My Beloved Werewolf

My Beloved Werewolf
Ch. 27 >> Menemukan Bima


__ADS_3

Seorang nenek tua tengah mencari ikan di pinggir sungai. Ia menggunakan perangkap, untuk menangkap ikan-ikan tersebut. Namun, ia harus menghela napas kecewa, saat ikan yang ditunggunya sejak kemarin tidak ada yang masuk ke dalam perangkap.


Matanya tak sengaja menangkap sesosok tubuh di dekat batu besar. "Apa itu?"


Nenek itu mendekati sosok yang ia lihat perlahan. Wajahnya berubah pucat, saat menyadari bahwa itu adalah tubuh manusia. Tergopoh-gopoh sang Nenek mendekatinya. Sekedar mengecek denyut nadi sosok itu.


"Dia masih hidup." Nenek itu bangkit berdiri.


Ia mulai mencari orang yang mungkin berdiri tak jauh dari dirinya. Mata tua itu berkeliling mencari. Saat ia melihat seseorang, ia segera berteriak memanggil pria tersebut.


"Tolong! Tolong!" teriak Nenek.


Pria yang kebetulan mendengar suara sang Nenek menoleh. Ia mendekati si Nenek yang berlari sekuat tenaganya.


"Ada apa, Nek?" tanyanya.


"Itu ... di sana ...." Nenek hanya bisa menunjuk ke arah sosok yang tadi dilihatnya.


Ia tak mampu berucap dengan lancar, dikarenakan napasnya yang tersengal. Pria itu mengangkat pandangannya ke arah yang Nenek itu tunjuk. Ia segera berlari ke arah sosok yang ia lihat.


Dia masih hidup. Sial! Kenapa dia tidak mati saja? Lamunannya hancur, saat terdengar suara Nenek tadi di sampingnya.

__ADS_1


"Dia masih hidup, Nak. Tolong nenek bawa dia ke gubuk milik nenek," pinta sang Nenek.


"Ah, iya, Nek," jawabnya.


Pria itu adalah Bara. Ia cukup kesal, saat mengetahui Bima masih hidup. Dengan setengah hati, ia menuruti sang Nenek. Membopong tubuh Bima yang tak sadarkan diri menuju gubuknya.


Perlahan, Bara meletakkan tubuh Bima di atas dipan. Sang Nenek memberikan sebuah baju pria. Kemudian, meminta Bara untuk menggantikan pakaian Bima yang basah.


"Tolong nenek sekali lagi, ya, Nak. Tolong gantikan baju cucu nenek."


Sebelah alis Bara terangkat tinggi mendengar ucapan sang nenek. Cucunya? Bukankah ini Bima? Pakaian ini pun, pakaian yang Bima pakai tadi. Kenapa dia malah bilang dia ini cucunya? batin Bara.


"Mau, 'kan, Nak?" desak sang nenek.


Sang nenek tersenyum dan menyerahkan pakaian yang dipegangnya pada Bara. Ia pun menuju dapur untuk membuatkan makanan serta minum untuk anak muda yang ia mintai tolong tadi.


"Nek, saya sudah selesai. Kalau begitu, saya permisi dulu," pamitnya.


"Tunggu, Nak. Minumlah dulu. Kau pasti lelah membantu nenek mengangkat tubuh cucu nenek tadi."


"Tidak usah, Nek," tolak Bara.

__ADS_1


"Apa dia itu cucu, Nenek?" tanya Bara kemudian.


"Iya," jawab Nenek itu sendu.


Air mata sang nenek mulai menetes deras. Terlihat jelas kesedihan di mata tua itu. Bara gelagapan menghadapi perubahan si nenek.


"Dia sudah berhari-hari menghilang. Saat itu, nenek memintanya mencari kayu bakar di hutan. Tapi, dia tidak juga kembali. Untung saja, nenek bisa menemukan nya di pinggir sungai. Tak apa, jika dia terluka. Yang terpenting, dia selamat dari bahaya," ucapnya di tengah tangisan.


"Saya mengerti. Nenek tidak perlu menangis. Semoga cucu, Nenek, cepat pulih." Bara mendoakan.


"Kalau begitu, saya permisi dulu," pamit Bara.


"Terima kasih, sudah menolong, Nenek," ucap si nenek tulus.


Bara hanya tersenyum lemah sebagai tanggapannya. Ia pun segera berlalu meninggalkan gubuk itu. Setelah memasuki hutan, senyum jahat muncul di wajahnya.


"Bagus. Lebih baik kau menghilang. Semoga saja, tidak ada yang bisa mengenali baumu," gumam Bara.


Pria itu segera melanjutkan langkahnya meninggalkan Bima bersama nenek tua tadi.


***

__ADS_1


sampai jumpa di part selanjutnya...


__ADS_2