
Tresi menatap hutan yang kini ia jajaki. Ingatannya kembali, saat tengah mendaki bersama teman-teman kuliahnya. Bahkan, sampai saat di mana ia tersesat dan terluka.
"Gue, pernah tersesat di hutan ini," ucap Tresi.
Senyum Emi tercetak di wajahnya. Ternyata, metode ini cukup ampuh. Mendatangi tempat yang pernah ia singgahi. Meski ayah Tresi—Darwin—melarang sang putri, untuk memaksakan diri.
"Kalau lo capek, kita bisa istirahat dulu. Kita bisa lanjutkan besok," ujar Emi.
"Gak apa, Mi. Gue gak sakit, kok. Coba lihat," pintanya.
Emi pun menatap wajah Tresi. Tidak ada wajah pucat seperti saat Tresi berusaha mengingat Bima. Wajahnya terlihat segar dan bercahaya.
"Oke!"
Mereka pun melanjutkan perjalanan menyusuri hutan. Tanpa mereka sadari, seseorang terus mengikuti kemana mereka pergi. Langkah Tresi terhenti, saat mereka melihat sebuah pondok. Gadis itu menutup mata sejenak. Mencoba mengingat tempat itu.
Sementara Emi, hanya menunggu reaksi sahabatnya. Tak lama Tresi membuka mata. Perlahan, ia melangkah memasuki pondok itu.
"Siapa kalian?" teriak sebuah suara.
Tresi dan Emi menoleh, saat suara itu menyapa telinga mereka. Di sana, seorang pria berdiri tegak. Kedua gadis itu saling bertukar pandang.
"Kami hanya kebetulan lewat," jawab Emi.
Pria itu berjalan mendekat. Dia manusia! Bagaimana bisa manusia sampai ke tempat ini? Tempat ini sudah jauh ke tengah hutan, batinnya.
"Bara!"
Kembali, sebuah suara mengalihkan perhatian mereka. Kali ini, seorang gadis yang mendekati mereka. Gadis, yang selalu mengikuti Tresi dan Emi dari rumah yang pernah Tresi dan Bima tinggali.
"Kenapa sejak tadi kau bersembunyi?" tanya Bara.
__ADS_1
"Karena aku tidak memiliki kepentingan dengan mereka."
Emi menatap gadis di depannya dengan seksama. Merasa pernah bertemu dengannya di suatu tempat.
"Sepertinya, kita pernah bertemu," ucap Emi.
Sebelah alis gadis itu terangkat. Dia mengingatku? Tapi, kenapa gadis ini justru sebaliknya?
"Sepertinya kau salah ingat," jawab gadis itu.
"Jika kalian tidak memiliki kepentingan, pergi dari sini!" usir Bara.
"Ayo, kita pergi dari sini!" ajak Emi pada Tresi.
"Kau ... Ursula, 'kan?"
Pertanyaan itu membuat Ursula dan Emi terkejut. Bara yang mendengar ucapan itu menatap Tresi penuh selidik.
"Kau mengingatku?" tanya Ursula.
Kenapa hanya pria itu yang kulupakan? Hanya wajahnya yang kuingat. Tresi memegang kepalanya yang terasa sakit. Lagi, sakit itu menyiksanya.
"Tresi!" seru Emi. Ia segera membantu Tresi untuk duduk. "Duduk dulu, sebentar. Jangan dipaksakan. Nanti jika sudah lebih baik, baru kita kembali, ya," bujuk Emi.
"Iya, Em."
"Ada apa dengannya?" tanya Ursula.
"Lo, gak perlu tahu!"
Ursula yang mendengar jawaban sarkas Emi pun berdecih kesal. Bara mendekati Ursula.
__ADS_1
"Siapa mereka?" tanya Bara dengan berbisik.
"Yang duduk itu, adalah wanita yang disukai Bima. Mereka bahkan sempat tinggal bersama di sebuah rumah. Disebelahnya, mungkin temannya," jawab Ursula dengan berbisik pula.
***
Bima dan nenek akhirnya selesai melakukan survey pasar. Mereka akan membuka usaha yang manusia sebut dengan nama cafe. Namun, semua tak semudah yang Bima bayangkan.
"Bagaimana caranya aku bisa buka usaha, ya, Nek?" tanya Bima.
"Sepertinya, kau harus bekerja dulu pada manusia. Mengumpulkan uang yang menjadi alat tukar bangsa manusia."
"Nenek, benar. Kalau begitu, besok aku akan mencari pekerjaan. Aku, ingin menjadi manusia seutuhnya!" ucap Bima dengan semangat berkobar.
"Apa kau yakin?" Nenek memicingkan mata menatap Bima.
"Yakin! Aku sangat yakin," jawab Bima.
"Bagaimana jika gadis itu akan menjadi sama dengan, Pangeran?"
Bima mengerutkan dahinya mendengar ucapan sang nenek. Apa maksud, Nenek, ini? Dia seakan sedang membaca masa depan. Apa dia ini paranormal? Atau penyihir? Tapi, aku tidak bisa mencium bau penyihir dari nenek ini.
"Sudahlah. Tidak usah pikirkan ucapan nenek." Nenek segera berlalu dari hadapan Bima.
Melihat nenek sudah masuk ke kamarnya, Bima pun melangkah naik. Sejak kembali ke rumah itu, Bima memilih tidur di kamar Tresi. Ia merebahkan tubuhnya yang lelah. Menutup mata dengan sebelah lengan. Ucapan nenek yang bertanya padanya, bila Tresi berubah menjadi seperti dia, masih terngiang dengan jelas.
Bima mendudukkan diri. "Kenapa aku jadi bimbang?" tanya Bima pada dirinya sendiri.
Sementara itu, seorang gadis cantik berambut panjang, keluar dari kamar yang nenek tempati. Ia menatap pintu kamar yang Bima tempati lekat.
"Bersabarlah, gadis itu sedang menggali ingatannya tentangmu. Sebentar lagi, pasti akan datang mencarimu. Akan aku pastikan, kalian hidup bahagia," ucapnya.
__ADS_1
Entah siapa dia, hingga sudih menolong Bima. Bima sendiri, belum mengetahui keberadaan wanita itu. Bahkan, aroma gadis itu pun tak bisa ia tangkap dengan baik.
Wanita itu pun menghilang dengan kecepatan penuh.