My Beloved Werewolf

My Beloved Werewolf
Ch. 26 >> Pilihan Bima


__ADS_3

Ruang istana hening seketika. Bukan hanya Raja Alfonso yang terkejut mendengar ucapan Bima. Seluruh orang yang ada di sana pun menatap Bima tak percaya.


"Jika kau tidak ingin menjadi raja, tidak perlu bicara omong kosong seperti ini!" tekan Raja Alfonso di setiap ucapannya.


"Aku tidak bicara omong kosong. Apa kalian tidak bisa mencium bauku?"


Ucapan Bima seakan memancing mereka untuk melakukan seperti yang ia katakan. Mereka mulai terlihat mengendus ke arahnya.


"Hentikan!" sentak Raja Alfonso.


Mata pria itu menatap semua yang ada di sana dengan tajam. Merek hanya mampu menundukkan pandangan dan menghentikan kegiatan mengendus tadi. Raja mulai menuruni tahtanya dan menghampiri Bima.


Tidak sedikit pun Bima merasa takut. Dari semua orang yang ada di ruangan itu, hanya Bima yang terlihat seakan menantang Raja Alfonso. Satu tamparan keras mendarat tepat di pipi Bima. Membuat pria itu menoleh karena kuatnya tamparan yang raja layangkan.


"Kau pikir aku bodoh? Tida semudah itu bangsa kita bisa berubah menjadi manusia. Hanya karena mutiaramu pernah bersemayam dalam tubuh manusia, tidak mungkin bisa mengubah darahmu menjadi manusia! Kau ... tetap masih menjadi bagian dari bangsa ini. Mengerti!"

__ADS_1


Raja berbalik dan duduk di singgasananya. Kemudian, "Mulai sekarang, Pangeran Bima, dilarang keluar dari istana, sampai acara pernikahannya dengan Putri Ursula dilangsungkan tiga hari dari saat ini!"


Bima menatap ayahnya penuh amarah. Ia tidak bisa menerim keputusan sepihak yang sang ayah ambil. Sementara Ursula terkejut dan mengangkang mulutnya. Bara sendiri, mengepalkan tangannya kuat mendengar keputusan yang sang ayah ambil.


"Aku tidak bisa menerima keputusan ini!"


Bukan Bima yang mengucapkan kata-kata itu dengan lantang. Namun, Bara lah orang yang menolak keputusan itu.


"Tidak ada bantahan! Siapa pun yang menentang keputusanku, maka akan kupastikan kalian mendapat hukuman yang mengerikan!" seru Raja Alfonso lantang.


"Aku tidak takut. Karena aku jelas menentang keputusan ini!"


Tanpa basa-basi, Raja melompat dan mulai menyerang Bima dengan brutal. Bima pun. menangkis setiap serangan yang sang ayah berikan. Tekadnya sudah bulat, untuk berbaur dan hidup seperti manusia biasa.


Namun, untuk melawan ayahnya sendiri, ia pun tidak akan mau. Serangan demi serangan terus Raja arahkan padanya. Bima tetap menghindar. Ia sengaja berlari, hingga keluar dari istana.

__ADS_1


Bara dan Bagas mengikuti mereka. Bila Bagas khawatir terjadi sesuatu pada Bima, maka lain hal dengan Bagas. Ia justru khawatir, bila Bima memenangkan pertarungan dan merebut tahta. Dalam segala hal, Bima jauh lebih unggul dari dirinya.


Karena itu, ia iri melihat sang adik mendapat perhatian khusus dari sang ayah, Raja Alfonso. Bima mulai kelelahan. Hal itu dikarenakan dirinya yang tak lagi memiliki energi sebesar dulu. Apalagi, darahnya sudah mencapai 80% manusia.


Melihat Bima yang mungkin akan kalah, Bagas tersenyum senang. Di luar dugaannya, Raja Alfonso mulai menangkap tubuh Bima. Sayang, Bima lebih dulu tanggap melihat gerakan sang ayah. Ia memilih menjatuhkan dirinya ke jurang, dibanding tertangkap oleh sang ayah.


"Bima!" teriak Bagas.


Raja Alfonso meraung kesal melihat pilihan yang Bima ambil. Tak lama, para pengawal mendatangi mereka dengan tergopoh-gopoh.


"Cari Bima sampai ketemu! Jika tidak, kepala kalian taruhannya!" titahnya dengan nada tegas. Mata Raja Alfonso bahkan terlihat menyala karena amarah.


Bara yang melihat hal itu, memilih mencari Bima tanpa sepengetahuan mereka. Tidak akan kubiarkan kalian menemukan Bima! Akan kubantu Bima pergi dari sini dan bersembunyi!


***

__ADS_1


hoho, apakah Bima berhasil? tunggu bab selanjutnya ya


__ADS_2