My Beloved Werewolf

My Beloved Werewolf
Ch. 39 >> Kecemburuan sang ayah


__ADS_3

Bara merasakan tubuhnya melemah. Kekuatannya benar-benar tak bisa ia gunakan. Sementara Darwin, segera menghampiri putri dan calon menantunya.


"Ayah baik-baik saja?" tanya Tresi.


Darwin tersenyum menenangkan. Ia membantu Bima bangun. Ketiganya menghampiri Dewi. Melihat kedatangan mereka, senyum terbit di wajah cantik sang Dewi.


"Kau pantas untuk bahagia," ujar Dewi menatap Bima.


"Terima kasih. Tapi ... kenapa aku merasa familiar dengan Dewi?"


Dewi terkekeh mendengar ucapan Bima. Ia mulai memejamkan mata dan merubah dirinya ke wujud yang Bima kenal. Kedua mata Bima membola sempurna melihat wujud itu. Bara yang masih ada di sana pun, mengerutkan dahi dalam melihatnya.


"Apa sekarang kau sudah mengenalku, Nak?" tanya Dewi.


"Nenek!" seru Bima senang. "Ternyata, Dewi sendiri yang menolongku."


"Ya. Karena itu aku tahu, Bara ingin membunuhmu dan Tresi."


Bara menundukkan kepalanya dalam mendengar penuturan Dewi. Ingin mengelak pun tak akan bisa. Karena ia menghadapi Dewi dari bangsanya sendiri. Yang sudah bisa dipastikan, mengetahui isi hati dan pikirannya.


Bima pun mengalihkan tatapannya pada Bara. "Kenapa kau ingin membunuhku? Bukankah sejak awal sudah kukatakan, bila aku tidak menginginkan posisi raja?" tanya Bima.


"Entahlah!" jawabnya lirih.


"Bara," panggil Dewi.


Panggilan itu membuat Bara mengangkat pandangannya. Ia menatap Dewi tersebut datar.


"Rasa iri yang ada dalam dirimu, perlahan akan menghancurkan mu. Mulai sekarang, kau harus bisa mengendalikannya. Aku yakin, kau pasti bisa." Sang Dewi menepuk lembut bahu Bara.


Mendengar sang Dewi memberinya semangat, membuat Bara merasa malu. Ia sadar, rasa iri sudah menghancurkan dirinya.


"Dewi, bolehkah aku bertanya?"


Sang Dewi menoleh ke sumber suara. Di sana, Darwin lah yang memanggilnya.


"Mengapa Tresi tidak memiliki sedikit saja kekuatan bangsa Werewolf, padahal dia masih keturunanku?" tanyanya.


Sejujurnya, pertanyaan itu sudah lama ingin ia tanyakan. Namun, ia tidak tahu harus bicara pada siapa. Pernah ia menemui para tetua bangsa Werewolf, tetapi mereka mengatakan tidak mengetahui rahasia itu.


Mendengar pertanyaan Darwin. Sang Dewi tersenyum dan mengalihkan tatapannya pada Tresi.


"Karena gen manusia dalam tubuhnya lebih dominan. Kau tidak lupa, 'kan jika kekuatanmu sudah tersegel dan tubuhmu sudah berubah menjadi manusia? Karena itu, dia tidak akan bisa memilikinya."


Darwin dan Bima menganggukkan kepala mengerti. Bima tersenyum pada Tresi. Ia menggenggam tangan Tresi erat.


"Tapi ...." Dewi menjeda ucapannya dan menatap mereka bergantian.


"Jika kau yang melatih salah satu kemampuan itu, dia akan memilikinya. Meski hanya satu. Entah ketajaman penciuman, atau lainnya."


"Mungkin sebaiknya tidak," ucap Darwin.


Bima menganggukkan kepala, menyetujui ucapan Darwin. Sang Dewi hanya tersenyum. Semua keputusan, tetap berada di tangan mereka.

__ADS_1


"Kalau begitu, sudah waktunya aku kembali," pamitnya.


Sang Dewi berbalik dan menatap Bagas yang sejak awal hanya terdiam. Ia tersenyum pada pria itu.


"Mulai sekarang, pimpin bangsamu dengan segala kebijakan yang kamu miliki. Untuk kedamaian bangsamu, kau bisa meminta bantuan Bima dan Darwin."


"Ba-baik, Dewi," jawabnya terbata.


"Satu lagi, Pastikan ayah dan adikmu Bara, kau tempat di tempat yang tepat. Kau bisa menempatkan ayahmu di hutan terdalam. Sementara Bara, harus mengembara ke seluruh hutan di dunia."


"Sa-saya harus mengembara?" tanya Bara memastikan pendengarannya.


"Benar. Itu hukuman yang tepat untukmu."


Alfonso tak berani menentang perintah yang sudah ditetapkan. Prajurit mulai menggiringnya menuju hutan terdalam.


***


Huru hara di negeri Werewolf akhirnya usai. Sang Dewi sudah kembali ke tempatnya. Era baru, akan segera dimulai. Bima dan Tresi berjalan meninggalkan hutan bersama Darwin.


Sengaja, Darwin berada di antara mereka. Sebagai ayah, ia merasa tidak rela, kehilangan putri semata wayangnya.


"Paman, apa aku tidak boleh menggandeng tangan putrimu?" tanyanya.


"Tidak!" tolak Darwin tegas.


Tresi terkekeh mendengar nada suara ayahnya yang terkesan galak. Sementara Bima, hanya mampu menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Selama kalian belum menikah, kau tidak boleh mendekati putriku!" seru Darwin lagi.


"Ayah, kita harus bertemu dengan Emi dulu, 'kan?" tanya Tresi.


"Itu benar. Karena kalian harus kembali ke rumah ayah. Tidak mungkin ayah biarkan kalian tinggal satu atap!" Darwin menatap Bima sengit.


"Tapi, Tresi dan Bima pernah tinggal satu atap hanya berdua, selama hampir satu tahun," bisik Tresi seraya menggelayut manja pada sang ayah.


"Apa?" tanya Darwin dengan suara meninggi.


Bima membulatkan mata mendengar suara Darwin yang menggelegar. Saat menatap mata ayah dari kekasihnya itu, Bima mengerjap cepat seraya meneguk salivanya yang terasa sulit.


"Ayah dilarang marah sama pacar aku!" seru Tresi saat menyadari wajah sang ayah yang sudah memerah.


"Ayah tidak marah," elaknya.


Tresi semakin menggelayut manja pada sang ayah. Ia sangat tahu, cara meredakan amarah sang ayah padanya.


"Aku juga ingin dipeluk seperti itu," gumam Bima.


"Tidak boleh!" Darwin menatap tajam Bima. Ia bisa mendengar dengan jelas gumaman Bima.


Senyum kikuk, Bima tunjukkan.


***

__ADS_1


Bima mulai menjalani kehidupan layaknya manusia. Darwin mengajarinya banyak hal. Mulai dari berdagang, sampai ilmu pengobatan. Tresi sendiri, selalu mendampingi kekasihnya itu. Darwin sampai gemas melihat tingkah dua muda-mudi yang tengah dimabuk asmara itu.


Emi bahkan berkali-kali menatap jengah pasangan itu. "Gue berasa jadi obat nyamuk di sini," gumamnya.


"Kau harus cari pacar, dan pamer kemesraan seperti mereka!" balas Darwin sengit.


Entah mengapa, ia menjadi sensitif bila menyangkut hubungan sang putri dengan kekasihnya.


"Kenapa, Om, yang sewot, sih," gerutu Emi.


Darwin mendengus kesal mendengar gerutuan sahabat putrinya. Matanya terus menatap kesal pada pria yang sudah merebut hati sang putri.


"Bima!"


Suara itu mengalihkan perhatian Bima. Saat mengangkat pandangan, Ursula berdiri di depannya dan tersenyum. Tresi tak bereaksi apa pun. Sementara Darwin, segera menatap awas pada wanita itu. Ia sadar, wanita yang datang ke tempatnya bukanlah manusia.


"Mau apa lagi nenek lampir itu datang? Tau dari mana pula, dia tempat ini?"tanya Emi entah pada siapa.


"Siapa dia?" tanya Darwin.


"Mantan tunangan Bima," jawab Emi.


Darwin mengangkat sebelah alisnya. Pasangan seorang alpha, tidak akan bisa dipaksakan. Bima adalah alpha terkuat. Namun, karena dia menolak posisi pemimpin, dia pun ikut kehilangan Luna nya.


"Ada apa kau kemari?" tanya Bima datar.


Bima segera mendekati Tresi dan merangkul bahunya. Darwin mendekat dan melepas rangkulan di bahu sang putri. Bima menoleh dan tersenyum kikuk.


"Hati-hati dengan tanganmu anak muda!" ucap Darwin ketus.


"Maaf, Paman." Ia kembali menoleh pada Ursula.


"Aku hanya ingin berpamitan," ucap Ursula.


"Berpamitan? Kemana?" tanya Bima lagi.


"Entah. Kemana saja," jawabnya dengan senyum.


"Tresi, aku ingin minta maaf padamu," ucap Ursula seraya mendekati Tresi.


Darwin menghalangi langkah Ursula. Namun, Tresi memegang lengan ayahnya. Pria itu menoleh dan melihat Tresi menggelengkan kepala seraya tersenyum. Bima tetap menatap awas pada Ursula.


"Tidak masalah. Aku sudah memaafkanmu," ucap Tresi.


"Terima kasih." Ursula menghapus titik air mata yang jatuh ke pipinya.


"Kalau begitu, aku pergi dulu," pamitnya.


"Berbahagialah di mana pun kau berada," doa Tresi.


Tanpa di duga, Tresi memeluk Ursula erat. Bima tersenyum melihat kebaikan hati kekasihnya. entah sudah berapa kali Ursula menyakitinya, tetapi ia tetap memaafkannya. Ursula pun melesat meninggalkan mereka.


"Aku makin sayang sama kamu," ucap Bima. Tatapan terlihat penuh cinta.

__ADS_1


Namun, dehaman Darwin membuat mereka terkekeh.


__ADS_2