
"Berani kalian menyentuh nenek ini, aku habisi kalian!" ancam Bima.
"Maaf, Pangeran, kami hanya melaksanakan perintah raja," ucap salah satu dari mereka.
Sang nenek yang mendengar pembicaraan mereka terkejut. Mungkin, ia tak mengira, jika anak muda yang ditolongnya adalah pangeran dari kerajaan serigala.
"Lepaskan!" titah Bima.
Mereka mulai melepaskan nenek itu. Bima segera membawa sang nenek menjauh dari sana. Sepanjang Bima membawanya pergi, sang nenek hanya menatap Bima.
"Nenek tunggu di sini. Biar aku menyelesaikan urusan dengan mereka."
Tak ada jawaban dari si nenek. Hanya anggukkan kepala saja yang Nenek berikan. Setelah melihat jawaban itu, Bima kembali ke tengah para prajurit.
"Sebaiknya, Pangeran, segera ikut kami ke istana," pinta salah seorang dari mereka.
"Sudah kubilang, aku tidak berniat menggantikan raja. Di sana, ada Bagas dan Bara yang bisa menggantikan kepemimpinan bangsa Werewolf," tolak Bima.
"Maaf, Pangeran, ini juga adalah permintaan rakyat."
Bima mendengus keras mendengar jawaban prajurit. Mau tidak mau, Bima harus menghabisi mereka.
"Sepertinya, aku harus menghabisi kalian," ujar Bima.
Para prajurit saling bertukar pandang, hingga akhirnya, mereka menyerang Bima. Beruntung, dengan bantuan nenek, ia bisa memulihkan tenaganya. Pertempuran pun terjadi. Beruntung, Bima mampu mengalahkan mereka dalam waktu yang singkat.
"Dengarkan aku baik-baik! Sekali pun aku menerima jabatan itu, Bara tidak akan tinggal diam. Dia pasti akan membunuhku dengan berbagai cara. Aku, tidak menginginkan permusuhan dalam keluargaku. Jadi, sampaikan pada Raja Alfonso, aku menolak menjadi Raja."
Bima meninggalkan tempat itu dan kembali ke gubuk nenek yang sudah merawatnya. Namun, di luar dugaan, sang nenek malah menunduk hormat padanya.
"Maafkan hamba, Pangeran," ucapnya.
"Nenek, tidak perlu meminta maaf," ucap
Bima sungkan.
__ADS_1
"Tidak, Anda, adalah calon pemimpin kami."
Bima mengerutkan dahinya dalam, mendengar ucapan nenek. Kami? Apa maksud nenek ini? batin Bima.
"Ah ... Pangeran, pasti tidak lagi bisa mengenali aroma serigala di tubuh saya. Karena saya, sudah menjadi manusia seutuhnya," ucap sang nenek yang mengerti dengan arti kerutan di dahi Bima.
"Manusia?" ulang Bima.
"Hmm."
"Bukankah, dari bangsa serigala hanya ada satu orang yang menjadi manusia?" tanya Bima.
Menurut berita yang ia dengar, hanya mantan raja Werewolf lah yang menjadi manusia seutuhnya. Lalu, bagaimana mungkin ada lagi yang lain? Itulah yang Bima pikirkan.
"Memang tidak ada yang tahu siapa saya. Karena saya hanya rakyat biasa." Nenek itu tersenyum.
Bima menganggukkan kepala mengerti. Pantas saja tidak ada yang tahu, rupanya hanya rakyat biasa, gumam Bima dalam hati.
"Bagaimana cara, Nenek menjadi manusia?" tanya Bima tiba-tiba.
"Tidak ada rahasia apa pun. Kebetulan, saya sudah tidak memakan daging selama ratusan tahun. Perlahan, aura memburu dan lapar seperti serigala mulai menghilang. Karena itu, tidak ada lagi yang bisa mengenal saya sebagai serigala," jawab sang nenek.
Bima terdiam. Ia merasa tak yakin, dengan cara sang nenek menjadi manusia. Kenapa semudah itu? Apa dia tidak sedang mengarang cerita?
"Saya tahu, Pangeran, tidak akan percaya. Dengan cara seperti itu, memang butuh waktu hampir seumur hidup, untuk bisa menjadi manusia seutuhnya. Jika Pangeran ingin tahu cara yang lebih cepat, hanya dengan menikahi manusia," lanjut sang nenek.
Bima mendongakkan kepala mendengar jawaban sang nenek. Menikah dengan siapa? Selama ini, hanya Tresi dan Emi, manusia yang dekat denganku. Tresi, mungkin sudah berada di surga sana. Sementara Emi, aku tak bisa bersama dengannya.
"Pangeran," panggil sang nenek. Ia menyentuh lengan Bima.
Hal itu membuat Bima terjingkat kaget. "Aku ... tidak mungkin bisa menikah dengan manusia lain," ucap Bima lirih.
Nenek itu tersenyum tipis. "Kalau begitu, Pangeran, bisa hidup selayaknya manusia dan berbaur dengan manusia," ucapnya.
"Nenek, benar. Apa, Nenek, mau tinggal dengan aku di kota? Nenek, bisa menjadi nenekku."
__ADS_1
Nenek itu tersenyum dan menganggukkan kepala menyetujui permintaan Bima.
***
Tresi dan Emi pun memutuskan kembali ke kota tempat mereka tinggal dulu. Setelah mendapat izin dari ayah Tresi.
"Kalau ada apa-apa, segera hubungi ayah," pinta Darwin.
"Iya, Ayah. Kami berangkat dulu," pamit Tresi.
Darwin memeluk putri semata wayangnya erat. Mengecup puncak kepalanya berkali-kali sebelum melepas kepergian sang putri.
"Emi, om titip Tresi," ucapnya pada Emi.
"Iya, Om."
Keduanya melambaikan tangan pada Darwin. Tresi menghela napas kasar setelah bayangan sang ayah menghilang.
"Mau batal pergi?" tawar Emi.
Tresi menggelengkan kepalanya. Gadis itu pun membuang pandangan ke luar jendela.
"Kalau lo gak yakin, kita bisa balik lagi, kok. Mumpung belum jauh."
"Gak, Em. Gue cuma takut, kalau ternyata, hilangnya ingatan gue ini karena hal buruk," terang Tresi.
Apa yang Tresi katakan adalah kebenaran. Mendengar ucapan Tresi, Emi mengusap bahu sang sahabat lembut.
"Ada beberapa bagian yang memang menyakitkan untuk diingat. Ada pula yang tidak. Buktinya, kau mengingat semua kenangan indah kalian, 'kan?"
Tresi membenarkan ucapan Emi dengan anggukkan kepala. Tak bisa ia pungkiri, kenangan bersama pria dalam ingatannya begitu membekas. Apakah, ingatan tentang rasa sakit itu jauh lebih menyakitkan, hingga membuat aku melupakan kenangan pahit itu?
"Ayo, kita sudah sampai!"
Ucapan Emi, mengejutkan Tresi. Ia tak menyadari, seberapa lama dirinya larut dalam angan.
__ADS_1
Saat turun, ia melihat seseorang yang masih tersimpan dalam ingatannya. "Dia ...."