
Suara kicauan burung membuat mata itu terpaksa ia buka, bahkan Adellia tidak menyangka ia akan terbangun pada pukul 6.40 pagi, hal ini tentu menjadi tanda jika dirinya akan sangat terlambat di hari senin, mengingat upacara bendera wajib setiap seninnya akan berlangsung pukul 7.15.
“Matilah aku!!” gerutu gadis itu penuh cemas, ketika menjalin tali sepatu hitamnya dengan terburu-buru, bahkan Adellia mengemas buku pelajaran yang ia ingat saja, lantaran tidak memiliki banyak waktu untuk memeriksa daftar pelajaran yang tertempel di dinding kamar.
Dengan gerak cepat, gadis itu mengunci kamar kosnya seraya berangkat sesegera mungkin, ia harus berlari kepersimpangan jalan untuk mencari angkutan umum yang secepat mungkin mengantarkan Adellia kesekolah, bahkan rasanya Adellia tidak berfikir ia akan datang tepat waktu sebab sudah 10 menit sebelum upacara di mulai.
Hingga suara klakson mobil mengetkan dirinya, membuat gadis itu menoleh kearah samping. Adellia melihat sebuah mobil berwatna hitam mengkilat yang cukup mahal dengan modifikasi terbarunya, tidak salah lagi itu adalah Havier, Tania serta Chyntia.
“Adell...” teriak mereka saat tersenyum sumbringah kearah Adellia, bahkan dengan segera Tania yang duduk di kabin penumpang membuka pintu mobil untuk Adellia memasukinya.
“Aishh……kenapa kalian malah berbelok kearah sini” gerutu Adellia tatkala masuk kekabin penumpang, ia mendudukan diri di samping Tania karna tidak percaya mereka menjemput dirinya, tentu saja Havier mengendarai mobilnya untuk berangkat kesekolah.
“Tentu menjemputmu, Putri Adellia” ucap Tania saat mengulas senyum mengejek Adellia.
Hingga Chyntia yang duduk di kursi depan tepat disisi Havier membalikan badan untuk mengabsen senyumnya pada gadis itu. Sembari memandangi cat kuku terbaru yang barus saja ia gunakan itu.
Sedangkan Tania yang duduk di samping Adellia amat sibuk membuat Instastory di sosial median. “Hai gaes, ini hari pertamanya untuk Adellia telat kesekolah, sayangnya Sean undah duluan, dan kami hanya berempat hari ini, Adell lihat sini.....” paksa Tania dengan hebohnya, bahkan membuat Adellia amat jengkel setiap saat gadis itu bertingkah narsis.
Adellia tersenyum paksa untuk mendorong jauh tubuh Tania, sungguh gadis itu paling luar biasa, selain dirinya yang paling narsis, Tania bisa membuat cerita di sosial media sampai titik-titik saking banyaknya mengupdate keseharian disana. Tentu saja Tania adalah seorang gadis yang memiliki pengikut terbanyak di media sosialnya, ia bahkan cukup aktif dalam seluruh sosial medianya, bahkan gadis itu termasuk ke dalam kalangan atas yang memiliki kehidupan mewah dan berkelas.
Sedangkan Tengku Chyntia yang biasa di panggil Chia itu, amat sibuk dengan kecantikanya, ia sudah meniti karier di bidang modeling sedari berusia 5 tahun, tidak jauh berbeda dengan Tania dan juga Havier, Chia juga di katakan memiliki kehidupan amat baik, sehingga ia tidak terlalu aktif dalam belajar dan selalu sibuk dengan keseharian dan kariernya.
“Chia, bagus sekali warnanya" puji Adellia dengan senyum paksa yang membuat tingkah gadis itu terhenti.
"Tentu saja, tapi jangan berfikir untuk-"
"Hapus nggak!!!" bantak Adellia dengan segera, hingga wajag Chia berubah kesal saat Adellia selalu saja melakukan hal ini padanya, dulunya Chia berfikir untuk menjadi teman Adellia agar dia tidak menghapus cat kukunya, tapi kenyataanya Adellia juga terus menghapus cat kukunya sekalipun mereka berteman dekat.
"Nggak!" bantag gadis itu ketika menyembunyikan jari tanganyan di balik pungung untuk menantang kearah Adellia.
Hingga tatapan tajam penuh selidik itu amat mengancam balik dengan atmosfer mengertikan, membuat gadis itu membulatkan mata dengan segera, agar bisa menolak perintah temannya, ia bahkan baru memoles cat kukunya kemarin sore, bagaimana mungkin Adellia tegas menghapusnya.
"Chia....kemarikan" pinta Adellia saat menjulurkan tanganya memunta jemari gadis itu.
__ADS_1
“Adell jangan. Aku baru memoles cat kuku kemarin sore!! Tidak bisakah kau menoleransi sebentar saja, bahkan cat kuku ini belum aku pamerkan ke instastory” tolak Chia sambil mengabaikan perkataan Adellia.
Namun dengan tegas Adellia menarik tangan Chia seolah tidak peduli bagaimana dirinya menolak, sebab sebagai Ketua Osis sudah kewajiban Adellia mendisiplinkan murid agar sesuai dengan aturan sekolah, sedangkan temanya malah mengunakan cat kuku mencolok yang akan melanggar aturan, tentu saja Adellia mengambil tas ransel Tania yang tengah ia selempangkan di samping, sebab Adellia yakin gadis itu pasti akan membawa perlengkapan make up, dan disana pasti sudah memiliki penghapus cat kuku.
“Bukankah sudah aku bilang, untuk bertingkah sebagai siswi SMA, terlepas dari apapun pekerjaan kalian diluar sana, mengikuti aturam sekolah salah satu hal untuk kalian tidal lupa jika kalian adalah murid yang di ketatkan oleh aturan”
"Aku mengerti, tapi-"
"Tidak ada tapi-tapi, kemarikan tanganmu" pinta Adellia sekali lagi, seraya menarik tangan temanya dengan paksa, bahkan Chia menolak secara mentah-mentah seolah ia tidak rela menghapus cat kukunya.
“Tidak mau. Aku baru saja mengecat kuku, tidak mungkin aku harus menghapusnya. Bahkan jika aku hapus akan membutuhkan waktu lagi membuatnya, nanti sepulang sekolah aku memiliki jadwal untuk menghadiri pemotretan, nanti saja hapusnya”
“Itu masalahmu, dari pada guru Bk yang memproses cak kukumu. Lebih baik aku yang menghapusnya, kau tahu sendiri ini sudah kesekian kalinya kau bermasalah dengan cat kuku itu. Jika kau tidak mau kooperatif, aku terpaksa mengajukan masalah ini ke orang tua” ancam Adellia pada temanya, membuat nyali Chia menciut seketika, rasanya tidak akan ada celah untuknya berdebat, bahkan gadis itu seperti tidak peduli bagaimana lamanya Chia disalon kemarin sore.
“Adell…” lirihnya dengan memelas, rasanya ia sudah memasang wajah di kasihani untuk berharap Adellia melonggarkan diri, namun harapan itu sia-sia.
“Chia.....” lirih Adellia dengan tatapan menyelidik, membuat gadis itu menjulurkan tanganya, untuk di sodorkan dengan berat hati pada Adellia.
Sedangkan Tania yang sibuk dengan ponselnya, masih sibuk dengan instastory itu, bahkan sudah tidak terhitung seberapa banyak ia melakukanya di sosial media hingga rasanya Adellia cukup lelah dengan mereka.
"Dell apa kau nggak takut kena hukuman? " tukas Havier pada temanya yang menjabat sebagai ketua Osis, sebab hari ini ia sedang terlambat.
"Tentu saja. Aku bahkan tidak menyangka akan telat selama ini. Ini semua karna dirimu"
"Kenapa? "
"Kau masih bertanya kenapa" ancam Adellia saat menajamkan mata pada Havied, membuat nyali Vier menciut sebab ia menerima laporan tentang kejadian semalam.
"Memangnya kau kenapa del?" timpal Chia yang tengah di bantu Adellia ketika menghapus cat kukunya.
"Tidak ada. Aku hanya di kejar anjing semalam" balas Adellia dengan berbohong, namun tatapan tajamnya seperti mengancam pada Havier. Membuat pria itu membuang muka seolah tidak tahu lantaran terlalu takut ditatap oleh Adellia.
*
__ADS_1
Beberap saat kemudian..
“Ayo kita turun untuk di hukum” ucap Havier dengan tawa menghina yang penuh penghiburan.
Laki-laki tampan yang sangat populer itu memarkirkan mobil di parkiran sekolah yang ada diarea belakang, bahkan Sean Anggara yang kala itu mengunakan kaca mata dengan jaket berwarna merah marron bersikap santai di depan mobilnya.
Ia menghampiri ke-4 orang temanya, yang barus saja keluar dari mobil Havier, Sean tepaku diam memandangi wajah Chia yang sudah merengut pagi-pagi sekali.
“Ada apa dengan wajahmu” tanya Anggara pada gadis yang merengut tersebut.
“Jagan banyak bicara” dengus gadis itu dengan sikap jutek.
Membuat Tania memainkan jemarinya seolah memberitahu jika Adellia menghapus cat kuku Chyntia, tentu mulut Sean membulat sebab itu sudah menjadi hal yang wajar, karna Adellia adalah gadis disiplin di sekolah ini, bahkan ia amat tegas sekalipun mereka temanya.
“Sayang, bagaimana bisa kau terlambat hari ini” ledek Sean dengan sikap santai ketika merangkul bahu Adellia.
Tentu gadis itu menepisnya, sebab bisa di katakan Sean dan Havier hampir sama saja, selalu menjadikan Adellia sebagai pacar mereka untuk menutupi kehidupan pribadinya.
Meskipun Adellia cukup muak dengan seluruh temanya yang selalu menyebalkan, dan membuatnya sebagai orang yang bertanggung jawab atas mereka, bahkan tidak hanya disekolah melainkan kehidupan pribadi, hingga Adellia juga harus merawat ke-4 manusia menyusahkan itu, tapi bagaimanapun karakter mereka, Adellia tidak memiliki alasan untuk membenci.
“Apa yang harus kita lakukan?” tanya Adellia dengan bingung.
Rasanya ia amat frustasi sambil menghela nafas dengan berat, tentu saja keempat temanya itu tidak peduli jika mereka terlambat atau tidak, tapi Adellia sebagai juara umum dan ketua Osis, tidak bisa menampakan diri kehadapan guru dan siswa, tidak mungkin ia mempertaruhkan nama baiknya hanya dengan alasan terlambat, rasanya Adellia tidak seberani itu untuk masuk.
“Bagaimana jika kita bolos saja” ajak Havier dengan sikap santai, membuat yang lainnya mengulas senyum dengan bahagia seolah amat setuju atas usulanya.
“Tidak!!!” bantah Adellia ketika menjamkan mata kehadapan mereka semua. “Bahkan jika kalian berani membolos, akan aku proses pada kepala sekolah untuk mendapatkan panggilan orang tua. Jangan sesekali membolos hanya untuk menghidari hukuman, jika dimasa sekolah saja kalian sudah melakukan hal seperti itu, bagaimana dengan nantinya”
“Lalu apa yang harus kita lakukan, kalau kami mau-mau saja untuk masuk, tapi apa kau yakin akan ikut” tanya Havier ketika memandang Adellia, membuat gadis itu mengigit bibir bawahnya karna gugup.
Rasanya tidak mungkin ia akan masuk kesana, itu akan sangat mempermalukan namanya sebagai ketua Osis teladan. “A-Aku takut...” lirih gadis itu dengan wajah polos, seraya mengaruk kepala penuh bingung.
Ia tidak memiliki keberanian sama sekali, bahkan memikirkanya saja sudah membuat Adellia mengigil ngeri. Bagaimana bisa ia terlambat bangun padahal sudah menyetel jam pagi-pagi sekali.
__ADS_1