
mereka berjalan bersama di samping kanan ada ning Alma dan Cantik dan di samping kiri ada Lisa, Sulis dan Ulfa.
mereka berjalan menyusuri jalan turun karena mereka akan melewati sebuah desa untuk sampai tujuan, sebelum mereka melewati desa mereka melewati jembatan, di saat melewati jembatan mereka juga melihat pemandangan sungai yang indah karena masih pedesaan dan alami warna sungainya juga masih jernih yaitu biru ke beningan dan juga terlihat banyak ikannya karena pancaran dari sinar matahari.
di sana juga banyak orang desa yang sebagian bekerja sampingan seperti memancing, walaupun hasilnya tidak begitu banyak tetapi cukup makan keluarganya.
di desa memang biaya hidupnya tidak terlalu mahal seperti di kota, di desa mereka makan seadanya dan terkadang mereka melakukan barter dengan yang mereka punya.
tak lama akhirnya mereka sampai di pegunungan di sana ada sebuah tempat yang biasa di jadikan oleh Cantik dan Ning Alma untuk mereka mengisi waktu luang saat pondok libur atau saat hari minggu.
di tempat itu juga banyak warga desa yang sedang bekerja, terkadang mereka dan para warga juga saling bertukar sapa karena warga di sana mengenal Abah Kholil jadi kebanyakan dari mereka menaruh hormat kepada ning Alma karena mereka tahu bahwa ning Alma adalah putrinya Abah Kholil.
di sana mereka berbincang-bincang sekarang Lisa, Sulis dan Ulfa sudah bisa akrab dan mereka juga sudah meminta ma'af kepada Cantik soal mereka yang pernah menyakiti hatinya Cantik.
mereka berbincang tentang pengalaman mereka terkadang mereka juga bersendau gurau. saat matahari mulai di atas mereka, akhirnya turun dari pegunungan itu walaupun di sana dingin tidak menutupi kemungkinan untuk merasakan panas, mereka turun untuk melaksanakan sholat dhuhur di masjid desa di bawah pegunungan.
tak lama mereka melihat masjid dan mereka segera berwudhu untuk sholat, ning Alma yang di tunjuk oleh Cantik, Lisa, Sulis dan Ulfa untuk menjadi imam, karena mereka sholat setelah sholat jama'ah dhuhur telah selesai di laksanakan.
setelah selesai sholat mereka melanjutkan perjalanan untuk balik ke pesantren, sebelum mereka balik ke pesantren mereka ingin pergi ke pasar di dekat, desa yang mereka lewati, sesampainya di sana mereka membeli banyak barang dari makanan hingga aksesoris seperti gelang koka ( gelang yang terbuat dari kayu pilihan terbaik) walaupun pasar itu tidak begitu besar tetapi barang apa yang di butuhkan pasti ada di sana.
setelah selesai mereka akhirnya pulang, sesampainya mereka akhirnya berpisah Cantik dan ning Alma pulang ke rumah Abah Kholil sedangkan Lisa, Sulis, dan Ulfa mereka kembali di pondok.
"di mana mereka ya" gumam seorang wanita paruh baya yang tak lain adalah Umi Fatimah
tak lama terdengar suara ketawa dari dua orang di pintu belakang, umi Fatimah yang mendengar itu membukakan pintu dan melihat dua anak dengan paras wajah yang menawan yang membuat agak sulit untuk membedakan keduanya mereka adalah Cantik dan ning Alma.
"Umi" ucap mereka berdua dengan agak gugup karena takut di marahi karena mereka pergi tanpa pamit.
umi Fatimah yang awalnya mau marah ia menghela nafas, karena ia sadar masih bulan Syawal tak baik untuk marah dan ia akhirnya tersenyum.
Ning Alma dan Cantik yang melihat itu menghela nafas takut di marahi, walaupun marahnya Umi Fatimah dengan nada lembut tetapi tidak mengurangi ketegasannya yang membuat banyak santri putri yang takut kepada umi Fatimah.
"Umi ma'af saya pergi dengan Cantik tanpa pamit" ucap ning Alma dengan nada menyesal, begitupun sebaliknya Cantik juga berkata seperti itu.
Umi Fatimah yang mendengar itu hanya tersenyum ia tahu apa yang mereka utarakan lewat wajah mereka yang agak merah dan matanya yang sudah agak berkaca-kaca.
setelah itu akhirnya umi Fatimah memaafkan mereka dan mereka masuk, di sana mereka sudah di sambut oleh Abah Kholil dan pak Andi yang sedang di meja makan.
"ayo kalian duduk sini sekalian kita makan bersama" ucap Abah Kholil dengan melambaikan tangan kepada ning Alma dan Cantik.
Ning Alma dan Cantik yang melihat itu langsung menghampiri mereka dan langsung mengambil tempat duduk Cantik duduk di sebelah ayahnya. sedangkan ning Alma di sebelahnya Abah Kholil. tak lama Umi Fatimah datang dengan membawa minuman sirup.
__ADS_1
"ayo kita makan, nanti minumya yang segar ini" ucap Umi Fatimah dan segera mereka mengambil nasi dan makanan.
setelah itu tak lama mereka selesai dan Abah Kholil sudah beranjak dari tempat duduknya di ikuti oleh pak Andi,sedangkan umi Fatimah, ning Alma dan Cantik membereskan piring bekas makanan.
setelah selesai membantu umi Fatimah, Cantik menyusul ayahnya yang sedang duduk bersama Abah Kholil, di sana pak Andi sedang berbicara kepada Abah Kholil seputar tentang agama dan lain lain.
setelah itu Cantik duduk di samping ayahnya dan berkata " ayah ayo kita pulang" ucap Cantik
"ya nanti kita pulang, kita pamit dulu ya ke Abah Kholil dan sekeluarganya" ucap pak Andi, sementara itu Abah Kholil sedang beranjak dari pendopo ke dalam rumah untuk menyeduh kopi.
tak lama Abah Kholil kembali bersama dengan umi Fatimah dan ning Alma.
di saat bersamaan pak Andi berbicara
"ma'af sebelumnya Kyai , saya mohon pamit pulang" ucap pak Andi dengan nada sopan.
Abah Kholil yang mendengar itu berdehem
"apakah ngga bisa lama lagi" ucap Abah Kholil di ikuti umi Fatimah dan ning Alma.
"ma'af Kyai saya masih ada urusan pekerjaan di kota Kultur dan Cantik juga ikut saya ke sana" ucap pak Andi dengan menangkupkan tangannya, sementara pak Ali dan bu Mala sudah pulang dulu karena ada urusan di desa jadi mereka tak bisa lebih lama menemani pak Andi di pesantren apalagi Nisa sekarang sudah bisa beradaptasi di pesantren.
sebenarnya di hati mereka sangat sedih walau bagaimanapun mereka sudah menganggap Cantik seperti anaknya sendiri.
pak Andi dan Cantik sudah masuk ke dalam mobil dan mereka melambaikan tangan terutama Cantik kepada ning Alma yang sudah seperti saudaranya sendiri.
Abah Kholil, Umi Fatimah dan ning Alma sudah tak melihat mobil pak Andi berbalik masuk ke dalam pesantren dan memasuki rumah di dalam hati mereka mendoakan semoga Cantik dan ayahnya selamat sampai tujuan.
di perjalanan pak Andi menyetir dengan kecepatan sedang karena ia tidak ingin terburu-buru, sedangkan Cantik sudah kelelahan dan terlelap tidur, pak Andi yang melihat itu hanya tersenyum ia tahu anaknya kecapean karena seharian pergi bersama Ning Alma.
setelah 3 jam menyetir pak Andi akhirnya memutuskan berhenti dan Cantik juga sudah terbangun dari tidurnya, ia juga sudah merasa sudah segar.
pak Andi dan Cantik turun untuk mencari rumah makan sekaligus sholat ashar karena sudah memasuki waktu sholat ashar.
mereka memutuskan sholat ashar terlebih dahulu setelah selesai, mereka langsung menuju rumah makan yang berada di ujung timur. tempatnya bagus sederhana dan lumayan ramai datang, mereka memasuki rumah makan dan di sana mereka langsung mengambil tempat duduk dan tak lama pelayan datang menanyakan mau makan apa.
setelah selesai memesan mereka menunggu sambil melihat pemandangan di belakang rumah makan, karena terdapat seperti peternakan berbagai burung.
"Cantik, besok ayah akan mendaftarkanmu di SMA 1 Kultur" ucap pak Andi dengan memandang putrinya ia tahu nantinya di sekolah putrinya akan menjadi primadona karena parasnya yang sangat menawan dan membuat lawan maupun kawan terpana.
Cantik yang mendengar perkataan ayahnya berkata dengan sungguh-sungguh
__ADS_1
"ayah insyaallah Cantik tidak mengecewakan ayah, Cantik akan berusaha untuk yang terbaik" ucap Cantik.
setelah perbincangan ayah dan anak pelayan datang dengan membawa makanan.
"silahkan di nikmati, semoga anda senang" ucap pelayan
"ya terima kasih" ucap pak Andi.
setelah itu mereka segera menyantap tak lupa mereka membaca do'a terlebih dahulu.
setelah selesai makan mereka membayar makanan itu, mereka melenggang keluar dari rumah makan dan melanjutkan perjalanan sebelum melanjutkan perjalanan Cantik melihat pengemis dan anaknya yang sedang berjalan di dekatnya.
Cantik yang mempunyai sedikit uang ia langsung menghampirinya
"Bu ini ada sedikit rezeki semoga bermanfaat" ucap Cantik dengan menyodorkan uang kepada pengemis itu
pengemis yang menerima itu tersedih karena ia tak menyangka ada seorang yang begitu cantik menghampirinya dan apalagi parasnya yang seperti bidadari tetap saja rendah hati mau memberikan sedikit rezekinya
"terima kasih nak, semoga Allah membalas apa yang engkau berikan dan engkau nantinya akan menjadi anak yang bermanfaat bagi sesamanya" ucap ibu pengemis itu dengan memeluk anaknya dengan menangis karena uang yang Cantik kasih itu lebih dari cukup untuk makan seminggu.
pak Andi yang melihat anaknya yang memberikan sedikit rezekinya ia bergumam
"bu, anak kita sudah besar, semoga ia menjadi orang yang bermanfaat bagi sesama"
tak lama setelah Cantik selesai memberikan uang, Cantik menghampiri ayahnya yang menunggu di depan mobil ia tersenyum ke arahnya
"ayah ayo kita pulang nanti kita sampai di apartemen ayah" ucap Cantik
setelah itu mereka berdua melanjutkan perjalanan, waktu terus berjalan dan di perjalanan itu Cantik terkadang tertidur atau ia bermain ponselnya melihat video atau membaca novel
tak lama mereka sampai di perumahan, di sana ada satpam yang berjaga mereka mengenali pak Andi walaupun pak Andi jarang kelihatan karena pulang kampung tetapi pak Andi setiap pulang kerja pasti membawakan makanan untuk mereka jadi mereka mengenalinya dan mempersilahkan pak Andi masuk ke dalam area perumahan tak lama mereka sampai.
sesampainya di sana Cantik segera, bangun dari tidurnya sampai ia tak melihat ayahnya sedang membawa koper dan narang bawaannya sendiri.
setelah itu Cantik segera membantu ayahnya memasuki rumah, di sana Cantik terpukau dengan penampilan rumahnya.
rumahnya berbeda dengan ada yang di kampung, di sini banyak hal yang modern seperti lampunya yang lebih terang juga keramiknya lebih indah dan lain lain.
pak Andi yang melihat anaknya ia memanggilnya dan ia menunjukkan kamarnya.
sesampainya di kamar Cantik juga terpukau karena, tempat tidurnya bermodern dan ia menyentuh tempat tidurnya dan terasa halus Cantik yang merasakan itu sangat senang di hatinya ia berkata tak pernah ia merasakan akan tidur dengan nyaman.
__ADS_1