My Beloved Werewolf

My Beloved Werewolf
Ch. 21 >> Berakhir


__ADS_3

Bima tak mampu memberikan jawaban seperti yang ingin Emi dengar. Karena pada kenyataannya, energi yang Tresi miliki semakin melemah. Aku sendiri tidak yakin, Tresi mampu bertahan sampai dua hari ke depan, batin Bima.


Tresi menatap wajah Bima yang terlihat sendu. Ia mengangkat tangannya dan menyentuh wajah pria itu. Bima membiarkan Tresi menyentuhnya. Emi tak mampu mengendalikan dirinya. Ia memilih membuang pandangan. Berharap Tresi tak menyadari tangisnya.


"Aku sungguh jatuh cinta padamu. Sayang, kita berbeda. Seandainya aku terlahir kembali, aku ingin menjadi seperti dirimu. Jika Tuhan berbaik hati, kita dipertemukan dalam wujud yang sama," ucap Tresi lirih.


"Aku juga mencintaimu. Sangat mencintaimu," ujar Bima.


Pria itu menyentuh tangan Tresi yang tengah membelai wajahnya. Menariknya perlahan, kemudian mengecup lembut tangan itu.


Senyum di wajah Tresi terlihat menawan. Aku tidak menyangka, akhirnya cintaku terbalas. Meski kami, tidak akan pernah mungkin bersatu. Setidaknya,aku telah mendengar pernyataan cinta dari pria ini. Pria yang begitu kucintai.


"Aku mau jalan-jalan. Apa kau mau menemaniku?" tanya Tresi.


"Tres, Lo harus istirahat total. Kondisi Lo masih sangat lemah," sela Emi.


"Gue baik-baik aja, Em. Lo tenang aja. Ada Bima yang jagain gue." Ia mencoba tersenyum, meski dipaksa.


"Tapi, Tres ...." Ucapannya terhenti, saat melihat Tresi menggelengkan kepala.


"Dasar keras kepala!" maki Emi.


"Terima kasih, karena selama ini, Lo mau jadi teman baik gue. Terima kasih juga, karena lo mau ngerawat gue yang bandel ini. Terima kasih untuk semua. Jangan lupakan semua kenangan kita, ya, Em," pinta Tresi.


"Lo apaan, sih! Kenapa ngomongnya kaya gitu," ucap Emi di sela isak tangisnya.


Tangis Emi pun pecah. Ia tak lagi mampu menahan sesak di dada. Semua ucapan yang Tresi katakan, seakan menjadi kata-kata perpisahan di antara mereka. Seakan, Tresi tak akan mungkin kembali lagi.


Nyatanya, bukan hanya Emi yang menangis. Tresi pun, ikut merasakan kesedihan itu. Maaf, Em. Gue gak tahu sampai kapan gue sanggup bertahan. Gue sangat tahu kondisi tubuh gue sendiri. Sekarang, tubuh gue, sudah mencapai batasnya.


Bima ikut menangis. Ia sangat mengerti, betapa besar rasa cinta yang Tresi miliki untuk sahabatnya ini. Tidak mudah baginya, untuk melepaskan sahabat, yang selalu bersama dengan kita.


"Gue, mau jalan sama Bima dulu. Lo, gak masalah, 'kan gue tinggal di sini sendiri?"


Emi menganggukkan kepala. Lidahnya terasa kelu untuk sekedar bicara. Tresi mengalihkan tatapannya pada Bima.


"Ayo! Tapi, aku mau digendong di punggung aja," pinta tresi.


Bima menganggukkan kepala. Ia menuruti keinginan Tresi. Perlahan, Bima mulai melangkah keluar pondok. Sementara Emi, semakin menangis keras.


***


Tresi dan Bima memasuki tempat rahasia. Tempat yang pernah Bima tunjukkan pada Tresi. Tempat itu, tidak pernah tersentuh oleh manusia. Tresi,. adalah manusia pertama yang menginjakkan kaki di sana.


"Bim, boleh aku tanya satu hal?" tanya Tresi.


Saat ini, keduanya tengah mengelilingi kebun bunga. Menikmati wangi semerbak yang dikeluarkan oleh bunga-bunga di sana.

__ADS_1


"Apa?"


"Selama lebih dari empat bulan kita bersama, apa kau pernah membenciku?"


"Hanya di awal saja," jawabnya jujur.


"Pasti karena aku itu nyebelin, 'kan?"


Bima terkekeh mendengar ucapan Tresi. "Sepertinya iya."


"Sekarang, apa kau masih membenciku?" Nada bicara Tresi, terdengar pilu.


"Tidak. Sebaliknya, aku mencintaimu," sanggah Bima.


"Benarkah?"


"Kau tidak percaya?"


"Aku ingin ke air terjun." Tresi mengalihkan pembicaraan.


"Hmm."


Bima pun mengarahkan langkahnya menuju air terjun. Tempat itu, adalah tempat favorit Tresi. Tiba di sana, Bima mendudukkan Tresi di atas batu besar. Menyanggah gadis itu dengan tubuhnya sendiri. Pose itu, terlihat seakan mereka tengah berpelukan. Tresi pun menyandarkan kepalanya di bahu Bima dengan nyaman.


"Di sini, terasa jauh lebih sejuk," gumam Tresi.


"Sudah akan malam. Sebaiknya, kita kembali," ajak Bima.


"Hmm. Sebelum itu, boleh aku minta sesuatu darimu?" Tresi menatap Bima.


Tidak terasa, cukup lama mereka berdiam diri di sana. Tidak ada sedikit pun gangguan. Membuat keduanya tak menyadari waktu yang berlalu.


"Katakan. Akan kuberikan, jika aku mampu,"ucap Bima.


"Bisakah kau menciumku? Kali ini, aku ingin kau melakukannya sepenuh hati."


Bima menatap dalam mata Tresi. Entah apa yang dilihatnya di dalam sana. Pada akhirnya, Bima menganggukkan kepala. Menyetujui keinginan gadis itu.


Ia pun membalikkan tubuh Tresi, agar berhadapan dengannya. Memeluk tubuh mungil itu. Kemudian, melakukan keinginan sang gadis.


Tresi meneteskan air mata, saat merasakan Bima melakukan permintaannya. Mereka hanyut dalam kesedihan yang seakan tak bertepi. Setitik cahaya, terlihat saat Bima dan Tresi mengakhirinya.


Saat itulah Bima mengetahui, bila mutiara kehidupannya telah kembali. Ia segera memeriksa kondisi Tresi. Berharap nyawa gadis itu akan selamat. Namun, semua hanya angan Bima. Tresi bahkan telah kehilangan kesadarannya.


Bima meraung. Menangisi Tresi yang ia tahu, tak akan mampu lagi bertahan. Semesta seolah merasakan kepedihan Bima. Hingga hujan deras, turun membasahi bumi.


Setelah menguasai dirinya, Bima membopong tubuh Tresi. Ia melesat, menembus derasnya hujan, hingga mereka tiba di pondok.

__ADS_1


"Tresi kenapa?" tanya Emi panik.


"Dia tidak sadarkan diri. Aku tahu ini salah. Tapi, saat hujan reda nanti, aku akan mengantar kalian sampai ke rumah sewa. Tresi, tak akan bertahan lama." ucap Bima di sela tangisnya.


"Kau bisa menghubungi orang tuanya," imbuh Bima.


Tubuh Emi terasa tak bertulang. Kini, sahabatnya akan pergi. Bukan dalam beberapa waktu, tetapi selamanya.


***


Bima meletakkan tubuh Tresi di atas ranjang. Saat ini, kondisi gadis itu semakin melemah. Bima merapikan anak rambut Tresi. menatap gadis yang ia cintai sepenuh hatinya.


"Waktu kita mungkin singkat. Tapi aku terlanjur mencintaimu. Pergilah. Meski hubungan kita akan berakhir sampai di sini, tapi cinta itu akan tersimpan rapi di hatiku."


Bima mengecup kening Tresi lembut. Kemudian, memilih meninggalkan tempat itu, sebelum tubuh Tresi membeku.


"Lo mau pergi sekarang?" tanya Emi.


"Hmm." Bima menganggukkan kepala. Tanpa berpaling kembali, Bima melesat meninggalkan tempat itu.


Pria itu memilih kembali ke hutan. Ia bahkan meninggalkan pondok yang dibangunnya. Berharap mampu melupakan bayang Tresi. Bima memilih kembali ke kerajaan. Menjalankan tugas yang ayahnya berikan.


Semoga, dengan aku menyibukkan diri seperti ini, aku mampu melupakanmu, harap Bima.


Bagas, yang melihat perubahan sang adik, tak mampu berkata apa-apa. Ia tahu, kini gadis yang dianggap sebagai jodoh sang adik, kemungkinan besar tak lagi bernyawa.


Tepat setelah itu, hukuman Ursula, dicabut. Gadis itu pun dibebaskan.


***


Fiuhh sedih gak sih? sambil nunggu bab selanjutnya, yuk mampir ke karya ini



Blurb


Rico Dominico, masuk ke ruang bawah tanah di rumah tua milik kakeknya. Dia melihat sebuah buku yang tersimpan secara terpisah. Begitu dibuka ada cahaya yang keluar dari buku itu dan menyeret dirinya ke dimensi dunia lain.


Kini Rico berada di dunia antah berantah, yang dimana para penghuninya memiliki kekuatan sihir dan bisa memanggil hewan suci sebagai pelindung mereka.


Rico mengucapkan sebuah mantra yang bisa memanggil Raja Naga yang legendaris. Hal ini membuktikan kalau dirinya punya kekuatan yang sangat besar. Akibatnya, dia diburu oleh banyak orang yang menginginkan kekuatan dirinya.


Rico dan teman-temannya melawan Raja Didio yang kejam dan sangat kuat untuk membebaskan negeri Eleanor.


Akankah Rico bisa selamat dari incaran mereka?


Apakah dia juga akan bisa kembali ke dunia aslinya?

__ADS_1


__ADS_2