
tak lama datang seorang pria paruh baya dan istrinya datang dengan angkuh memasuki rumah dan datang tanpa menyapa yang ada sekitarnya mereka masuk tanpa mengucapkan salam dan mereka langsung melenggang ke kamar di ikuti seorang anak perempuan sebaya dengan Cantik.
setelah selesai mereka keluar dan menuju meja makan tanpa menghiraukan mereka yang ada di ruangan keluarga.
kakek Sapto yang melihat itu menjadi geram tapi ia tidak bisa melakukan hal yang tidak baik di depan cucunya karena itu bisa mempengaruhi citra pemikiran Cantik ke depannya begitupun nenek Sumi yang melihat tingkah dari anaknya itu.
pak Doni dan bu Sela pun segera mengambil makan, mereka langsung makan tanpa menggubris sebuah perkataan yang di katakan oleh ayah dan ibunya yang tak lain adalah kakek Sapto dan nenek Sumi.
setelah mereka selesai makan, mereka melenggang ke arah kamar lagi sebelum mereka ke sana ayah dan ibunya memanggil
"Doni, Sela apa kamu ngga mau menyambut kakak kamu yang sudah lama kamu tidak ketemu" ucap nenek Sumi kepada anaknya dan menantunya.
"cih buat apa untuk menghormati saudara yang gak guna itu dan anak pembawa sial itu aku juga tak menganggapnya sebagai keponakanku" ucap pak Doni dengan kata kata penuh penghinaan.
"heh... jaga bicaramu siapa yang menyuruhmu berbicara kasar dan keras, hah..." ucap nenek Sumi dengan nada yang meninggi dengan di iringi tatapan mata yang tajam ke arah bu Sela, nenek Sumi tahu bahwa dalang dalam penghasutan ini ada kaitannya dengan bu Sela.
sejak dulu sebenarnya kakek Sapto dan nenek Sumi tidak merestui pernikahan mereka karena sifatnya bu Sela yang tamak dan merasa paling benar di serta rasa ori yang berlebihan.
pak Andi yang melihat itu menenangkan ibunya "udah ibu ngga papa, mungkin yang di ucapkan mereka ada benarnya" ucap pak Andi dengan menghela nafas dan mengelus dadanya karena ia sebenarnya sakit hati apa yang sudah di ucapkan oleh adiknya itu ia tak menyangka adiknya yang sewaktu kecil selalu bersama dan menghormatinya sekarang seperti musuhnya.
__ADS_1
setelah pertengkaran yang agak panas itu pak Doni dan Bu Sela pergi menuju kamar mereka di kamar mereka membicarakan tentang sikap orang tua dan mertuanya.
"mas itu kenapa si orang tua selalu membela kakakmu yang tidak berguna itu" ucap bu Sela dengan nada yang sangat kesal kepada suaminya.
"ngga tau de aku juga agak senang mereka ada di sini mudah mudahan mereka ngga lama di sini" ucap pak Doni dengan santai kepada istrinya yang sebenarnya ia menyembunyikan amarahnya.
di sisi kamar yang lain pak Andi dan Cantik berada di dalam kabar sedang saling berbicara "ayah kenapa si sikap paman dan bibinya seperti tidak menyukai kita dan membenci kita" ucap Cantik dengan memandang wajah ayahnya yang tetap tersenyum walaupun di hina oleh adik tercinta sendiri.
"ayah tak tau Cantik mungkin masalah beberapa tahun yang lalu" ucap pak Andi kepada Cantik
pak Andi menceritakan tentang dulunya sewaktu Cantik masih kecil ia pernah membuat masalah memecahkan vas bunga yang mahal milik paman dan bibinya semenjak itulah mereka sering mengejek dan menghina mereka di tambah keadaan ekonomi mereka yang sedang buruk semenjak itulah mereka sudah jarang mengunjungi kakek Sapto dan nenek Sumi.
Di sisi lain
Abah Kholil yang mendengar ada yang memanggilnya dan berkata menoleh "persilahkan mereka di tempat tamu berkunjung dan buatkan mereka minuman" ucap Abah Kholil dengan beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju tempat untuk tamu berkunjung.
sesampainya di sana seorang paruh baya dan istrinya serta anaknya berdiri dan mengucapkan salam
"Assalamualaikum pak Kyai" ucap seorang paruh baya yang tak lain adalah pamannya Cantik pak Ali dan di sampingnya ada juga bu Mala dan Nisa.
__ADS_1
"Walaikumsalam, silahkan duduk bapak, ibu" ucap Kyai Kholil atau Abah Kholil.
"terima kasih pak Kyai sebelumnya kami minta ma'af kalau mengganggu" ucap pak Ali dengan sopan
"ngga aku malah senang kalau ada yang berkunjung ke sini, sebelumnya juga banyak yang ke sini juga" ucap Abah Kholil.
tak lama umi Fatimah datang dengan membawa makanan cemilan dan minuman untuk pak Ali dan bu Mala serta Nisa
"silahkan minuman sama makanan ma'af cuman punya itu aja" ucap umi Fatimah.
"ngga papa ini malah ngerepotin" ucap bu Mala yang sekarang giliran ia yang berbicara.
"ma'af pak Kyai sebelumnya, pertama kami bersilaturahmi dan yang kedua kami mau mesantrenkan anak kami" ucap pak Ali
pak Kyai yang mendengar itu ia tersenyum
"kami terima pak anak bapak menjadi santri kami tapi mohon ma'af pesantren kami tidak sebagus pesantren di mana mana" ucap Abah Kholil dengan rendah hati tapi sebenarnya pesantrennya adalah yang terbaik di kota Salang.
"kalau boleh tau kalian itu dari desa Kemuning ya" ucap umi Fatimah.
__ADS_1
pak Ali sekeluarga yang mendengar itu terkejut bahwa bu Nyai mengetahui asal mereka " ngga usah terkejut bu kami tahu kedatangan bapak dan ibu oleh seseorang dekat kalian, waktu itu ia bilang bahwa nanti ada yang akan datang ke pesantren di awal ajaran baru" ucap umi Fatimah dengan tersenyum.
pak Ali dan bu Mala yang mendengar itu langsung kepikiran bahwa yang memberitahu pak Kyai dan bu Nyai adalah Cantik.