My Beloved Werewolf

My Beloved Werewolf
Ch. 35 >> Membawa paksa


__ADS_3

"Merindukan seseorang adalah bagian dari mencintai mereka. Jika kamu tidak pernah berpisah, kamu tidak akan pernah benar-benar tahu seberapa kuat cintamu."


Sebuah kata bijak yang mungkin bisa menggambarkan perasaan Bima saat ini. Ya, dulu, Bima mendekati Tresi hanya karena mutiara yang ada di tubuh Tresi. Namun, saat mereka terpisah, Bima merasa kosong. Ada yang hilang dalam hidupnya.


Kini, orang yang ia rindukan berdiri di hadapannya. Perlahan, Bima berjalan mendekati Tresi. Waktu seakan terhenti saat pandangan Bima dan Tresi tertuju satu sama lain.


Tangan Bima terulur menyentuh Tresi. Perlahan, senyum di bibir Bima mengembang. Begitu pun dengan Tresi. Mata mereka saling menatap penuh kerinduan.


"Kau masih hidup?" tanya Bima lirih.


Tresi menganggukkan kepala. Bila menarik Tresi ke dalam pelukannya. Mencium pucuk kepalanya berkali-kali. Air matanya mengalir membasahi kedua pipi pria itu. Perlahan, Tresi membalas pelukan Bima.


"Aku minta maaf. Karena aku takut melihat kepergian mu, aku justru meninggalkanmu sendiri," ucap Bima.


Tidak ada sahutan dari bibir Tresi. Gadis itu hanya membenamkan wajahnya di dada Bima. Menghirup dalam aroma tubuh Bima yang begitu ia rindukan.


"Aku bahkan tidak percaya, aku bisa selamat," jawab Tresi.


Sebuah dehaman, membuat mereka melepaskan pelukan. Keduanya menatap Emi yang memicingkan mata.


"Kalian gak kasihan sama aku yang jomblo ini?" tanya Emi dengan wajah cemberut.


Tresi melipat bibir menahan senyumannya. Sementara Bima, tersenyum kikuk pada gadis yang menjadi sahabat dari kekasihnya.


"Sorry, Em," ucap Tresi.

__ADS_1


"Niat cari pacar ganteng, eh ... malah nganterin Tresi ketemu jodohnya," gerutu Emi kesal.


Bima dan Tresi terkekeh mendengar gerutuan Emi.


***


Tresi duduk di cafe bersama dengan Emi. Keduanya menunggu Bima selesai dari pekerjaan. Semua itu, atas permintaan Bima.


Dari kejauhan, wanita yang sempat muncul di rumah Bima pun tersenyum menatap mereka. "Akhirnya, kalian bisa bersama." Ia pun pergi meninggalkan tempat itu.


Bima tak sengaja melihat wanita itu. Ia mengerutkan dahi dalam melihat keberadaannya.


"Siapa dia? Kenapa dia memperhatikan Tresi dan aku?" tanya Bima pada dirinya sendiri.


"Hei! Kok, bengong?" tanya Tresi.


Bima menoleh dan tersenyum. "Gak ada apa-apa. Tunggu sebentar, aku rapikan cafe dulu." Bima segera melanjutkan pekerjaannya, saat melihat Tresi mengangguk.


Tresi pun kembali ke tempatnya.


Tiga puluh menit kemudian, Bima sudah menyelesaikan pekerjaannya. Mereka bertiga berjalan bersama ke rumah yang Tresi tempati bersama Emi. Dalam perjalanan, Emi menceritakan semua yang terjadi pada Tresi, setelah ia pergi.


Setelah mendengar cerita Emi, Bima merasa bersalah. "Aku minta maaf, ya, Em," ucap Bima.


"Kenapa lo minta maaf? Lo itu gak salah, Bim," jawab Emi menenangkan.

__ADS_1


"Sebelum aku kembali pada Tresi, aku bertemu dengan para tetua. Mereka menceritakan sebuah cerita dari mereka. Bahwa manusia yang menelan mutiara kami, tidak akan pernah bisa selamat. Karena itu, saat mutiara itu kembali, aku tidak sanggup kehilanganmu. Aku takut, hingga akhirnya aku putuskan pergi sebelum kau benar-benar pergi dariku."


"Sudahlah. Semua sudah berlalu. Sekarang, aku masih berpijak pada bumi. Sebaiknya, kita lupakan masa lalu."


Bima dan Emi menganggukkan kepala. Bima menggandeng tangan Tresi.


"Gue masuk dulu, ya," pamit Emi.


Tresi dan Bima menganggukkan kepala. Mereka saat ini sudah tiba di rumah yang Tresi dan Emi tempati. Setelah melihat Emi masuk, Tresi dan Bima duduk di teras. Belum sempat mereka bicara, muncul dua orang di hadapan mereka.


"Mau apa kalian di sini?" tanya Bima pada mereka.


"Silakan ikut kami, Pangeran," ucap mereka.


Bima mendengus kesal pada kedua utusan ayahnya. "Bukankah aku sudah menolak menjadi raja?"


Tresi hanya terdiam memperhatikan mereka. Ia tidak mengerti, harus bereaksi seperti apa.


"Maaf. Kali ini, bukan hanya, Pangeran, yang harus ikut. Tapi, manusia ini juga!"


Dahi Bima berkerut tajam mendengar ucapan itu. "Untuk apa?" tanya Bima sengit.


"Kau tidak perlu tahu!"


Sebuah suara muncul dari belakang Bima dan Tresi. Membuat mereka menoleh seketika. Namun, pria yang muncul dari belakang mereka, segera memukul Bima hingga pingsan. Kemudian, membawa pasangan itu secepat kilat.

__ADS_1


__ADS_2