
pak Ali, bu Mala dan Nissa mengantarkan Cantik dan pak Andi sampai di depan jalan mereka pergi menggunakan mobil karena sekarang pak Andi sudah sedikit mampu untuk membeli apapun karena ia sekarang sudah naik jabatan di sebuah perusahaan di Kota Kultur.
setelah menaiki mobil pak Andi membuka kaca dan berpamitan.
Cantik juga menurunkan kaca mobilnya dan ia melambaikan tangannya membuat isyarat berpamitan.
setelah kepergian pak Andi dan Cantik.
pak Ali sekeluarga pulang ke rumahnya Ia berjalan bersama anak dan istrinya.
"semoga mereka selamat sampai tujuan dalam keadaan sehat" ucap bu Mala yang di jawab ucapan Aamiin oleh pak Ali dan Nisa.
di perjalanan Cantik melihat banyak pemandangan yang belum ia lihat sebelumnya karena Ia sudah lama tidak keluar selama 3 tahun ia hanya sering di pondok tanpa keluar dari area pondok walaupun adalah bosen tetapi kenyataannya tidak karena daerah pondoknya berada di dekat kaki gunung jadi sewaktu pondok libur Cantik sering berlibur ke dataran tinggi.
Ia ke sana bersama Ning Alma anaknya dari Abah Kholil dan Umi Fatimah.
Abah Kholil dan Umi Fatimah mempunyai 3 orang anak yang pertama adalah Ning Alma, yang kedua Ning Salma dan yang ketiga Gus Sauqi.
Cantik yang paling dekat dengan ning Alma karena ia selalu berpikiran dewasa dan ia orangnya selalu ceria di mana mana dan juga parasnya yang tak kalah dengan Cantik yang membuat banyak orang jika melihat mereka seperti bidadari atau saudara kembar tapi kenyataannya berbeda.
sebelum mereka sampai Cantik dan pak Andi mampir di sebuah rumah makan untuk mengisi perut mereka karena seharian mereka belum makan dan tak lupa mereka untuk menunaikan kewajiban mereka sebagai seorang muslim.
"Cantik kita mampir dulu ya di sini" ucap pak Andi kepada Cantik.
"Ia ayah" ucap Cantik yang melihat ayahnya begitu kelelahan karena sudah beberapa jam ayahnya menyetir mobil.
mereka turun di salah satu rumah makan yang sederhana hanya untuk mengisi perut mereka yang sudah kosong.
mereka segera memesan makanan mereka setelah itu mereka duduk di tempat yang kosong.
__ADS_1
"Cantik sepertinya kamu sedang memikirkan sesuatu" ucap pak Andi yang melihat wajah anaknya termenung.
"Ia ayah aku ingin membicarakan ini sebelumnya ayah aku ingin melanjutkan sekolah di kota Kultur aja ayah" ucap Cantik dengan penuh keyakinan.
"kamu serius ingin sekolah di sana kamu kan ngga punya teman di sana ayah takut kamu ngga bisa adaptasi di sana" ucap pak Andi yang tahu tentang keadaan di kota Kultur.
pak Andi sebenarnya dari dulu ia ingin membawa Cantik untuk tinggal bersamanya di kota Kultur tetapi karena Cantik ingin ke pesantren jadi ia tidak bisa berkata apa apa selain itu ia juga waktu itu baru saja di sana jadi belum mengenal lingkungan di sana tetapi sekarang berbeda ia sudah tahu seluk beluk di sana.
"Ia ayah aku ingin menambah pengalaman aku di luar karena aku ngga suka di zona nyaman" ucap Cantik dengan tersenyum.
tak lama pesanan mereka datang mereka pun segera makan dan tidak lupa untuk membaca doa terlebih dahulu.
setelah selesai mereka melanjutkan perjalanannya ke desa Limbang tak terasa mereka akhirnya sampai di tugu selamat datang di desa Limbang.
di sana Cantik melihat bahwa desa itu sudah sedikit maju dan juga banyak rumah di desa itu menandakan bahwa desa itu mulai di padati penduduk.
akhirnya mereka turun dan mereka di sambut oleh dua orang sepuh yang tak lain adalah kakek Sapto dan nenek Sumi
mereka mengucapkan salam
"Assalamualaikum" ucap serentak pak Andi dan Cantik di barengi dengan mencium punggung telapak tangannya keduanya.
"Walaikumsalam" ucap kakek Sapto dan nenek Sumi dengan tersenyum.
"akhirnya kalian sampai" nenek Sumi dengan tersenyum kepada cucunya ia tak menyangka cucunya sekarang sudah besar dengan parasnya yang sangat menawan bagi mereka yang melihatnya.
"bapak, ibu apak kabarnya" tanya pak Andi.
"Alhamdulillah baik nak, kamu sendiri gimana kabarnya"
__ADS_1
"Alhamdulillah baik juga bapak" ucap pak Andi dengan menengok ke dalam rumah.
"ya syukur lh, kamu kenapa Andi seperti sedang mencari seseorang.
"hehe... ngga kayak biasanya rumahnya sepi biasanya Doni sama Sela ada di sini" ucap pak Andi dengan menggaruk kepalanya.
"mereka sedang keluar sebentar" ucap kakek Sapto.
"ayo kita masuk dulu kalian pasti capek, apalagi cucunya nenek yang paling ayu tenan" ucap nenek Sumi dengan membawa Cantik ke dalam sementara itu kakek Sapto dan pak Andi hanya mengangguk kepalanya saja tetapi mereka tidak masuk rumah.
di rumah itu Cantik seperti di manja oleh neneknya ia di ajak duduk oleh neneknya dan bercerita selain itu ia juga di bikinkan banyak makanan cemilan dan minuman yang enak.
"ndo kamu itu ayu tenan si kamu mau ngga kalau tinggal bersama kakek sama nenek di sini" ucap nenek Sumi menawarkan tinggal di desa Limbang.
"ma'af nek aku mau ikut ayah aja di kota Kultur untuk menambah wawasan selain itu, di kota pendidikannya lebih maju" ucap Cantik dengan menangkupkan tangannya kepada nenek Sumi.
nenek Sumi sudah mengerti apa jawabannya dari cucunya itu menghela nafas.
"kalau itu keputusanmu nenek ngga bisa apa apa, oh ya cucu nenek ya Cantik seperti namanya ini sudah punya pasangan apa belum" ucap nenek Sumi dengan tersenyum.
Cantik yang mendengar itu terkaget dan jantung berdetak dengan cepat dan hatinya berdebar karena mengingat orang yang ia cintai yaitu Arman.
"aku... punya nenek, tapi belum kepikiran ke depannya karena aku mau fokus di pendidikan dulu" ucap Cantik dengan agak tergugup saat di tanya tentang orang yang ia cintai.
setelah itu mereka mengobrol panjang lebar dari mulai pengalaman nenek Sumi suatu muda dan dari awal kakek Sapto dan nenek Sumi bertemu.
tak terasa waktupun sudah menunjukkan waktu pukul 5 sore akhirnya kakek Sapto dan pak Andi masuk ke rumah.
di rumah mereka mendapati nenek Sumi dan Cantik yang sedang mengobrol dengan asiknya.
__ADS_1