My Beloved Werewolf

My Beloved Werewolf
Ch. 23 >> Terpenjara Kenangan


__ADS_3

Bima yang sedang mengamati sungai, menoleh cepat saat mendengar sebuah teriakan. Sayangnya, ia tak sempat mengelak. Ursula dan Bima terjatuh bersama ke sungai. Beruntung, aliran sungai tidak sederas biasanya.


"Kau gila, ya?" maki Bima.


"Kau yang gila! Hanya karena ditinggal mati oleh manusia, kau pun ingin mati!" Ursula berbalik memaki Bima.


Mendengar ucapan Ursula, Bima semakin tidak mengerti. "Siapa yang ingin mati?" tanya Bima dengan nada tinggi.


Raut wajah Ursula berubah. Ia mengedipkan mata cepat. Apa aku salah duga, ya? Astaga! Habislah aku! rutuk Ursula dalam hati.


Ia menggali salivanya yang terasa pahit dengan susah payah. Terlebih, saat melihat tatapan Bima yang begitu menusuk.


Tanpa berucap, Bima segera keluar dari air dan meninggalkan Ursula sendiri di sana. "Bagaimana cara manusia itu merebut hati Bima?" gumam Ursula.


Bima melangkah memasuki hutan. Langkahnya terhenti saat ia menyadari, jika telah tiba di pondok yang ia bangun beberapa tahun yang lalu. Pondok, yang menjadi saksi pertemuannya dengan Tresi, serta akhir pertemuan mereka.


Kakinya mulai melangkah masuk ke pondok itu. Menyusuri setiap benda yang pernah disentuh Tresi. Bima merebahkan tubuhnya di atas dipan.


"Kenapa selalu ada awal dan ada akhir, ada pertemuan dan ada perpisahan? Aku merasa tak berarti tanpamu. Pertemuan singkat kita, terlalu indah untuk kulupakan."


Bima menarik napas panjang dan menghelanya perlahan. Mencoba meredakan sesak yang menusuk hingga ke relung jiwanya. Tanpa sadar, Bima terpejam.


***


"Ternyata dia di sini," gumam pria itu.


"Bim, ayo bangun!"


Ia mengguncang tubuh Bima perlahan. Bima yang dibangunkan, mulai membuka matanya. Kemudian, mendudukkan diri di atas dipan.


"Ada apa?" tanyanya.


"Raja memintamu menyelesaikan masalah diperbatasan. Bersiaplah, kita akan berangkat malam ini."


Hanya anggukkan kepala yang Bima berikan sebagai jawaban. Pria yang membangunkan Bima pun segera berlalu. Setelah kepergian pria itu, Bima bangkit meninggalkan pondok. Sebelu menutup pintu, ia memperhatikan pondok dengan seksama.


"Kau akan ikut berperang melawan para Rogue di perbatasan?"


Bima menoleh sesaat. "Hmm," jawabnya dengan dehaman.

__ADS_1


"Ayo, kita pergi bersama!"


"Pergi bersama?" ulang Bima.


Ursula mengangguk. "Aku juga diikutsertakan dalam timmu. Jadi, kita harus bekerjasama dengan baik." Ursula menunjukkan senyum termanisnya.


"Tunggu di istana!" titah Bima. Ia segera berlalu meninggalkan Ursula.


Melihat Bima yang meninggalkannya, Ursula memilih mengikuti pria itu diam-diam.


Ursula mengerutkan dahi melihat tempat yang Bima datangi. "Ini ... di mana?" gumamnya.


"Ini adalah tempat rahasia."


Mata Ursula mengerjap cepat mendengar ucapan itu. "Kau, tahu aku mengikutimu?"


"Bangsa kita itu tercipta dengan daya penciuman yang tajam. Kau tidak lupa, 'kan?"


"Tapi ... kenapa aku baru tahu ada tempat ini?"


Bima tak menjawab. Ia terus menelusuri langkah yang sempat ia dan Tresi jalani.


"Sudahlah, Bim. Aku tahu, kau sedang mengenang kekasih manusiamu itu. Tapi, takdir tidak bisa kita rubah. Kalian tetap tidak akan bisa bersama sekali pun dia masih hidup."


"Ayo, kita bersiap!" ajak Ursula.


Bima menganggukkan kepala. Mereka pun segera kembali ke istana. Di sana, para prajurit setia Raja alfonso telah bersiap. Bima menggunakan pakaian perang miliknya.


"Ayo, kita berangkat!"


***


Tresi tengah belajar untuk duduk, memegang, dan bicara. Emi dan ayah Tresi, tak lelah mengajarinya, agar gadis itu lekas pulih sempurna.


"Sudah, jangan dipaksa. Istirahat dulu," bujuk sang ayah.


Mereka membantu Tresi untuk duduk di atas ranjang. Kembali, sang ayah menyodorkan gelas berisi ramuan yang telah dibuatkan ayahnya.


"Terima kasih," ucapnya masih terbata.

__ADS_1


"Ayah yakin, kau akan segera pulih." Pria itu memberi semangat pada putri semata wayangnya.


"Semangat, Tres," ujar Emi.


Tresi menganggukkan kepalanya. Rasa lelah, membuatnya ingin memejamkan mata barang sesaat.


"Em, biarkan Tresi tidur dulu. Sebaiknya, kita keluar."


"Iya, Om."


Keduanya pun keluar dari kamar yang Tresi gunakan.


***


"Tresi," panggil sebuah suara.


Mendengar namanya dipanggil, gadis itu mencari keberadaan seseorang. Itu suara pria. Tapi, siapa? gumamnya dalam hati.


Tresi terus melangkah, hingga ia tiba disebuah taman yang begitu indah. Di sana, terdengar suara tawa seorang gadis dan pria. Tampaknya, mereka sedang berkencan.


"Itu ... wajahku. Pria itu ... kenapa tidak jelas?"


Kepala Tresi kembali berdenyut nyeri. Ia memeganginya kuat. Tresi terus merintih kesakitan, hingga akhirnya tak sadarkan diri.


Sementara sang ayah dan Emi, tengah mencari dedaunan serta akar yang bisa dijadikan obat. Tresi, masih butuh tenaga yang besar dalam latihan.


"Tabib Darwin," sapa seseorang.


Emi dan ayah Tresi mencari ke sumber suara. Seekor serigala mendekati mereka. Emi berteriak ketakutan dan bersembunyi di belakang tubuh Darwin.


***


sambil menunggu up kembali, yuk kepoin cerita ini:



Haura mengalami kecelakaan didepan rumah sakit tempat ia bekerja.


Ketika dia tidak sadarkan diri, di dalam alam bawah sadarnya, ia bertemu sosok pria yang menawarkannya sebuah bantuan, agar Haura bisa menjadi dokter yang sesungguhnya.

__ADS_1


Haura melakukan perjanjian dengan arwah seorang dokter, namun sebelum perjanjian itu dibuat, arwah dokter itu memberikan beberapa syarat kepada Haura.


Apakah syarat itu dan setujukah Haura dengan syarat yang diajukan kepadanya?


__ADS_2