My Beloved Werewolf

My Beloved Werewolf
Ch. 28 >> Bima sadar


__ADS_3

Dua hari berlalu, istana masih digemparkan dengan hilangnya Bima. Sementara Bara, seakan menutupi keberadaan Bima dengan kekuatannya. Bagas tahu, ada sesuatu yang disembunyikan Bara.


"Aku yakin kau mengetahui keberadaan Bima," ucap Bagas saat Bara melintas.


Mau tidak mau, Bara menghentikan langkahnya. Sifatnya yang temperamental, membuat Bagas menyunggingkan sedikit senyum. Ia merasa yakin, Bara akan mudah terpancing emosinya. Saat itu, secara tidak sadar ia akan mengatakan keberadaan Bima. Pancingan? Itu mungkin saja.


"Apa kau sedang mencurigaiku?" tanya Bara datar.


Bagas hanya mengendikkan bahunya acuh. "Aku hanya menebaknya," jawab Bagas.


"Itu bukan sebuah tebakan. Tapi lebih kepada tuduhan!" Bara segera berlalu dari sana.


Melihat ekspresi wajah Bara yang datar, membuat Bagas tak mampu menebak isi pikirannya. Benarkah kau tidak tahu? Melihat sikap tenangmu, membuatku tidak bisa membaca rencana yang akan kau jalankan.


Sementara di sebuah gubuk sederhana, seorang nenek tua sedang melumuri ramuan pada luka di tubuh pria yang ia temukan di sungai tempo hari. Pria itu sendiri, masih belum sadarkan diri. Selesai melumuri ramuan, nenek bangkit berdiri.


"Tresi, Tresi," gumam pria itu.


Sang nenek yang baru melangkah pun berhenti dan berbalik. Tak lama, mata pria itu mulai terbuka. Nenek kembali duduk di sampingnya.


"Akhirnya, kau sadar," ucap sang Nenek senang.

__ADS_1


"Aku di mana?" tanyanya lirih.


"Kau ada di gubuk nenek." Senyum terukir di wajah tua nenek.


"Terima kasih sudah menolong saya, Nek. Tapi, Nenek, bisa berada dalam bahaya kalau menolong saya," ucap Bima pelan.


"Tidak masalah. Nenek justru senang bisa merawatmu."


"Siapa namamu, Nak?" tanya Nenek kemudian.


"Nama saya, Bima," jawabnya.


"Maaf, bolehkah nenek mengganti namamu?" tanya nenek itu.


Bima tertegun. Ia merasa akan membahayakan keselamatan sang nenek, bila terus berad di tempat itu. Perlahan, Bima segera bangun dari tidurnya. Ia berniat meninggalkan gubuk.


Sayang, tenaganya belum benar-benar pulih. Karena itu, Bima terjatuh saat mencoba berdiri.


"Kau belum pulih benar. Sebaiknya, kau istirahat lebih lama," saran sang nenek.


"Aku tidak ingin, Nenek, celaka. Sebaiknya, aku segera pergi meninggalkan tempat ini," ucap Bima.

__ADS_1


Namun, ia tak bisa memungkiri, bahwa kondisinya saat ini, benar-benar tidak baik-baik saja. Nenek pun tetap membantu Bima kembali berbaring di atas dipan.


"Maaf, sepertinya, aku akan menyusahkan, Nenek, untuk beberapa hari ke depan," ucapnya.


"Tidak masalah. Nenek akan merawatmu dengan baik. Mereka tidak akan menemukanmu, selama kau memakai ramuan ini," ucap sang nenek.


Bima menghirup aroma yang dikeluarkan oleh dedaunan di tubuhnya. Harum, itu yang bisa Bima deskripsikan. Harus dari daun apa, Bima pun tak tahu. Pasalnya, ia tidak pernah mencium aroma ini.


Ramuan ini, bisa menghilangkan aromaku, ucapnya dalam hati.


"Maaf, Nek. Boleh saya tahu daun apa saja yang, Nenek, pakai?" tanya Bima. Ia terus mengendus bau tubuhnya sendiri.


"Itu hanya dedaunan yang tumbuh di halaman rumah ini," jawab Nenek.


Bima menganggukkan kepala mengerti. Mungkin, aku akan belajar dari nenek ini, cara mendapatkan ramuan penghilang aroma ini nanti, gumam Bima.


"Istirahat lah," titah sang nenek.


Tak lama, Bima mulai memejamkan mata. Nenek itu pun, meneruskan kegiatannya yang sempat tertunda.


***

__ADS_1


Dikit dulu ya gaes... kemarin gak sempat Yo🙏


__ADS_2