
Tidak terasa, dua tahun sudah Bima berada di dunia manusia. Ia sudah mulai membuka usaha dibantu oleh Darwin dan Tresi. Emi sendiri, sudah menemukan tambatan hatinya. Hari ini, mereka baru saja menghadiri pernikahan Emi.
Ya, Emi lebih dulu melepas masa lajangnya. Tresi dan Bima, masih menikmati masa pacaran mereka. Bima menggenggam jemari Tresi erat. Berjalan bergandengan, tanpa kehadiran Darwin, yang pasti akan mengganggu.
"Seperti apa pernikahan impianmu?" tanya Bima tiba-tiba.
Tresi memicingkan mata sejenak. membayangkan seperti apa pernikahan yang ia inginkan.
"Aku ingin pernikahan yang sederhana. Tidak perlu banyak tamu yang hadir. Yang penting, mereka merestui hubungan kita. Itu akan jauh lebih indah," jawab Tresi.
Bima terkekeh mendengar jawaban kekasihnya. Pikiran kekasihnya cukup sederhana. Bima pun memasukkan genggaman tangan mereka ke dalam saku jaketnya.
"Kamu sendiri?" tanya Tresi balik.
"Aku?"
Tresi menganggukkan kepala. Bima berpikir sejenak. Kemudian menatap Tresi dengan lembut.
"Selama pengantin wanita itu kamu, seperti apa pun pernikahannya akan indah," jawabnya.
Tresi tertawa mendengar jawaban kekasihnya. "Kamu belajar gombal dari mana?" tanya Tresi setelah meredakan tawanya. Meski sejujurnya, hati Tresi berbunga mendengar jawaban itu.
"Kok, gombal sih? Itu jawaban paling tepat, Sayang."
__ADS_1
Wajah Tresi merona merah mendengar panggilan 'sayang' dari mulut kekasihnya. Mereka pun melanjutkan perjalanan hingga tiba di rumah.
***
Bima sedang berjalan menuju cafe miliknya pagi itu. Matanya menatap toko perhiasan yang tak jauh dari cafe. Bima melangkah masuk dan menatap berbagai cincin yang terpajang. Pandangannya terpaku pada sebuah cincin yang terpajang.
"Cincin ini cantik. Tresi pasti cocok menggunakannya," gumam Bima.
Binar bahagia terlihat di wajahnya. Ia pun meminta pelayan mengambil cincin itu. Kemudian menatap cincin itu dengan bahagia.
"Saya mau yang ini." Bima menyodorkan cincin itu agar segera dimasukkan ke dalam kotak.
Setelah membayarnya, Bima menyimpan cincin itu ke dalam sakunya. Ia akan melamar Tresi hari ini juga. Senyum di bibirnya terkembang sempurna.
***
Setelah siap, Bima mengirimkan pesan pada Tresi, agar datang ke cafe. Karena itu, ia segera bergegas menuju tempat yang Bima sebutkan. Tresi yang baru tiba di depan cafe mengerutkan dahinya melihat suasana cafe yang gelap dan sepi.
"Kenapa sepi dan gelap begini?" tanyanya pada diri sendiri.
Perlahan, ia mendorong pintu cafe yang tertutup. Pencahayaan yang kurang, membuat Tresi berjalan pelan-pelan.
__ADS_1
"Bima," panggilnya.
Namun, tidak ada sahutan dari Bima. Tresi mengerutkan keningnya. "Bima kemana, ya?" gumamnya.
Mata Tresi menatap awas sekelilingnya. Tidak ada yang aneh di sana. Seketika lampu menyala, disertai sorakan surprise. Tresi terkejut melihat kehadiran Emi dan suaminya. Bahkan, ayahnya pun sudah berada di sana.
"Ini bukan hari ulang tahunku, kenapa kalian bikin surprise segala?" tanyanya.
"Memang bukan," jawab Emi.
Bima maju dengan senyum yang mengembang sempurna. Berlutut di depan Tresi seraya mengeluarkan kotak beludru yang ia simpan dalam saku. Wajah Tresi merona melihat isi kotak itu.
"Kita sudah bersama selama dua tahun. Saling mengenal lebih dari lima tahun, meski sempat terpisah. Tapi, rasa cintaku untukmu, tidak sedikit pun berkurang. Justru, semakin besar. Hari ini, aku ingin meminta kesediaanmu menjadi istriku. Menemaniku sampai akhir hayat. Menjadi pendamping serta ibu untuk anak-anakku. Apakah kau bersedia?"
Tresi menutup mulutnya tak percaya. Ucapan Bima membuat hatinya bergetar. Ia pun menganggukkan kepala, menyetujui keinginan Bima. Melihat jawaban Tresi, Bima mengambil cincin tersebut, dan menyematkannya di jari manis sang kekasih.
Darwin tersenyum haru melihat binar bahagia di wajah putrinya. Ia menghapus air mata kebahagiaan yang jatuh di pipi. Kini, Bima sudah bersikap layaknya manusia. Ia pun tak lagi bisa menghalangi cinta mereka.
Semoga kau bahagia dengan pilihanmu, Nak. Ayah akan selalu ada untukmu, doa Darwin.
Emi dan suaminya bertepuk tangan melihat Bima dan Tresi berpelukan. Mereka turut merasakan kebahagiaan pasangan itu. Setelah berbagai cobaan, mereka akhirnya bisa bersama. Takdir, bisa mempersatukan mereka.
"My beloved werewolf," bisik Tresi.
__ADS_1
Bima tertawa mendengar ucapan kekasihnya. "I love you," ungkap pria itu.
Ia pun mendekatkan wajahnya dan mencium bibir ranum milik Tresi. Seakan tak mempedulikan kehadiran sahabat serta Darwin di sana.