My Beloved Werewolf

My Beloved Werewolf
Ch. 22 >> Perubahan


__ADS_3

Sudah lebih dari satu tahun sejak Bima kembali ke kerajaannya. Sejak itu pula, tak sekali pun Bima meninggalkan tempat itu. Beberapa kali Bagas mengajaknya berburu hewan. Namun, Bima selalu menolak. Bahkan, Bara yang sempat berselisih dengannya, merasa tak suka melihat keadaan Bima.


"Ayo, kita duel!" ajak Bara tanpa basa-basi.


"Tidak, terima kasih," tolak Bima.


Ia kembali memfokuskan dirinya pada pekerjaan. Bara mendesah kesal melihat hal itu. Ia pun memilih pergi dari sana.


Tak lama setelah kepergian Bara, seseorang datang menghampiri Bima. Hanya duduk di samping Bima, tanpa bicara. Selama beberapa menit, mereka hanya terdiam.


"Ada perlu apa kau menemuiku?" Bima memulai pembicaraan tanpa menatap orang yang duduk di sampingnya.


Hening, tidak ada jawaban yang keluar dari orang yang ada di samping Bima. Tak mendengar jawaban apa pun, membuat Bima menoleh. Bima bersedekap menatap wanita yang duduk di sampingnya.


"Ursula," panggilnya.


Panggilan itu berhasil membuat sang wanita yang ternyata adalah Ursula menoleh. Hanya beberapa detik, sebelum ia kembali mengarahkan tatapannya ke depan.


"Maaf," ucap Ursula pada akhirnya.


Bima mengerutkan dahinya, saat mendengar ucapan Ursula. "Kenapa kau minta maaf?"


"Aku sudah mendengar, apa yang terjadi antara kau dan manusia itu."


Bima memalingkan wajah. Pembahasan tentang Tresi, selalu membuatnya merasakan sakit kehilangan. Karena itu, Bima memilih meninggalkan Ursula di sana.


Ursula menatap Bima hingga menghilang.


***


Di sebuah desa, yang cukup asri dan jauh dari hutan. Seorang gadis mulai membuka matanya perlahan. Menatap langit-langit kamar itu kosong. Entah sudah berapa lama ia tertidur. Saat ia akan menggerakkan tubuhnya, ia tak mampu.


Berapa lama aku tak sadarkan diri? Lagi pula, ini di mana? tanyanya dalam hati.


Beberapa lama ia terdiam, mengernyitkan dahi dalam, seolah tengah mengingat sesuatu. Namun, justru rasa sakit yang ia dapat.

__ADS_1


"Tres, Lo udah sadar?" tanya Emi yang baru saja masuk ke kamar.


"Ka-ka-mu sia-pa?" tanyanya terbata.


Emi tertegun. Hampir satu tahun Tresi tak sadarkan diri, dengan kondisi lemah, Emi selalu menemaninya. Namun, saat ia tersadar, Tresi melupakan dirinya. Air mata Emi jatuh berderai saat melihat hal itu.


Tak lama, seorang pria paru baya masuk. Senyum lembut tersungging di bibirnya. Ia mendekati ranjang Tresi dan memeriksa kondisinya.


"Kondisimu sudah membaik." Senyum tak luntur dari wajahnya.


Tresi menatap pria itu lekat. "A-yah," ucapnya terbata.


"Iya, Nak. Ini ayah," jawab pria itu.


"Om, kenapa Tresi bicaranya terbata begitu?" tanya Emi.


"Itu sesuatu yang wajar. Tresi mengalami koma selama lebih dari satu tahun. Dia harus kembali belajar berjalan dan bicara. Saraf dalam tubuhnya, harus kembali dilatih," terang ayah Tresi.


"Terus, kenapa dia gak kenal sama Emi?"


"A-ku i-ngat, A-yah," ucap Tresi.


"Apa kau tidak mengingatku?"


Tresi menggelengkan kepala. Emi menatap sedih sahabatnya.


"Sabar, Em. Sepertinya, Tresi hanya kehilangan sebagian ingatannya. Mudah-mudahan, ini hanya sementara."


"Amin."


***


Ursula kembali mencari Bima ke istana. Namun, ia tak kunjung bertemu dengan pria, yang masih menempati hatinya itu. Sudah seluruh istana ia kelilingi. Tak satu pun dari tempat itu yang Bima kunjungi.


"Pangeran Bagas!" panggil Ursula.

__ADS_1


Bagas yang akan menuju perpustakaan pun menghentikan langkahnya. "Ada apa?" tanyanya saat Ursula sudah berdiri di samping.


"Apa, Pangeran, tidak melihat Bima?"


"Bima sudah pergi. Dia bilang, ingin menepi untuk beberapa saat. Ada apa kau mencarinya?"


"Ah, tidak. Saya hanya ingin mengajaknya ke suatu tempat," jawab Ursula.


"Sepertinya, dia tidak akan kembali dalam waktu dekat." Bagas segera berlalu meninggalkan Ursula.


"Apa mungkin dia di pondok?" gumam Ursula.


Ia segera berlari secepat kilat. Namun, pondok itu terlihat tak tersentuh. "Dia kemana, ya?"


Ursula kembali berjalan menyusuri hutan. Mencari keberadaan Bima. Saat itu, matanya menangkap keberadaan Bima di atas jembatan.


"Apa Bima mau bunuh diri?" gumamnya.


Ursula segera menyusul Bima. Ia tak akan biarkan, kekasihnya mati. "Tidak!"


***


Kira-kira, apa Bima beneran bunuh diri? tunggu part selanjutnya ya.. sambil nunggu, yuk kepoin cerita ini:



Seorang putra baron yang dianggap sampah kini dikirim ke sebuah desa yang tengah dilanda oleh para bandit.


Pemuda ini terluka, ia menggertakkan giginya karena tujuan dirinya sama sekali belum tercapai, akan tetapi ia meninggal terlebih dahulu.


Kematian pemuda itu mendatangkan satu jiwa yang melayang. Jiwa itu ialah orang yang berasal dari bumi tahun 2983.


Dua jiwa bergabung menjadi satu, keinginan dan tekad saling terjalin.


Satu tujuan yang harus mereka capai, yaitu ialah...

__ADS_1


Menghancurkan Dunia


__ADS_2