
Tresi mulai mengingat bayangan pria yang selalu hadir dalam mimpinya. Meski untuk nama, ia sendiri belum mengetahuinya. Namun, wajah pria itu mampu membuatnya tersenyum.
Emi yang baru saja datang, memicingkan mata melihat senyum di wajah sahabatnya. Tresi bahkan tak menyadari kehadiran Emi di sana.
"Lagi inget siapa, sampai senyum begitu?" tanyanya.
Pertanyaan Emi, mampu memutus lamunan Tresi. Membuat gadis itu terkejut melihat kehadiran sang sahabat.
"Sejak kapan, lo ada di sini?" Tresi bertanya balik.
"Dari tadi. Lo, aja yang kebanyakan ngelamun." Emi beranjak dari duduknya.
Gadis itu mengambil air minum, untuk sekedar membasahi tenggorokannya yang terasa kering. Belum selesai Emi menenggak air minumnya, ia dibuat tersedak oleh ucapan Tresi.
"Bagaimana kalau kita kembali ke kota? Gue merasa ada bagian ingatan yang hilang di sana," ucapnya santai, tetapi mampu membuat Emi terkejut.
"Lo ... udah inget sesuatu yang pernah terjadi di sana?" tanya Emi dengan wajah terkejut.
"Hmm. Tapi, hanya wajah pria itu," jawab Tresi.
"Hubungan kalian?"
"Sepertinya ... spesial."
"Apa kau ingat, jika pernah ada sebuah mutiara yang masuk ke tubuhmu?" Lagi, Emi bertanya.
__ADS_1
Tresi mengerutkan dahinya dalam. Sepertinya, ia tidak mengerti dengan maksud pertanyaan Emi.
"Mutiara apa?"
Melihat reaksi Tresi, Emi akhirnya mengerti, bila ingatan Tresi belum sepenuhnya pulih. Gue pikir, Tresi udah inget semuanya? Ternyata, baru sebagian, gumamnya dalam hati.
"Mutiara apa yang kau maksud?"
Kali ini, bukan Tresi yang mempertanyakannya. Melainkan seseorang yang baru saja berdiri di ambang pintu. Kedua gadis itu menoleh bersamaan.
"Ayah," ucap Tresi.
Rupanya, Darwin sempat mendengar pembicaraan mereka. Sementara itu, Emi meneguk salivanya kasar. Masalah mutiara tadi, jelas hanya dirinya, Tresi serta Bima yang tahu. Namun, kini ayah Tresi pasti akan mempertanyakannya.
Darwin mendekat ke arah anak gadis kesayangannya. Tersenyum dan mengecup dahi sang putri lembut.
"Begini, Om ...." Emi tak mampu meneruskan ucapannya.
Rasa cemas mulai mendera dirinya. Takut, bila ayah dari sahabatnya ini tahu, jika Tresi, sang putri, menjalin hubungan dengan pria yang bukan dari kalangan manusia.
"Tidak apa. Bicara saja." titah ayah Tresi.
"Sebaiknya ... Om, tunggu ingatan Tresi pulih saja. Dia, jauh lebih tahu dengan apa yang terjadi," elak Emi.
Tresi menunjuk dirinya sendiri. Emi menganggukkan kepala yakin.
__ADS_1
"Kenapa harus gue?" tanya Tresi.
"Karena cuma Lo yang tahu detailnya," ujar Emi.
Diam, itu yang Tresi lakukan saat ini. Sementara Darwin, masih menunggu.
"Jujur, aku belum ingat sepenuhnya dengan masa lalu yang hilang. Tapi, ada satu wajah yang selalu terbayang."
"Sudah, jangan dipaksakan,. Nantinya, kau pasti akan mengingat semua," ucap Darwin seraya mengusap lembut rambut Tresi.
"Iya, ayah," jawabnya.
***
Setelah beristirahat, Bima merasa tubuhnya kembali segar. Ingin ia menghirup udara segar. Namun, langkahnya terhenti, saat pasukan istana terlihat tengah berpatroli.
"Apa mereka masih mencariku?" tanyanya dalam hati.
Bima kembali mengintip. Di sana, Nenek yang menolong Bima baru saja datang dengan ranting di tangannya. Namun, langkah nenek itu terhenti, kala para prajurit menghadangnya.
Bima tidak tahu, apa yang tengah mereka bicarakan di sana. Tak ingin gegabah, Bima memutuskan untuk mengawasinya dari dalam rumah.
Kedua mata Bima melotot tajam melihat mereka bertindak seenaknya. Tangannya terkepal erat. Ia pun tak mampu menahan diri lebih lama. Bima, keluar dari persembunyiannya.
"Berhenti!"
__ADS_1
***
Sorry guys, blm bisa panjang🙏