My Beloved Werewolf

My Beloved Werewolf
Ch. 24 >>Senyum Bima


__ADS_3

Darwin hanya tersenyum menatap para serigala itu. Tak lama, mereka berubah menjadi manusia. Emi menutup mulutnya yang ternganga lebar. Ia tidak menyangka, akan melihat hal ini lagi


Apa mereka sebangsa dengan Bima? Eh, ngomong-ngomong tentang Bima, bagaimana kabar dia, ya?


"Tunggu di sini sebentar. Om akan menemui mereka," ucap ayah Tresi.


Mendengar ucapan itu, Emi kembali dari lamunannya tentang Bima. "Tapi, Om ...." Ucapan Emi terhenti, kala melihat Darwin—ayah Tresi—sudah berjalan mendekati mereka.


Entah apa yang mereka bicarakan. Emi tak mampu mendengarnya dengan baik. Mereka ngomongin apa, sih? Perasaan gak terlalu jauh dari sini, tapi kenapa gak kedengaran, ya?


Tak lama, Darwin kembali ke sisi Emi. Pria parubaya itu, hanya tersenyum tenang pada Emi.


"Ayo, kita kembali," ajak Darwin.


"Iya, Om."


Mereka pun mulai meninggalkan tempat itu. Dalam perjalanan kembali, Emi tak berani menanyakan semua pertanyaan yang sudah muncul dalam benaknya. Sesekali, ia hanya mampu mencuri pandang. Namun, Darwin yang peka, akhirnya mulai membuka suara.


"Ada yang ingin kau tanyakan?" tanyanya memecah keheningan.


"I-itu, Om. Apa Om mengenal mereka?" Pertanyaan itu pun keluar.


"Hmm." Darwin menganggukkan kepala.


"Om Darwin mengenal mereka? Apa Om Darwin ini bukan manusia?" gumam Emi lirih.


Darwin masih mampu mendengar gumaman Emi. Sepertinya, ia tak berniat menjawab pertanyaan yang Emi gumamkan. Karena itu, ia hanya tersenyum.


"Bagaimana, Om, bisa mengenal mereka? Apalagi, mereka bukan manusia seperti kita."


"Rahasia," jawabnya dengan senyum misterius.


Pada akhirnya, Emi memilih bungkam setelah mendengar jawaban Darwin. Biarlah waktu yang akan menjawab semua pertanyaannya nanti.


***


Tiga tahun berlalu. Kini, cara bicara Tresi sudah tak lagi terbata, layaknya bayi yang baru belajar bicara. Jalannya pun, sudah seperti dulu. Ingatan Tresi akan Emi juga mulai pulih. Satu yang masih mengganjal di hatinya.


"Em, boleh tanya sesuatu?" tanya Tresi.


"Tanya apa?"

__ADS_1


Saat ini, mereka sedang berkeliling kampung halaman. Tresi mulai mengingat kampung halamannya. Namun, tetap ada yang mengganjal di hati. Ia tahu, bila dirinya sempat melupakan banyak hal. Akan tetapi, apa penyebab ia melupakan semua itu, tidak diketahuinya.


"Beberapa kali aku bermimpi tentang seorang pria. Tapi, aku tidak bisa melihatnya dengan jelas. Apa, aku pernah dekat dengan pria lain seperti aku dekat dengan ayahku?"


"Jangan pakai bahasa formal bisa, 'kan? Gue udah terbiasa bicara informal sama lo."


Bukan itu yang ingin Tresi dengar. Namun, Emi justru membahas tentang yang lain. Membuat Tresi menghela napas dalam.


"Okey! Sekarang bisa l-lo kasih tahu g-gue siapa pria itu?" Meski terbata, akhirnya Tresi mengikuti keinginan Emi.


"Nah, kaya gitu, lebih enak di dengar." Emi menjeda ucapannya. Menarik napas dalam, sebelum menceritakan pria yang Tresi tanyakan.


"Sepertinya, lo juga melupakan dia, ya? Asal lo tahu, saat lo dalam kondisi paling kritis, dia adalah orang yang paling merasa bersalah. Karena bagi dia, apa yang terjadi sama lo, adalah kesalahannya."


Tresi masih menyimak cerita Emi. Meski sejujurnya, ingatan Tresi tetap buyar dari orang yang saat ini tengah mereka bicarakan.


"Jangan dipaksa. Nanti lo bakalan ingat, kok," hibur Emi.


Tresi menganggukkan kepalanya, menyetujui ucapan Emi. "Kalau penyebab gue koma selama satu tahun lebih, apa?"


"Semua penyebabnya, adalah pria itu. Bukan gue gak mau kasih tahu lo. Tapi, terlalu menyakitkan saat mengingat kejadian empat tahun lalu. Saat itu, pria itu bahkan sengaja pergi. Dia bilang, gak akan sanggup melihat lo pergi ninggalin dia. Sekarang, gue gak tahu apa yang terjadi pada dia."


"Sudah kubilang jangan dipaksa. Pelan-pelan saja."


"Tresi, Emi, ayo, pulang. Hari mulai gelap."


Panggilan itu mengalihkan perhatian mereka. Tresi tersenyum dan merangkul lengan sang ayah erat. Mereka segera kembali ke rumah.


"Gue pulang, ya. Besok gue ke rumah lo lagi," pamit Emi.


"Makasih, udah nemenin gue jalan-jalan," ucap Tresi dengan senyum manis.


Emi hanya tersenyum seraya mengangkat kedua ibu jarinya. Mereka pun berpisah di persimpangan jalan.


"Kau masih mencoba mencaritahu ingatan yang hilang?" tanya sang ayah.


"Iya. Aku merasa melupakan sesuatu yang sangat penting," jawab Tresi.


"Bersabarlah, Nak. Nanti, kau akan mengingat semuanya secara bertahap."


"Apa, jika aku kembali ke tempat tinggalku dulu, aku bisa mengingatnya?"

__ADS_1


"Mungkin saja. Jangan dalam waktu dekat ini. Kau harus memulihkan kondisimu dulu. Kondisimu, belum pulih 100%."


"Iya, Yah."


***


Ursula mencari Bima ke tempat yang biasa Bima datangi. Sedari tadi, ia sudah mengitari hutan. Namun, belum menemukannya. Ia berhenti, saat melihat sosok Bima duduk di pinggir hutan.


"Akhirnya, aku menemukanmu," ucap Ursula.


Bima menoleh sesaat. "Kenapa? Ada yang penting?"


"Kau ketus sekali," gerutu Ursula.


"Apa kau masih memikirkan dia?"


"Ya," jawab Bima singkat.


"Tidak adakah kesempatan untukku?"


"Tidak!" Bima menjawab cepat.


"Dulu, aku pernah dekat dengan manusia. Sayangnya, laki-laki itu hanya penipu. Dia mendekatiku dengan tujuan, memburu bangsa Werewolf."


Bima yang mendengar kisah itu, bisa mengerti bagaimana perasaan Ursula. Ursula pun memilih untuk membunuh pria itu, dibandingkan mengorbankan bangsanya.


"Sudah, jangan diingat lagi!"


"Apa manusia yang kau cintai tidak seperti itu?"


"Tidak. Dia justru takut, saat mengetahui wujud asliku. Selama beberapa waktu, dia memilih menjauhiku."


"Benarkah?"


Senyum Bima terbit saat menceritakan masa lalunya bersama Tresi. Sebahagia itukah kau dengan anak manusia itu? Kau bahkan bisa tersenyum senang mengingatnya. Aku iri, gumam Ursula.


***



saat Tresi dan Bima tak yakin bisa bersatu

__ADS_1


__ADS_2