
Bima membuka matanya cepat. Rupanya ia memimpikan Tresi. Mimpi terburuk, yang mungkin pernah ia alami. Pria itu terduduk dan mengusap wajahnya kasar.
"Kami memang tidak akan bisa bersama. Kau sudah pergi meninggalkanku lebih dulu," gumam Bima. "Setelah bertahun-tahun, ini kali pertama aku memimpikanmu. Apa aku terlalu merindukanmu?"
Ada sesak yang merasuk hingga relung jiwanya. Bima bangun dari ranjang Tresi. Memilih membersihkan debu dari kamar ini. Sekaligus, mengenang semua yang pernah mereka lalui.
Bima seakan bisa mendengar tawa Tresi yang menggema. Bahkan, wajah gadis itu pun terus melintas di pelupuk matanya. Selesai membereskan kamar Tresi, Bima melangkah keluar. Kali ini, ia melangkahkan kaki ke dapur.
Tangannya menyusuri setiap tempat yang Tresi gunakan. Meja makan, wastafel, kulkas, kompor, bahkan peralatan masak dan makan. Kenangan itu seakan terkunci di sini. Bima tersenyum menatap seluruh area rumah.
"Kau pasti kembali mengingat gadis yang kau cintai itu."
Ucapan sang nenek, mengalihkan perhatian Bima. Pria itu tersenyum seraya menghampiri nenek.
"Iya, Nek. Setelah empat tahun lebih, dia bahkan masuk ke dalam mimpiku."
"Benarkah?"
Bima menganggukkan kepala. "Di mimpi itu, ada suara yang mengatakan, jika kami tidak akan bisa bersama," ucap Bima sedih.
Nenek mengusap pundak Bima lembut. "Mungkin, dia bukan jodoh untukmu."
Tak ada sanggahan dari Bima. Ia merasa, apa yang nenek bicarakan memang benar. Entah siapa nenek ini sebenarnya. Ia sangat tahu, cara menenangkan hati Bima.
__ADS_1
Sementara di rumah yang Tresi tempati bersama Emi. Tresi terbangun dengan tubuh yang dibanjiri keringat. Baru saja ia bermimpi buruk.
"Lo, baik-baik aja, 'kan?" tanya Emi yang akhirnya bisa membangunkan Tresi.
Gadis itu terkejut, saat mendengar teriakan Tresi. Ia sempat berpikir, bila ada sesuatu di kamar. Namun, saat ia masuk, Tresi tengah tertidur. Keringat sebesar biji jagung membasahi dahinya.
Tresi menganggukkan kepala. Ia mengatakan, jika ia baru saja bermimpi buruk. Kemudian, mulai menceritakan isi mimpinya itu. Emi mendengarkan dengan seksama.
"Jadi, dia nolongin Lo dari serigala-serigala itu?" tanya Emi.
"Terus, ada suara yang bilang, kalau kalian tidak akan bisa bersama?"
Tresi menganggukkan kepala cepat sebagai jawaban. Emi terdiam cukup lama. Seakan sedang mencerna cerita Tresi. Apa mungkin karena mereka memang berbeda? Satu serigala, satu manusia? Sepertinya begitu.
***
"Lakukan semua yang ingin kau lakukan," ucap Nenek saat Bima menyampaikan keinginannya.
Karena itu, Bima mencoba melakukan kegiatan yang manusia lakukan. Ia bahkan berniat membuka usaha. Bima pun mulai mencari lokasi untuk usahanya. Sebuah bangunan klasik, yang berada tak jauh dari kampus Tresi dulu menjadi pilihan Bima. Dulu, tempat itu adalah minimarket.
Bima melihat, ada peluang untuknya membuka usaha. Nenek yang ikut dengannya melihat lokasi, memberikan ide pada Bima.
"Bagaimana, jika kau membuat sebuah tempat makan? Lebih bagus lagi, jika semua menu yang tersedia, adalah kesukaan para muda-mudi. Seperti, tempat yang nyaman bagi mereka yang mengerjakan tugas sekolahnya." Seperti itulah, ide yang nenek berikan.
__ADS_1
"Nenek, benar. Dulu saat kekasihku mengerjakan tugas, dia selalu membawa makanan ringan dan minuman sebagai teman mengerjakan tugasnya." Bima menyetujui ide itu.
"Kalau begitu, nenek akan bantu membuatkan resep makanan ringan yang enak," ujar sang nenek.
"Terima kasih, Nenek sudah membantuku," ucap Bima tulus.
"Karena kamu sudah nenek anggap cucu sendiri."
Bima pun memeluk nenek dengan penuh kasih sayang. Sosok wanita lainnya, yang mampu membuat Bima kuat menghadapi hidup. Setelah itu, Bima dan nenek melakukan survey ke beberapa tempat. Mencari tahu, seperti apa makanan yang di sukai para muda-mudi.
Di tempat berbeda, Tresi dan Emi bersiap menuju hutan. Setelah sekian lama membujuk Emi, akhirnya Tresi berhasil. Kini, mereka mulai meninggalkan rumah. Tresi menatap sekelilingnya. Kembali menggali ingatan yang entah mengapa bisa menghilang.
Menurut cerita Emi padanya, Tresi tidak mengalami kecelakaan yang menyebabkan kepalanya mengalami benturan. Ia hanya mengalami koma panjang. Selama hampir satu tahun, ia terbaring lemah.
"Apa, lo merasa familiar dengan tempat ini?" tanya Emi.
Mereka melewati sebuah rumah tua, yang sempat menjadi tempat tinggal Tresi dulu. Langkah mereka terhenti. Tresi menatap bangunan itu tak berkedip. Kemudian, memejamkan mata seakan tengah mengingat sesuatu.
"Iya. Tapi, siapa laki-laki itu?"
"Sudah, jangan dipaksakan. Lo, aja baru bisa inget gue, setelah dua tahun lebih. Apalagi inget dia? Mungkin, butuh waktu cukup lama," ujar Emi.
"Mungkin. Ayo, kita jalan lagi," ajak Tresi.
__ADS_1
Mereka kembali melangkah meninggalkan rumah itu. Tanpa keduanya sadari, seseorang melihat keberadaan Tresi.
"Bukankah kabarnya dia sudah mati? Lalu, kenapa dia ada di sini?"