
Bahkan melihat tatapan tajam dari seorang wanita itu saja sudah membuat kerongkongan Adellia mengering, ia sudah menyeruput Ice jeruk dingin berukuran jumbo hingga tandas, rasanya gadis itu sangat gugup menghadapi situasi saat ini, untuk kesekian kalinya.
Sedangkan pria tampan dengan bibir mungil serta kulit putih, lengkap dengan rambut hitam mengkilau di padukan dengan dandanan casualnya yang membuat Havier seperti pria di dunia dongeng, hanya saja setampan apapun Havier tetap saja Adellia amat kesal dan jengkel padanya.
“Jadi kau memutuskan ku?” tanya seorang gadis yang saat ini ada di depan mereka.
Atmosfer membunuh yang amat pekat lengkap dengan gurat kesal di keningnya saja mampu membuat mental Adellia menciut.
Gadis yang tengah melemparkan pertanyaan itu amatlah cantik seperti gadis-gadis kota pada umumnya, bahkan ia memberikan tatapan tajam kearah Havier yang tidak berprasaan itu, hanya saja sebagai orang ketiga dihubungan ini, Adellia memilih tenang sambil mengikuti naskah cerita yang berlangsung, ia berusaha tegar untuk menjadi perebut pacar orang.
“Aku sangat menyesal Sal, tapi aku benar-benar mencintainya" tegas Havier ketika memandang Adellia "Kami sudah menjalin hubungan 1 bulan yang lalu, untuk itulah akiri saja hubungan kita sebelum kamu terluka lebih dalam” terusnya dengan wajah santai hingga rasanya ingin di lempar dengan kopi panas untuk membakar ragawi tanpa dosa itu.
Bahkan tangan Havier merangkul akrab bahu Adellia, membuat gadis itu tersenyum getir seraya menajamkan mata penuh peringatan atas profokasi yang ia mainkan
Membuat Salsabilla Andriani berdecak kagum atas pemandangan didepan matanya. Ia tidak menyangka pria itu sudah menjalin cinta dengan seorang wanita jelek setelah mengenalkan Salsa pada orang tuanya, apakah laki-laki yang ia kencani selama 4 bulan terakir itu sakit jiwa, seperti tidak memiliki hati nurani untuk mencampakan dirinya.
Mungkin ini kali pertama bagi Salsabilla di putuskan oleh pria, bahkan rasanya sikap Havier menjadi penghinaan terbesar bagi dirinya yang jelas-jelas dikagumi banyak lelaku disekolah.
“Dasar sampah” hina Salsabilla dengan geram, gadis itu menghempaskan minuman dingin digelas jumbo miliknya ke wajah Havier yang kala itu tersenyum manis.
Membuat Adellia tertegun diam menyaksikan kejadian ini berulang kali, bahkan rasanya Adellia tidak sanggup lagi untuk memerankan drama percintaan dimana dirinya selalu menjadi pihak ketiga.
Salsabilla pergi dari sana, bahkan seluruh isi café memandang kearah mereka, perhatian tertarik kearah Havier dan Adellia, hingga wajah Adellia tidak mengerti lagi harus diletak dimana. Ia sudah sejauh ini membantu sahabatnya, tapi berulang kali dipermalukan oleh Havier dihadapan semua orang, hingga Adellia ingin membuang jauh hubungan persahabatan antara mereka, sebab selalu membuat dirinya malu setengah mati.
__ADS_1
“Akirnya, wanita jelek itu pergi” dengus Havier ketika mengibaskan bajunya yang hampir kuyup, namun sesaat setelah Salsabilla pergi, ia memasang senyum sumbringah yang amat bahagia, bahkan Adellia seperti kehilangan raga dengan tubuhnya atas apa yang terjadi barusan
“Apa kau buta. Salsabilla sangat cantik dan merupakan ketua chilliders di sekolah kita, ia bahkan artis cilik terkenal yang direbutkan banyak pria normal" protes Adellia ketika menyaut ucapan Havier tentang Salsabilla.
Bahkan suara membentaknya saja mampu membuat seluruh pelanggan di kafe itu melirik kearah mereka. “Tetap saja pacarku yang paling terbaik dari pada dia. Terimakasih Dell atas bantuanmu, kau memang sahabat terbaik ku” sambung pria bodoh itu sembari menepuk bahu Adellia, membuat Adellia menajamkan mata menatap kearah Havier, Adellia tidak bisa berkata apapun selain menghirup oksigen sebanyak-banyak mungkin untuk menenangkan diri atas situasi ini.
"Vier..." lirihnya dengan nada rendah "Mulai sekarang kau harus banyak-banyak berdoa. Semoga kedepanya tidak ada wanita yang memesan kopi panas, tidak lucu jika mereka melemparkan kopi panas itu ke wajahmu bukan. Sebab hal ini sudah kali ke-9 kau di lempar dengan minuman dingin oleh wanita yang kau putuskan”
Setelah ia menyelesaikan keresahan hatinta, Adellia menundukan kepala kearah meja, ia bahkan membenturkanya berulang kali untuk menarik kesadaran dirinya.
"Ya tuhan, dosa apa yang aku lakukan di masa lalu, sampai aku harus terjebak di situasi seperti ini" Batin gadis itu seraya melirik wajah temanya yang tidak bersalah itu, bahkan rasanya Adellia tidak menyangka akan mendapatkan teman sepertinya.
Havier mengunakan baju lapisan, pria itu membuka kemeja luarnya untuk mengunakan kaos oblong berwarna hitam yang ada didalam, bahkan saat ia melakukan hal itu, beberapa wanita yang terus memandangi Havie berucap "Woah....." seolah begitu kagum atas ketampanan ragawinya.
Sungguh, Adellia berdecak kagum atas paras tampan yang menarik perhatian wanita, wajah nan elok serta alis mata tebal dengan rahang tajam itu, bahkan postur tubuh Havier sangatlah sempurna seolah-olah wanita tanpa malu bisa saja mendekatinya dahulu.
Hingga tangan Havier menepuk pundak Adellia dengan akrab, sebab gadis itu sudah menyelamatkan hidupnya, bahkan Havier ingin menghadiahkan ciuman dipipi Adellia namun ditolak mentah-mentah olehnya.
“Jangan sampai wajahmu babak belur bertemu denganya!! Enyahlah ” tekan Adellia seraya menajamkan mata penuh ancaman.
"Kenapa kau galak sekali, bukankah kita sahabat”
“Sahabat pantat mu!!” celoteh gadis itu dengan jengkel “Sahabat seperti apa yang memanfaatkan sahabatnya sendiri, bahkan aku berkorban banyak untukmu!! Jika tidak karna kau merengek, aku tidak akan menolongmu, sungguh Vier, aku tidak ingin ada yang kesekian kalinya!” bentak Adellia sambil memukul kepala Havier dengan tas mini yang ia gunakan.
Gadis itu bangkit dari duduknya, seraya berjalan untuk pergi mendahului Vier, sebab ia sudah muak berlama-lama disana, melihat hal itu, Vier hanya mampu tersenyum memandangi pungung Adellia.
Baru saja Adellia beranjak dari tempat duduknya, Havier berlari mendahului langkah gadisnya, ia menuju keluar cafe sambil melangkah secepatnya, tentu saja disana sudah ada seseorang yang menanti Vier
__ADS_1
Membuat mata Adellia melirik kearah luar seraya terdiam diposisi. Di café yang ia hadiri siang ini cukup luas dan mewah, bahkan café itu hanya di kunjungi oleh beberapa anak muda kalangan atas, tentu saja makanan dan minuman disini bisa di jadikan sebagai uang jajan Adellia selama satu minggu kedepan, tapi beruntung Havier tergolong kalagan atas jadi dialah yang membayar semua tagihan minuman itu.
Mata Adellia menatap tajam melirik kearah pria periang itu, hingga kaca pembantas di sisi café mampu menjangkau pemandangan keluar sana, ia melihat mobil mewah mengkilau yang sudah terbuka atasanya untuk di tumpangi Havier, senyum Adellia mengulas manis seperti buah perisik saat mendapati temanya yang bahagia dengan pilihan terbaik itu.
Kadang di dunia ini banyak hal yang tidak bisa kita paksakan, dan ya. Havier tidak bisa memaksakan hatinya sendiri untuk mencintai seseorang yang tidak mampu ia sukai dan terima sepenuh hati, pria itu sudah menjatuhkaan pilihanya pada kenyamanan yang menjadi sebuah kebahagian, ia bahkan telah merasakan perbedaan itu sejak dirinya masik kecil, namun Havier berani melangkah kedalam kebahagiaan itu semenjak dirinya menginjak sekolah menengah pertama, dan mereka sudah menjalin hubungan selama 2 tahun lebih, tentu saja hubungan itu sangat di tentang oleh keluarganya, dan bahkan dunia juga akan menentang hal yang sama.
*
“Apa kau sudah lama menungguku?” tanya Havier pada seorang pria yang kala itu mengemudi dimobil yang ia tumpangi, pria itu menanggalkan kaca mata hitam yang bertenger di matanya, bahkan ia sama tampanya dengan Havier, dan merupakan orang yang paling Havier sayangi.
"Aku tidak terlalu lama, naiklah” ucap Enggi dengan sikap santai lengkap dengan pembawaan dinginnya.
Seraya tertawa polos pada Havier yang sudah menyelesaikan misinya, bahkan para wanita disana sudah melihat kearah mereka, seperti melihat barang mewah yang membuat mereka semua terpukau.
Setelah Havier menaiki mobil dan duduk dibangku penumpang, kedua mata mereka melirik Adellia dengan senyum manis penuh tulus, begitupun dengan Enggi yang tak kala teduhnya dari Havier, tentu saja dari arah dalam wanita itu membalas hal yang sama seolah mengikhlaskan dirinya yang dijadikan kambing hitam barusan.
“Cepatlah pergi, aku tidak suka dengan wanita itu” putus Havier ketika melihat wanita yang memandang mereka penuh nafsu.
Membuat Enggi melanjukan mobil untuk berlalu dari sana, bahkan Adellia yang baru saja keluar dari café itu tersenyum sunging atas kepergian temannya, rasanya ia tidak bisa berkata apa-apa lagi selain mengizinkan temanya bahagia.
Tentu saja Havier adalah sahabatnya dari menginjak SMA bahkan Adellia tidak menyangka pria yang sering ia panggil akrab dengan nama Vier itu, memiliki perbedaan dengan orang normal pada umumnya, bisa dikatakan Vier adalah pria sempurna, tinggi, tampan, periang, terkenal, dan kaya raya, bahkan ia sang ahli waris dari perusahaan orang tuanya, tapi siapa yang mengira dibalik kesempurnaan itu ada satu hal yang membuat dirinya terlihat cacat dimata semua orang, tapi bagi mereka yang berbeda, itu bukanlah sebuah kecacatan, melainkan takdir yang tidak bisa mereka elakan.
Karna didunia ini kita membutuhkan penerimaan, kita membutuhkan kenyamanan, kita mengiginkan cinta dan juga aktualisasi diri yang sempurna, sedangkan hidup Havier berada pada area yang berlawanan atas pilar kehidupan manusia, Ia merasa hanya bisa merasa dicintai, diterima, disukai dari lawan jenis yang sama.
Mungkin bagi kalian yang normal, ini akan terlihat aneh, tapi bagi mereka yang berbeda, ini menjadi jalanya. Aneh, penyimpangan, berdosa, dan tak pantas menjadu manusia, itu semua adalah jalan hidupnya.
__ADS_1