
setelah itu mereka turun pak Andi dan Cantik segera melenggang ke arah pondok pesantren dengan bangunan yang lumayan tinggi dan luas.
mereka berjalan ke arah rumah dengan corak sederhana yang di depannya adalah tempat persinggahan para tamu yang berkunjung yang terbuat dari kayu jati yang menambah ciri khas kesederhanaan, rumahnya juga tak kalah sederhans dengan atapnya dengan corak kayu jati dan terdapat beberapa ukiran dan di dalamnya sebagian terbuat dari kayu dan batu bata.
tak lama mereka sampai tempat persinggahan para tamu yang seperti pendopo tetapi ini mirip seperti rumah adat joglo yang atapnya berbentuk seperti trapesium.
di sana terlihat dua orang paruh baya yang tak lain adalah pak Ali dan bu Mala mereka sedang mengobrol dengan Abah Kholil sedangkan Nisa ia sudah berada di dalam kamar asrama yang tadi sore ia di jemput oleh pengurus pondok untuk mengenal lingkungan pondok.
segera pak Andi dan Cantik langsung mengucapkan salam "Assalamualaikum" ucap mereka serentak
"Walaikumsalam" ucap serentak Abah Kholil, Umi Fatimah pak Ali dan bu Mala.
Abah Kholil yang tahu bahwa yang datang adalah Cantik dan ayahnya ia merasa senang karena ia sudah menganggap Cantik seperti anaknya sendiri yang selama di pesantren ia selalu menemani anaknya yaitu Ning Alma.
"silahkan duduk" ucap Abah Kholil kepada Cantik dan pak Andi.
Cantik dan pak Andi yang sudah di persilahkan langsung masuk ke pendopo tak lupa pak Andi langsung berjabat tangan dengan Abah Kholil sementara Cantik berjabat tangan dengan Umi Fatimah dan di balas dengan pelukan oleh umi Fatimah karena saking kangennya kepada Cantik, walaupun ia bukan anak kandungnya ia sudah menganggap Cantik seperti anaknya sendiri.
__ADS_1
setelah itu mereka duduk di samping pak Ali dan bu Mala mereka tersenyum akhirnya mereka bertemu kembali dengan pak Andi dan Cantik.
setelah itu mereka mengobrol antara Abah Kholil, pak Andi, pak Ali dan bu Mala mereka bertanya soal masalah dan juga tentang hal yang belum mereka ketahui.
sementara itu Umi Fatimah mengajak Cantik masuk ke rumah ia membawa Cantik kepada anaknya yang sedang berada di halaman belakang bersama para santri senior. semenjak kepulangan Cantik putrinya selalu bermain dengan santri putri yang lainnya.
sesampainya di halaman belakang umi Fatimah memanggil putrinya
"Alma" panggil umi Fatimah
santri putri yang mendengar suara umi Fatimah segera bilang kepada ning Alma yang sibuk mengobrol dengan temannya itu memegang pergelangan tangan ning Alma
ning Alma yang mendengar itu langsung buru- buru berbalik ke arah rumahnya dan mendapati uminya bersama anak sebayanya yang tak lain adalah Cantik
"Cantik" ucap ning Alma dengan tersenyum bahagia dan langsung berjalan dengan cepat ke arah Cantik.
"halo ning Alma apa kabar, ning Alma tambah cantik dan anggun saja" ucap Cantik sambil berjabat tangan dengan ning Alma dan berpelukan melepas kerinduan.
__ADS_1
"ngga lh aku biasa aja kamu tuh yang banyak perubahannya baru pulang beberapa bulan udah banyak berubah" ucap ning Alma dengan tersenyum.
umi Fatimah yang melihat kemesraan Cantik dan anaknya tersenyum tak lama ia masuk ke rumah untuk mengerjakan pekerjaan rumah dan memasak karena sebentar lagi sore.
setelah itu Ning Alma mengajak Cantik untuk bermain dengannya dan bersama santri putri yang lain karena pesantren masih libur jadi keseharian mereka ya seperti ngga ada kegiatan dan kebanyakan adanya kebosanan.
ning Alma dan Cantik berjalan ke asrama putri di sana mereka di sambut oleh para santri putri yang sudah hadir sebelum mengaji di mulai lagi.
mereka yang melihat seorang yang di samping ning Alma mereka terkejut mereka tak menyangka itu adalah Cantik yang dulunya sering di kerjain oleh mereka karena iri dengan Cantik yang selalu menjadi yang terdepan dalam segala hal di pondok.
pernah sewaktu mereka mengerjain Cantik dengan mengguyur Cantik dengan air kolam ikan lele yang banyak kotorannya.
Cantik yang terkena jebakan itu sebenarnya ia ingin menangis dan ia tetap sabar, sebenarnya Cantik tahu siapa yang melakukanya ia tetap diam saja setelah itu ia langsung membersihkan dirinya dengan mandi dan mencuci pakaiannya itu.
mereka yang melihat Cantik dengan penampilan beda layaknya seorang bidadari d menjadi agak khawatir Cantik sudah terlihat seperti yang sangat lugu ia sekarang begitu anggun di tambah ia dekat dengan ning Alma mereka takut karena bisa saja Cantik berbicara tentang mereka, walaupun kejadian itu sudah lama terjadi tetapi jika ning Alma tau tentang kejadian itu dan di ceritakan kepada Abah Kholil dan Umi Fatimah itu bisa mencoreng nama baik mereka dan bisa jadi mereka bisa di keluarkan apalagi mereka mendengar dari para santri putri yang lain bahwa Cantik sebenarnya dekat sekali dengan Umi Fatimah.
ning Alma yang melihat tiga santri yang sedang memandang dirinya dan Cantik ia segera memanggil mereka, dan ketiga santri itu bernama Lisa, Sulis dan Ulfa.
__ADS_1
mereka di panggil mereka untuk pergi bersama ke pegunungan yang dekat pesantren, mereka bertiga yang mendengar itu awalnya mereka ragu karena mereka sebenarnya merasa tidak enak dan tenang apalagi ada Cantik di sampingnya.
tetapi untuk menghormati ning Alma mereka akhirnya ikut bersama ning Alma dan Cantik ke pengunungan dekat dengan pesantren.