
"Kenapa, Tres?" tanya Emi yang sempat mendengar gumaman Tresi.
Tresi menoleh dengan jari yang terus menunjuk ke arah luar. Emi mengikuti arah yang sahabatnya tunjukkan. Namun, ia tak melihat apa-apa selain kerumunan. Apa mungkin Tresi ingin ke sana?
"Lo, mau ke sana?" tanya Emi lagi.
"Bukan itu. Tadi, kayanya gue liat cowok itu deh," ucap Tresi. Matanya kembali memperhatikan kerumunan itu.
Jalan yang macet, membuat keduanya bisa memperhatikan kerumunan di sana lebih lama.
"Cowok? Siapa?"
"Yang ada dalam ingatan gue itu."
"Oh ...." Maksudnya Bima? "Gak ada, kok. Mungkin, Lo salah lihat."
"Mungkin," jawab Tresi seraya mengendikkan bahunya.
Jalan kembali lancar setelah terjebak macet selama hampir sepuluh menit. Tresi menutup kaca jendela mobil yang sempat ia buka, untuk melihat laki-laki yang ada dalam ingatannya.
Sementara itu, Bima yang sedang membantu nenek duduk sebentar di sudut keramaian kota, tiba-tiba membalik tubuhnya cepat. Ia mengedarkan pandangan ke segala penjuru. Bima bahkan mulai menggunakan penciumannya.
"Ada apa, Nak?" tanya nenek yang melihat Bima tengah mencari sesuatu.
"Aku mencium bau gadis itu, Nek," jawab Bima.
"Gadis?"
"Iya. Dia adalah gadis yang aku cintai," ujar Bima. Ia masih mengedarkan pandangan dan mencoba mempertajam penciumannya.
__ADS_1
Nenek pun membiarkan Bima memfokuskan pencariannya. Beberapa menit kemudian, Bima terlihat menghela napas. Ia terlihat lesu dan tak bersemangat.
"Apa kau tidak mencium baunya lagi?" teba sang nenek.
Bima menganggukkan kepala sebagai jawaban. "Baunya semakin menghilang," jawabnya lemah.
"Mungkin kau hanya salah mengenali bau," hibur sang nenek.
"Tidak, Nek. Setia manusia dan hewan, memiliki bau yang berbeda. Begitu pun dengan dia. Kami sempat tinggal bersama selama kurang lebih satu tahun. Jadi, aku sangat mengenal baunya."
Keduanya terdiam sesaat. Menatap kerumunan yang ada di depan mereka. Di sana, ada yang sedang melakukan atraksi lempar bola dan bermain hulahup.
***
Tresi mengedarkan pandangan, menatap bangunan yang pernah ia tinggali bersama Emi sekitar enam tahun yang lalu. Mencoba menggali ingatannya akan rumah itu. Sepintas bayang-bayang muncul dalam benaknya.
Ia memijit pelipisnya yang terasa sakit. Sebuah tepukan lembut terasa di pundaknya. Perlahan, Tresi membuka matanya, lalu menatap Emi.
Tresi tersenyum dan menganggukkan kepala menyetujui ucapan sahabatnya. Mereka pun masuk ke dalam kamar.
Sementara itu, Bima dan Nenek memasuki rumah yang menjadi kenangan antara dirinya dan Tresi. Bima menghirup dalam aroma yang masih tertinggal di sana. Terlalu banyak kenangan yang tercipta. Membuatnya tanpa sadar menitikkan air mata.
"Rumah ini sangat besar," gumamnya.
Bima menghapus air mata yang menetes tadi. "Iya. Oh, iya. Sebaiknya, Nenek, pilih kamar bagian bawah saja. Urusan bersih-bersih, biar aku saja," ujar Bima.
"Kalau begitu, biar nenek yang memasak," timpal sang nenek.
"Aku ke atas dulu, ya, Nek," pamit Bima.
__ADS_1
Nenek hanya mengangguk. Ia menatap punggung Bima hingga memasuki sebuah kamar. "Sepertinya, itu kamar gadis yang dicintainya. Sejak masuk, Pangeran selalu menatap kamar itu. Bahkan, sampai ia tak berkedip."
Bima menatap ke sekeliling kamar yang pernah Tresi tempati. Matanya beralih pada ranjang. Ia pun merebahkan diri di ranjang itu. Menghirup dalam aroma tubuh Tresi yang masih tertinggal di sana. Aroma yang begitu Bima rindukan.
"Aku sangat merindukanmu. Kau tahu, aku bahkan sampai merasa kau masih hidup, saat tak sengaja menghirup aroma ini," gumam Bima.
Tak ada siapa pun di sana, selain Bima. Entah pada siapa ia berbicara. Tangan Bima menyusuri setiap sudut ranjang, hingga lambat laun, ia tertidur.
***
Tresi menatap sekeliling hutan tempatnya berada. Ia tak mengerti, mengapa bisa berada di tempat itu. Namun, ia merasa tak asing dengan hutan itu. Tresi mulai menyusuri hutan itu. Dihirupnya dalam, aroma alam yang begitu ia sukai. Senyum tercetak di wajah cantiknya.
Wajahnya berubah pucat, saat melihat beberapa ekor serigala di sana. Tubuh Tresi bergetar ketakutan, melihat serigala-serigala itu melangkah mendekatinya. Sayang, kaki gadis itu tak mampu melangkah pergi. Seakan, telah menempel erat di sana.
Mulutnya sudah terlihat berteriak keras. Akan tetapi, tidak ada suara yang terdengar. Tresi semakin takut. Sekuat tenaga ia mencoba menarik kakinya. Begitu pun dengan suara. Sayang, semua usahanya, terasa sia-sia.
Keringat sudah mengucur deras di tubuhnya. Air matanya bakan sudah tak lagi mampu di tahan. Tresi berteriak sekencang-kencangnya. Namun, tidak juga mengeluarkan suara.
"Mau apa kalian? Pergi, jangan ganggu dia," ucap seorang pria yang entah sejak kapan sudah berdiri di depannya.
Suara itu ... apa dia laki-laki itu? tanya Tresi dalam hati.
Perlahan, pria itu berbalik dan tersenyum menatap Tresi. Pandangan mereka bertemu satu sama lain. Hembusan angin menerpa wajah mereka. Sepersekian detik lamanya, mereka hanya terdiam dan saling menatap.
"Kau, tidak bisa bersatu dengan dia!"
Suara itu menggema, hingga membuat mereka saling memutus tatapan. Kemudian, mencari siapa orang yang bicara pada mereka. Namun, tidak ada siapa pun di sana. Entah sejak kapan para serigala yang berada di sana menghilang.
"Kalian, tidak akan pernah bisa bersama!"
__ADS_1
Lagi, suara itu menggema, hingga hembusan angin yang kencang menerpa mereka. Tresi dan pria itu terdorong ke arah berlawanan.
"Tresi," pekik pria itu kencang.