudah sekitar 3 hari di rumah kakek Sapto dan nenek Sumi, keseharian mereka kadang mereka pergi ke gunung dan kadang juga mereka pergi ke taman stroberi.


di daerah rumah kakek Sapto dan nenek Sumi adalah kaki gunung dan untuk mencapai gunung atau daerah pendakian adalah hal yang mudah karena jaraknya yang tidak begitu jauh kira kira sekitar setengah jam jika jalan kaki, di sana kebanyakan jalan kaki karena jalan yang berliku-liku dan juga licin untuk di naiki dengan kendaraan kecuali kendaraan seperti motor trill bisa melewatinya.


di sana ada juga kebun stroberi yang menjadi tempat wisata lebih tepatnya karena pemandangan indah dari perkebunan stroberi, juga banyak yang dari luar kota datang ke kebun stroberi dengan anak istrinya. sedangkan para anak muda lebih senang mendaki gunung karena semangat jiwa membara untuk menambah banyak pengalaman.


selain kebun stroberi dan jalur pendakian yang menjadi tempat favorit di sana juga terdapat sebuah taman dengan ornamen yang beraneka macam, taman itu di namakan taman atas bukit karena letaknya yang ada salah satu bukit walaupun ketinggian termasuk paling rendah dari yang lainnya salah satunya adalah sebuah rumah batu yang di buat dari pahatan yang di buat oleh para remaja di sana.


para remaja di sana dengan bahan seadanya tetapi kreativitas mereka yang sangat tinggi dam bisa merubah daerah yang subur yang awalnya adalah sebuah padang rumput liar berlukar sekarang menjadi tempat wisata.


di pagi hari Cantik mendatangi kakek dan neneknya yang sedang di belakang rumah memandangi pemandangan alam gunung di ikuti suasana yang asri.


"Kakek, nenek aku ingin ke taman atas bukit" ucap Cantik dengan penuh semangat.


Kakek Sapto dan nenek Sumi yang melihat Cantik ingin ke sana mereka saling memandang dan menganggukan karena tak ingin mengecewakan cucunya mengiyakan.

__ADS_1


Cantik yang tahu bahwa kakek dan neneknya mengizinkannya di dalam hati ia sangat gembira.


mereka akhirnya pergi setelah mereka bersiap 15 menit, mereka pergi bertiga aja karena pak Andi sedang pergi reuni dengan temannya di desa, walaupun mereka lama tak bertemu tetapi mereka saling memberi kabar.


Cantik dan kakek, neneknya berangkat dengan jalan kaki karena letak taman bukit atas tidak jauh dari tempat tinggal mereka.


setelah setengah jam berjalan mereka akhirnya sampai di sana.


di sana mereka di suguhi pemandangan yang indah dan banyak pengunjung yang berdatangan selain itu banyak juga warga sekitar yang datang karena harga masuk ke taman yang terjangkau menjadikan taman itu banyak di kunjungi oleh banyak orang.


"Subhanallah indah sekali, jadi ke ingat waktu di pondok" gumam Cantik.


kakek Sapto dan nenek Sumi yang melihat cucunya senang dengan pemandangannya tersenyum karena baru kali ini ia melihat cucunya yang dari kecil tidak ia bertemu dan saat dewasa ia bertemu kembali tetapi paras yang sangat menawan dari anak anak seusianya.


"waduhh... ngga nyesel aku ke sini aku melihat bidadari" ucap seorang laki-laki yang berumur sekitar 17 tahun dengan mata yang tanpa terkedip karena terpana dengan wajahnya Cantik.


"Iya... aku juga untung kamu ngajak aku ke sini kalau ngga akan rugi ini" ucap teman sebelahnya laki laki itu.


selain para anak-anak muda ada juga para keluarga yang menyanjung parasnya Cantik dan ada juga yang tidak suka melihat Cantik karena mereka tersaingi terutama, seorang anak perempuan yang umurnya sekitaran 14 thn.


"Cih... ngga ada apa- apanya di bandingkan diriku ini paling di pakai serum atau apa" ucap perempuan itu yang tak lain Kinan anak dari pak Doni dan bu Sela di dalam hatinya, sifatnya tak jauh dari ibunya yang terlalu meremehkan orang.

__ADS_1


Cantik dan kakek, neneknya berjalan menuju sebuah ornamen dari batu, selain itu ada juga yang dari kayu maupun dari pohon- pohon yang pangkas menjadi sebuah rumah.


Cantik melihat itu sangat senang sekali, tetapi yang tidak membuatnya senang adalah ia tak memiliki teman di sampingnya, dulu sewaktu di pondok Ning Alma selalu menjadi temannya di segala sesuatu kondisi tetapi sekarang ia sendiri walaupun ada kakek dan neneknya ia merasa kesepian karena tak ada teman sebayanya.


karena banyaknya pengunjung yang datang ke taman atas bukit menjadikan banyak juga yang mencari rezeki dengan cara menjadi fotografer di sana dan di sana juga mereka langsung mencetak fotonya dan nantinya foto itu bisa di beli oleh pengunjung yang di foto.


salah satu fotografer melihat Cantik sedang berada di ornamen kayu menghampirinya.


"ma'af sebelumnya kakek, nenek dan adek kalau boleh aku boleh ngga memfoto kalian bersama dengan latar belakang ornamen kayu ini, nantinya kalau itu kakek, nenek atau adek berminat dengan fotonya bisa membelinya setelah di cetak atau tidak membelinya tak apa" ucap fotografer itu.


kakek Sapto dan nenek Sumi yang mendengar itu memandang ke Cantik dan Cantik hanya menganggukkan saja.


setelah itu mereka berfoto bersama dengan gaya apa pun terlihat di saat berfoto ekspresi dari mereka menampilkan kebahagiaan yang tiada arti.


setelah selesai fotografer itu melihat hasilnya dan terpana


" benar benar bidadari ini, emang ada kembang desa yang bisa mengungguli para artis" ucap fotografer itu di dalam hatinya, setelah itu ia melihatkan hasil fotonya itu dan memberitahukan bahwa jika ingin membeli hasil cetakannya ada di sana di sudut tempat dekat ornamen dari pepohonan.


setelah itu Cantik dan kakek, neneknya melanjutkan perjalanan ke setiap ornamen dan yang lainnya.


setelah itu Cantik mengajak kakek dan neneknya untuk membeli hasil cetakan foto mereka, Cantik ingin memperlihatkannya kepada ayahnya.

__ADS_1


setelah itu mereka pulang ke rumah Cantik pulang dengan perasaan yang senang, walaupun ia juga merasa agak kesepian.


__ADS_2