
Darwin tiba di dalam hutan. Ia kembali mengendus keberadaan sang putri. Langkahnya terhenti, saat menatap bangunan di hadapannya.
"Tempat ini ...." Darwin menatap sekeliling.
"Bagaimana Tresi bisa sampai di sini?" gumamnya.
Matanya menatap berkeliling. Ada banyak rakyat jelata, yang turut memasuki bangunan itu. Membuat Darwin mengernyitkan dahi bingung. Kenapa mereka masuk ke dalam istana secara bebas? Ada apa ini? tanyanya dalam hati.
Ia pun turut melangkah masuk ke istana secara perlahan, bersama para penduduk. Tidak ada penjaga yang mencurigai dirinya. Hal ini membuat Darwin berasumsi. Hanya ada dua kemungkinan, bila rakyat diperbolehkan masuk ke istana. Acara kerajaan yang dibuat untuk umum, atau penghukuman bagi para pengkhianat kerajaan.
Darwin menatap sekelilingnya. "Ini adalah upacara pengangkatan raja yang baru," gumamnya.
Pria paruh baya itu terus menerobos masuk ke tengah lapangan. Di sana, terlihat tiga orang pria muda. Sementara di singgasana, ada seseorang yang begitu ia kenal.
Di bagian lain dari istana, seorang gadis terikat di atas kursi. Mulutnya tertutup, hingga ia tak bisa mengeluarkan suaranya. Ia mencoba melepaskan ikatan di tangan dan kakinya. Sayang, ikatan itu terlalu kuat, hingga membuatnya kesulitan.
Bima, tolong aku, gumam Tresi dalam hati.
***
Darwin tak mempedulikan kondisi istana yang akan melakukan upacara penobatan raja yang baru. Ia kembali memfokuskan diri mencari Tresi. Kembali, ia mencari aroma dari tubuh putri kesayangannya.
"Dia ada di sana." Darwin segera melesat menuju tempat Tresi.
Tiba di sana, ia melihat keadaan sekeliling. Beruntung, para penjaga tengah berfokus pada penobatan raja baru. Segera, Darwin membuka pintu ruangan itu perlahan.
Tresi yang tidak mengetahui keberadaan sang ayah, merasakan detak jantungnya semakin cepat. Bola matanya membulat sempurna. Bahkan, keringat dingin mengalir deras di punggung dan pelipisnya.
Saat pintu terbuka, Tresi bernapas lega melihat keberadaan sang ayah. Darwin segera mendekati putrinya dan melepaskan ikatan di tangan dan kaki Tresi.
"Kau baik-baik saja, Nak?" tanya Darwin.
"Tresi gak apa-apa, Yah. Tapi, di mana Bima?" tanyanya.
"Siapa Bima?"
__ADS_1
"Nanti Tresi akan cerita semuanya. Sekarang, bantu Tresi cari dia, ya, Yah," pinta Tresi.
Darwin menganggukkan kepala. Mereka berjalan keluar dari ruangan itu. Sebelum keluar, Darwin menyambar sebuah jubah dan mengenakannya pada Tresi.
"Pakai ini. Tempat ini bukan alam manusia. Bahaya untuk keselamatanmu," ujarnya.
Tresi menurut. Ia menggunakan jubah itu lebih dulu. Mereka melangkah mendekati lapangan istana. Tresi terkejut, melihat keberadaan Bima.
"Itu, Bima," bisik Tresi pada ayahnya.
"Yang di tengah?" Darwin menatap putrinya.
Melihat anggukkan kepala Tresi, Darwin menghela napas kasar. Tanpa terduga, Bima melihat keberadaan Tresi di sana, bersama seorang pria. Ia merasa cemburu, tetapi juga lega karena Tresi bisa lepas dari genggaman ayahnya.
Kumohon, bawa Tresi pergi dari sini, harap Bima dalam hati.
"Aku menolak menjadi raja!" tolak Bima lantang.
Raja Alfonso bergerak cepat dan menampar wajah Bima. "Kau, ingin gadis itu mati?" desis Raja.
"Tapi, Yah ...."
"Jangan gegabah. Ini bukan dunia kita," bisik Darwin.
Bima menyeringai penuh kemenangan pada sang ayah. Raja Alfonso semakin geram melihat itu.
"Bawa gadis itu kemari. Agar bocah ini bisa melihat kekasih manusianya mati di depannya!" titah Raja Alfonso.
Prajurit segera menuju ruangan di mana Tresi di sekap. Melihat itu, Darwin menarik tangan sang putri untuk pergi dari sana. Namun, Tresi menolak.
"Gak, Yah. Bima sedang dalam kesulitan. Tresi harus tolong dia," tolak Tresi.
"Ini bukan waktunya kamu menolong dia. Bukankah dia yang membawamu masuk dalam bencana ini?" geram Darwin.
"Tapi, Tresi cinta sama Bima."
__ADS_1
"Tresi, kalian berbeda alam. Tidak mungkin bagi kalian untuk bersatu!"
"Tapi ...."
"Tidak ada tapi, tapian. Sekarang, kita harus pergi dari sini!"
Tresi menepis tangan sang ayah yang akan menariknya pergi. Tak lama, para prajurit datang. Mereka memberitahu, bila Tresi telah menghilang. Mendengar ucapan para prajurit, Raja Alfonso memejamkan matanya sesaat. Beberapa detik kemudian, ia membuka matanya dan menatap satu titik di depannya.
Dengan kecepatan penuh, ia menghampiri kumpulan warga dan mencengkeram rahang Tresi. Darwin yang melihat itu, tak sempat menolong Tresi.
"Lepaskan putriku!" teriaknya lantang, saat Raja Alfonso membawa Tresi ke tengah lapangan.
Raja Alfonso yang mendengar teriakan itu menoleh. Tatapannya tertuju pada pria yang ada berdiri di sana. Bima yang akan menolong Tresi, tak mampu bergerak, karena Bagas menahannya kuat. Sementara Bara, tak peduli dengan apa yang terjadi. Ia justru berharap, Bima dan kekasihnya mati.
"Siapa kau?" tanya Raja Alfonso.
Pria itu membuka tudung kepalanya. Matanya berubah merah menyala, dengan tatapan yang seakan mampu menembus jantung lawan. Raja Alfonso terperanjat kaget melihat kehadiran Darwin di sana.
"Kau!"
Dengan isyaratnya, Raja Alfonso memerintahkan para prajurit untuk segera mengeluarkan penduduk dari sana. Mereka segera berhamburan mengikuti perintah raja mereka.
"Kenapa? Kau terkejut? Lepaskan putriku, sebelum kuhancurkan istana bodoh ini!"
"Putri? Kau benar-benar sudah menjadi manusia?"
Melihat putrinya semakin sulit bernapas, Darwin semakin meradang. Ia melemparkan tinjunya ke wajah Raja Alfonso.
"Brengsek!" Raja Alfonso melepas cengkeramannya dan menghajar Darwin.
Tresi terjatuh dan terbatuk, setelah raja melepas cengkeramannya. Ia berlari ke arah Bima. Bagas yang masih terkejut melihat sang ayah bertarung dengan seseorang, tak mampu membantu.
"Siapa dia?" bisik Bima pada Tresi.
"Ayahku," jawab Tresi.
__ADS_1