My Complicated Boyfriend

My Complicated Boyfriend
Episode 8 - Meredam Emosi.


__ADS_3

Di tengah perjalanan, hanya Hening yang membentang, bahkan tak ada satu kata yang Havier lontarkan, begitupun dengan Adellia ketika duduk tenang disampingnya.


Pria itu memijit pelipis kepala dengan gurat kesal yang enggan untuk memudar, bahkan Adellia melirik Havier dari ekor pandangan untuk mencuri-curi penglihatan.


Apakah Havier marah karna berdebat dengan Enggi barusan, atau Adellia yang terus menempel padanya, tapi sungguh, Adellia tidak berniat untuk melewati batasan, hanya saja, akibat sudah lama tidak terlihat, membuat Adellia terlalu bersemangat bercerita panjang lebar dengan Enggi.


"Kenapa kau melihatku seperti itu" putus Havier saat menyetir mobil dengan tenang.


"Tidak ada, aku tidak melihatmu, aku melihat jalanan, lihatlah pohon itu, mereka melewati kita" tunjuk Adellia dengan gugup, sampai melontarkan bercandaan yang sangat garing.


"Katakanlah apa yang ingin kau katakan" imbuh Havier dengan paksa, ia masih terus dingin seperti awal, bahkan tak ada seuntai senyum tipis padahal Adellia sudah mengajaknya bercanda.


Membuat gadis itu menjatuhkan pandangan nanar kearah samping, dengan tatapan rendah penuh simpati.


"Maafkan aku Vier" lirih Adellia sembari menjalinkan kedua jerami tanganya dengan gugup, bahkan saking cangungnya Adellia tidak berani menatap kearah Havier.


"Itu bukan salahmu" ketus Havier dengan segera. "Ini masalah aku dan Enggi, kau tidak perlu merasa bersalah, karna kau bukan siapa-siapa antara kami, untuk itulah, tidak perlu merasa terbebani"


Sontak wajah Adellia terangkat dengan sempurna ketika menjatuhkan kedua mata itu melirik Havier. Apakah ia sadar atas ucapanya barusan? Apa maksud Havier sebenarnya hingga membuat Adellia merasa tersinggung, mungkin benar Adellia bukan siapa-siapa di hubungan mereka, tapi ia menganggap mereka temanya, apakah memang tidak ada hak untuk Adellia merasa bertangung jawab atas kejadian hari ini.


"Tapi, Vier--"


"Sudalah Adel, aku tidak mau membahas hal ini denganmu, kau dengarkan saja apa yang aku bilang barusan. Kau tidak perlu merasa bersalah" ketusnya lagi, ketika menghentikan mobil di bassmet hotel, membuat bibir itu bungkam untuk membatah. "Turunlah" imbuhnya lagi saat keluar dari sana untuk menunggu Adellia mengikuti Havier.


Dengan sedikit geram, Adellia turun dari mobil, ia memandangi Havier yang terlihat enggan dari arah berlawanan, seraya melirik pria yang meninggalkan untuk masuk ke lokasi pesta.

__ADS_1


"Apa dia benar-benar marah" kesal gadis itu saat mengerucutkan bibir mengumpat tentang Havier, bahkan tubuh kecil Adellia yang tertinggal di belakamg, tertutup oleh tubuh bidang yang mendahului langkahnya.


"Tenanglah Adell, jika dia sudah baik-baik saja, nanti pukul kepala pria bodoh itu, sekarang kau harus banyak sabar untuk menjadi pasanganya malam ini"


"Adell, cepatlah" teriak Havier dari arah depan, hingga gadis yang sibuk dengan gaun dan juga higt heals tingginya, menatap kearah Havier dengan dingin, sungguh Adellia tidak bisa menoleransi lagi, bahkan ia tidak menyangka Havier sangat keterlaluan, padahal semua ini Adellia lakukan karna menjadi pendampingnya di pesta, tapi sikap Havier malah sebaliknya.


Gadis itu berkacak pingang dengan wajah tidak percaya, ia tertawa pelik saat menatap Havier, Adellia melangkah dengan pasti sembari menantang melirik pria itu, dengan percaya diri ia mendongakan wajah menatap pria tinggi itu, memperlihatkan pertentangan seraya menyungingkan senyum dengan tatapan merendahkan.


"Apa masalahmu sebenarnya, Ha! Apa karna kau bertengkar dengan Enggi dan melampiaskanya padaku! Atau karna aku cemburu!" bentak Adellia penuh kesal ketika memancarkan mata mengerikan yang membuat nyali Havier menciut.


"T-Tidak-"


"Tidak apanya! Tidak salah lagi!" tukas Adellia dengan segera, membuat Havier terdiam.


Sontak ucapan Adellia membuat Havier bungkam, benar! Kenapa ia merasa cemburu pada Adellia saat ia sadar jika hubungan antara Enggi dan Adellia tidak akan mungkin terjadi, tapi hatinya terus berkata lain ketika tatapan Enggi selalu berbeda pada Adellia, dan dingin pada Havier.


"Cepatlah masuk, mama dan papaku sudah menanti" seru Havier untuk mengalah, ia tidak ingin memperpanjang permasalahan apapun, sebab akan semakin salah jika ia harus berdebat dengan Adellia.


"Astaga" umpat gadis itu ketika bibirnya ingin berkata kasar atas prilaku mengesalkan Havier. "Cukup ini kali terakir kau minta tolong padaku" batin gadis yang penuh dengan murka.


*


Acara ini diadakan untuk merayakan *An*niverserry orang tua Havier yang ke-30 tahun, tentu berlokasi di Hotel terbesar dikota ini, banyak sekali orang-orang penting yang menghadirinya, membuat Adellia sangat gugup menampilkan diri, namun berhasil di kendalikan dengan sempurna.


Semua para tamu tentu melumpuhkan mata memandang Adellia dan Havier, mereka berdua bergandengan tangan seraya memasang senyum manis yang harus ditahan, rasanya gigi Adellia hampir kering untuk menahan tawa palsu, ketika perutnya menagih hak untuk di isi, setelah memandangi kue yang berjejeran dimeja hidangan.

__ADS_1


“Adell, aku ke tempat mama dulu, kalo kau lapar silahkan makan saja" putus pria itu dengan suara dingin, membuat Adellia menganggukan kepala seolah mengerti. "Dan, jangan pedulikan orang yang tersenyum kearahmu, karna aku tidak menjamin mereka akan bersikap baik nantinya”


“Kenapa?” cegat gadis itu, hingga menghentikan gerak Havier.


“Karna orang yang tersenyum padamu, bisa saja adalah senyum para iblis. Jadi abaikan mereka, aku akan kembali secepatnya”


Havier berlalu dari hadapan Adellia, meningalkannya sendirian, untuk menyicipi hidangan, membuat gadis itu mengerucutkan bibir, tatkala kepalanya menoleh kearah meja hidangan yang sudah tertata rapi di hadapanya, tentu ia sangat lapar, saat cacing di dalam sana sudag menangih makan, membuat gadis itu mengambil beberapa potong roti untuk menganjal perut, setelah itu ia tutup dengan jus jeruk segar yang memabukan indra perasa.


Havier berbincang dengan kenalanya, bahkan pria itu singgah kepada mereka yang terus mencegat jalanya, membuat Havier berdiri cukup lama didekat orang-orang itu, tentu Adellia sangat sibuk mengunyah makanan yang mengugah selera, bahkan rasanya ia tidak memikirkan apapun selain jajaran makanan mahal yang jarang di konsumsi, hitung-hitung malam ini Adellia sedang memperbaiki gizi.


“Lihat ini, siapa yang ada di depan mataku” putus seorang gadis muda yang mengalihkan perhatian Adellia, bahkan Adellia mengalihkan pandangan seraya melihat kearahnya, tatkala pandangan mereka sedang bertaut dengan penuh pertentangan.


“Wanita gila ini lagi” kesalnya.


Adellia melepaskan seluruh makanan yang ia genggam, bahkan dengan percaya diri Adellia tersenyum ramah kearah Veronica untuk bertingkah angkuh, agar mempertahankan harga dirinya di depan semua orang.


“Vero, kamu kenal dia?” tanya seorang gadis yang mengunakan gaun berwarna Dark di samping Veronika, gadis itu tak lain Salsabilla, mantan kekasih Havier yang ia putuskan dengan mengatasnamakan Adellia sebagai alasanya.


"Matilah kau Adellia" batin Authoor**.


“Tentu saja aku kenal, bahkan kau harus kenal dia Sal. Adellia Meyna adalah ketua osis kita yang merupakan murid beasiswa di bantuan sosial, namun berlagak perguasa seolah kita rakyat jelata” ejek Veronica yang kala itu tidak mengontrol suaranya.


Membuat si pendenger tersenyum manis ketika deskripsi dirinya di rendahkan oleh anak-anak manja itu, anak-anak yang mengandalkan uang orang tua untuk sekola, dan jabatan orang tua mereka untuk merendagkan rakyat lemat.


Entah kenapa sikap lancang mereka benar-benar membuat Adellia geram, namun semua mata sudah tertuju kesumber keributan, membuatnya terpaksa meredam emosi agar tidak mempermalukan Havier.

__ADS_1


__ADS_2