
Kembali menata hidup, setelah kejadian tragis yang menghancurkan hatinya, bukanlah hal mudah bagi Bima. Butuh waktu hampir empat tahun, untuk bisa kembali tersenyum. Bima tidak mungkin bisa menghapus bayang Tresi dalam benaknya.
Pria itu tengah mengumpulkan beberapa tumbuhan obat sebagai penyembuh luka. Barangkali, ada serigala liar yang terkena perangkap manusia dan mampir ke tempatnya. Ia mulai menjalani kehidupan seperti dulu.
Ia pun menyimpan daun serta akar tumbuhan yang akan dijadikan ramuan dalam kotak penyimpanan. Suara ketukan pintu, membuatnya mengalihkan perhatian.
Kerutan di dahi menunjukkan, bila ia tidak mengenal orang yang bertamu ke rumahnya.
"Saya adalah salah satu tetua yang membantu pemulihan luka dalam, Pangeran, sekitar tiga tahun lalu," ucapnya saat melihat ekspresi Bima.
Pria tua itu memasuki pondok. "Sepertinya, Pangeran, menyukai ilmu pengobatan."
"Ya, aku hanya membantu para hewan malang, yang terkena jebakan manusia," jawabnya.
Bima kembali memfokuskan diri pada pekerjaannya. Tetua itu tetap tersenyum. Sampai Bima menyelesaikan pekerjaannya, sang tetua tak banyak bicara.
"Boleh saya tahu maksud kedatangan tetua?" tanyanya setelah menghidangkan air untuk tamu.
"Saat, Pangeran, terluka dulu beberapa tahun lalu, bukankah, Anda, bertanya bagaimana caranya untuk bisa menjadi manusia?"
Terkejut, pasti. Pertanyaan itu sudah ia tanyakan bertahun-tahun lalu. Mungkinkan jawaban itu sudah ada? Dengan antusias, Bima menganggukkan kepalanya.
"Sebenarnya, ada seseorang yang jauh lebih tahu masalah ini. Namun, masalahnya adalah, tidak mudah mencari keberadaan orang itu."
"Siapa dia, Tetua?" tanyanya.
"Darwin. Dia adalah mantan raja Werewolf sebelum ayahmu naik tahta. Saat ini, dia sudah menjadi manusia seutuhnya. Bagaimana caranya, hanya dia yang mengetahui hal itu."
"Apa dia diusir, setelah menjadi manusia?" Rasa ingin tahu Bima semakin melonjak.
"Tidak. Dia tahu, alam manusia dan Werewolf berbeda. Karena itu, dia memilih pergi dan melepas tahta. Dia juga jatuh cinta pada seorang manusia," jawab tetua itu.
__ADS_1
"Aku mengerti. Biar aku yang mencari keberadaannya," ucap Bima. Semangatnya seakan menyala.
"Kudengar, kini dia menjadi tabib di antara manusia. Mungkin penciumannya masih tajam, tapi tidak dengan keturunannya. Karena darah Darwin, sudah murni darah manusia."
"Terima kasih atas petunjuknya tetua. Aku akan mencarinya."
"Semoga kau berhasil. Ah, satu lagi."
Pria itu menjeda ucapannya. Bima pun menanti kelanjutan dari ucapan pria tua di depannya ini.
"Usiamu, tidak akan sepanjang rakyat Werewolf. Mutiara yang ada dalam tubuhmu pun, tidak akan berfungsi lagi. Lagi pula, darah manusiamu kini jauh lebih banyak."
"Jika Werewolf, memiliki 50% darah manusia dan 50% darah serigala, maka tidak dengan dirimu. Sejak mutiaramu kembali, darah manusiamu sudah mencapai angka 80%." Ia menambahkan.
"Itu artinya, kesempatan untuk aku menjadi manusia, jauh lebih besar. Benarkan?"
Tetua tersenyum seraya menganggukkan kepala. "Darah serigalamu bisa kembali pada posisi semula, jika kau menikah dengan bangsa Werewolf. Baik pada rakyat biasa, atau saat kau bertemu dengan Luna yang menjadi takdirmu. Tapi ... sepertinya kau menutup hati dari bangsamu sendiri."
Mendengar penjelasan tetua, Bima kembali berpikir. Benarkah yang dikatakan tetua itu? Kenyataannya, semua itu memang benar Bima tak ingin memiliki hubungan istimewa dengan wanita dari bangsanya. Pria itu, sudah menutup pintu hatinya dari wanita lain.
"Kalau begitu, tugas saya sudah selesai. Saya harus segera kembali," pamitnya.
"Iya. Terima kasih untuk setiap informasi yang tetua berikan. Saya sangat menghargai kebaikan tetua," ucap Bima tulus.
Tetua itu tersenyum dan menepuk pundak Bima lembut. Kemudian, melesat cepat meninggalkan Bima.
***
Ursula mencari keberadaan Bima hingga ke pondok. Saat menemukan pria itu, ia terkejut melihat Bima tengah membereskan barang-barangnya.
"Kau mau kemana?" tanyanya.
__ADS_1
Bima menoleh, saat terdengar suara itu. "Kembali berbaur dengan manusia," jawab Bima cepat.
"Lalu, bagaimana dengan istana?"
"Aku tidak peduli dengan istana. Di sana, ada Bara dan Bagas yang bisa diandalkan." Bima terus memasukkan barang yang mungkin ia butuhkan. Termasuk, beberapa emas batangan miliknya.
"Kau tidak tahu, jika kau akan segera dinobatkan menjadi raja?"
Pergerakan Bima terhenti, saat Ursula mengucapkan hal itu. Ia menoleh cepat dan menatap tajam pada wanita itu.
"Jangan asal bicara!" sentak Bima.
"Untuk apa aku asal bicara. Datanglah ke istana dan lihat semua persiapannya. Bara yang memberitahuku semua itu. Dia juga yang memintaku untuk mencarimu."
Raut wajah Bima berubah sendu. Ursula menghela napas berat saat melihat perubahan itu. Ia pun mendekati Bima.
"Apa kau lebih menyukai manusia dibanding bangsamu sendiri?" tanya Ursula.
Tak ada jawaban yang keluar dari bibir Bima. Pria itu seakan tenggelam dalam pemikirannya sendiri. Tiba-tiba, Bima berdiri dan meninggalkan pondok. Ursula pun segera mengikutinya.
"Apa-apaan ini?" tanya Bima dengan suara tinggi, saat tiba di istana.
"Selamat datang, Pangeran Bima," sapa semua petinggi kerajaan yang berkumpul di sana.
Bima tak menghiraukan sapaan mereka. Matanya menghunus tajam, ke arah Raja Alfonso.
"Aku, menolak menjadi Raja berikutnya!" seru Bima lantang.
"Apa alasanmu?" tanya Raja Alfonso.
"Karena aku tidak berminat menjadi raja!"
__ADS_1
"Kau tidak bisa menolak. Ini semua adalah permintaan rakyat dan petinggi kerajaan. Perang dua tahun ini, adalah penentuan antara kau dan Bara. Melihat kau bisa mengalahkan lebih banyak lawan, para petinggi dan rakyat memutuskan, untuk memilihmu menjadi raja menggantikan ku."
"Aku, tetap tidak bisa menerimanya. Karena darahku, sudah hampir mencapai murni darah manusia."