My Beloved Werewolf

My Beloved Werewolf
Ch. 36 >> Ancaman


__ADS_3

"Bima!" pekik Tresi saat melihat Bima tak sadarkan diri.


Setelah berhasil melumpuhkan Bima, pria itu berbalik dan membekap mulutnya. Ia membawa Tresi pergi. Emi yang baru saja akan merebahkan diri, terkejut. Ia segera berlari keluar.


"Ada apa, Tres?" tanyanya setelah tiba di teras.


Namun, ia terkejut saat tak mendapati Bima dan Tresi di sana. Berkali-kali Emi berteriak memanggil Tresi dan Bima. Ia bahkan memutari rumah, untu mencari pasangan itu. Sayang, tidak ada jejak yang bisa ia jadikan petunjuk.


Emi terdiam seketika. Ia mencoba untuk bersikap tenang. Ketenangannya hancur, saat ponsel di kantung baju tidur Emi berbunyi.


"Ya, Om," ucap Emi setelah panggilan tersambung.


"Em, mana Tresi? Perasaan om gak enak. Dulu, om juga pernah merasakan hal seperti ini dan mengabaikannya. Tapi ternyata, Tresi benar-benar dalam bahaya, hingga koma. Kali ini, om tidak ingin mengabaikannya."


"Tresi ...." Nada suara Emi bergetar menyebut nama sahabatnya.


"Ada apa? Tolong jangan buat om penasaran."


"Tiba-tiba mereka menghilang," ucap Emi lirih.


"Hilang?"


"Iya, Om. Maaf."


Panggilan terputus sepihak. Emi mulai menyalahkan dirinya sendiri, atas musibah yang Tresi alami. Namun, ia merasa hilangnya Tresi kali ini sangat janggal. Bima yang ia yakin bisa menjaga Tresi, bahkan ikut menghilang.


"Tapi, kenapa mereka menghilang tiba-tiba? Apalagi, sebelumnya Tresi berteriak. Bima juga ikut hilang. Apa mungkin ada orang lain?"


Emi terkejut, saat ayah dari sahabatnya, sudah berdiri di depannya. Ia sampai berteriak kaget. 

__ADS_1


"Astaga! Om, ngagetin Emi, deh!" Emi mengusap dadanya. Ia berusaha meredakan detak jantung yang memompa lebih cepat karena rasa terkejut.


"Kok, Om, udah sampe aja?" tanya Emi heran.


Sayang, Darwin justru fokus mengendus aroma yang ada di sana.  Ia mencoba mengidentifikasi aroma yang tertinggal di sana.


"Om pergi dulu."


Darwin segera berlalu meninggalkan Emi yang bahkan belum sempat memberikan reaksi. Saat ia tersadar, Darwin sudah menjauh.


"Mereka cepat banget hilangnya, sih?" gerutunya.


***


Di sebuah kamar, seorang pria tergeletak tak berdaya. Dia adalah Bima. Perlahan, Bima mulai membuka matanya. Kemudian, menatap sekeliling ruangan. Bukankah ini kamarku? Kenapa aku bisa ada di sini? batinnya.


Ia mencoba untuk bangun dari ranjang. Baru saja ia mendudukkan diri, beberapa orang masuk ke dalam kamar yang ia tempati.


"Kenapa kalian masuk ke kamar ini?" tanyanya.


"Maafkan kami, sudah berbuat lancang, Yang Mulia Pangeran. Kamu hanya menjalankan perintah,," jawab salah satu dari mereka.


"Lupakan! Apa tujuan kalian masuk ke kesini?" tanya Bima.


"Menjemput Pangeran, menuju istana. " jawabnya.


"Ke istana? Untuk apa?"


"Karena hari ini, Pangeran, akan dilantik menjadi raja, untuk menggantikan posisi Raja Alfonso."

__ADS_1


"Pelantikan?" gumam Bima.


Mereka mulai menjalankan tugas seperti yang diperintahkan. Beberapa detik kemudian, Bima akhirnya menyadari, bila ini sebuah paksaan.


"Lepas! Kalian tidak bisa memaksaku melakukan semua itu," tolak Bima tegas.


"Kau harus menerimanya!"


Suara itu membuat Bima menoleh. Di sana, berdiri Raja Alfonso. Raut wajah Bima mengeras melihat kehadiran sang ayah. Ia mengepalkan tangannya kuat.


"Tidak! Sampai kapan pun, aku tidak akan menerimanya!"


Raja Alfonso pun mulai mendekat. "Tidak apa. Kalau begitu, kau harus kehilangan gadis manusia itu," ucapnya santai.


Kedua alis Bima mengerut. "Gadis manusia?"


Tak ada jawaban yang keluar dari bibir Raja Alfonso. Ia hanya menatap Bima datar, tanpa ekspresi.


"Kalian membawa Tresi ke sini?" tanya Bima.


Hening sejenak. Raja Alfonso seaman tak berniat menjawab pertanyaan Bima. Sebaliknya, ia justru semakin menekan Bima.


"Putuskan saja secepatnya. Kau akan menerima jabatan ini, atau melihat bagaimana gadis itu meregang nyawa di depanmu!" ancam Raja.


"Jangan sentuh Tresi! Sedikit saja dia terluka, aku akan memporak porandakan istana ini, hingga tak bersisa!" Bima mengancam balik


"Aku tidak akan menyentuhnya, selama kau mengikuti kemauanku!"


Raja Alfonso segera meninggalkan ruang kamar Bima. Kini, Bima berada dalam dilema. Manakah yang harus ia pilih?

__ADS_1


__ADS_2