
"Aish......." decak Adellia ketika memijit kepalanya, sungguh ia begitu pusing, kenapa Adellia bisa merasakan kesakitan seperti ini, apa yang terjadi pada tubuhnya hingga tersadar dengan rasa pusing yang mendera
"Apa kau sudah bangun?" sapa Reynanda saat menghampirinya.
"Kau!" teriak gadis itu, hingga Rey menutup gendang telinganya yang sudah di sakiti Adellia. "Kenapa kau disi" tunjuk gadis itu dengan mata mengancam, bahkan dirinya semakin kesal atas kehadiran Reynanda di hadapanya.
"Kaulah yang harusnya bertanya tentang dirimu. Kenapa kau bisa berada di rumahku" balas pria itu, ketika menghampiri Adellia, ia menandaskan telapak tanganya ke kening Adellia untuk memeriksa suhu tubuh gadis itu.
"Sudah membaik, syukurlah" terusnya ketika pipi Adellia memerah.
"Lepaskan tanganmu" dengusnya dengan malu.
"Bagaimana aku bisa berada disini? tanya gadis itu dengan pandangan rendah, bahkan ia mulainbersahanat setelah perhatian yang Reynanda berikan.
"Apa kau tidak ingat apapun?" tanya pria itu, bahkan membuat tatapan Adelli terangkat kearahnya.
Ia baru mengigat jika dirinya yang meminta Reynanda untuk menyelamatkanya dari Enggi, bahkan ia menangis di pelukan pria itu tanpa kontrol dan membasahi sebagian bajunya dengan air mata, tak sampai disana, ia juga meminta untuk Reynda memintanya pergi, hingga Adellia benar-benar mengemis padanya.
"Astaga Adellia, apa yang kau lakukan, kenapa kau sebodoh itu" umpat Adellia dengan geram, ketika memukul kepalanya sendiri, membuat pria itu tersenyum sungging setelah Adellia mengigat sesuatu.
"Nampaknya kau sudah mengigat apa yang kau lakukan padaku hingga berakir di rumahku, jangan bersikap seolah-olah aku ini orang mesum yang membawamu ke rumahku, jika bukan karna aku tidak mengetahui alamatmu. Atas semua hal merepotkankan ini, aku ingin bertanya Adellia, apa kompensasi yang aku dapatkan?"
"Apa Kompensasi!" bentak Adellia dengan tidak percaya, bagaimana pria itu meminta kompensasi darinya.
"Tentu saja, aku sudah membantumu, ku merawatmu, dab mengizinkanmu tidur di rumahku, tentu kau harus membayar, karna kau tidak mungkin membayarku dengan uang, bagaimana jika kau bayar aku dengan tubuhmu" seketika pandangan Adellia teralihkan kearah pria itu, dia menghina dengan penuh kepuasan seolah mengatakan hal barusan tanpa pertimbangan.
Apakah pria itu sudah gila, meminta hal mustahil dari Adellia, jangankan memberikan tubuhnya, menatap matanya dan melihat kehadiranya saja Adellia sudah ingin menginjak harga dirinya.
"Apa kau fikir-"
"Aku hanya bercanda, jangan dimasukan ke dalam hati, bagaimanapun kau bukanlah seleraku" tukasnya dengan segera, hingga menghentikan penuturan Alissa yang tadi ingin menghina.
"Permisi Tuan Muda, nampaknya bercandaan anda tidak membuatku tertawa sama sekali"
"Siapa bilang bercanda hanya untuk membuat orang tertawa, kadang dengan bercanda kita bisa mengekspesikan hal lucu, bagiku, mengataka hal barusan adalah hal lucu. Jika kau tidak tertawa itu bukanlah urusanku, yang jelas leluconku sudah cukup mengkompensasi kerepotan yang aku alami beberapa waktu ini"
__ADS_1
"Kau!" bentak Adellia degan geram.
Sungguh Adelli ingin sekali menampar wajahnya, namun Adellia masih berfikir, jika bukan karna dirinya mungkin Adellia tidak akan terselamatkan, untuk itulah menerima hinaan yang ia jadikan sebagai lelucon nampaknya harga tingginatas kompensasi ini.
"Aku berterimakasih atas belas kasihmu, tapi aku sudah membalasnya dengan harga diriku yang sudah kau rendahkanm. Mulai detik ini jangan pernah berhubungan lagi, jikapun aku mati kau diamkan saja, bersikap seolah aku bukanlah manusia" ketusnya ketika menandaskan kaki kearah lantai, bahkan keseimbangan tubuh Adellia melemah hingga tegaknya terhayung kebelakang, beruntung Reynanda menyambut dirinya.
"Bahkan berdiri saja kau masih belum sempurna, sudah berlagak menentangku" ejeknya dengan tawa menghina, membuat Adellia menepiskan tanganya, namun Reynanda mengendong tubuh Adelli dengan segera.
"Lepaskan aku, apa yang kau lakukan"
"Aku akan mengantarmu keluar, bukankah kau akan pergi sekarang, jadi biarkan aku membawamu keluar dari sini, menunggumu berdiri hanya akan membuang waktu"
"Apa kau gila, lepaskan aku"
Hingga langkah Reynanda terhenti tepat didepan pintu kamarnya, pria itu menundukan pandangan kearah bawah ketika manautkan alis menatap Adellia, hingga ia melepaskan tubuh gadis itu hingga terhempas kearah bawah.
"Akh" teriak Adellia saat tubuhnya terpental ke lantai, bahkan Adellia mengerutkan kening kibat kesakitan diantara tatapan jengkel pada pria itu. "Apa kau gila!" umpat Adellia dengan nada membentak.
"Bukankah kau ingin di lepaskan, aku hanya mengikuti perintahmu"
"Walaupun begitu, apa kau pantas menjatuhkan aku seperti barang tak berharga" ketus Adellia dengan geram.
Membuat gadis itu menandaskan telapak tanganya untuk menjadi penyangga berdiri dari sana, namun tubuh Adellia masih melemah, mungkin ini diakibatkan karna dirinya yang terlalu lama terbaring.
Hingga tangan pria itu menarik pergelanganya, membantu Adellia berdiri seraya memperkokoh tegaknya, Adellia yang tertegun diam menatap kearah pria itu, bahkan sorot mata mereka menyatu hingga pandanganya merendah.
"Aku akan mengantarmu pulang" ucapnya dengan penuh tenang, membuat pipi Adellia memerah sebelum akirnya membalas perkatanya.
"Tidak perlu repot-repot, aku bisa sendiri"
"Apa maksudmu, aku akan repot membiarkan orang yang sulit berjalan untuk pulang sendirian, bagaimana jika kau pingsan tengah jalan, mungkin aku akan disalahkan jika terjadi sesuatu padamu, apalagi Tuan Muda Enggi melihatmu bersamaku semalam, itu sangat merepotkan. Bisa saja ia menjadi saingan bisnisku nanti" terusnya hingga gadis itu dibuat berdebar atas perhatian hangatnya, namun merasa jengkel atas alasan yang diberikanya. "Ayo" ajak Reynanda ketika menjalin kedua tangan mereka, bahkan membuat Adellia terdiam atas genggaman erat pria itu.
"Ayo" terusnya lagi, hingga gadis itu mengangkat kepala kearah Reynanda untuk mengikuti langkahnya.
Sungguh, jantung Adellia berdebar atas sikap hangat dan penuh perhatian ini, kenapa pria itu bersikap baik padanya padahal Adellia mendengar rumor jika Reynanda cukup jijik berhubungan dengan wanita, apalagi disentuh wnaita, tapi ia sedari tadi mengandeng tangan Adellia, mengendongnya bahkan mengenggam erat jemari mereka.
__ADS_1
Ada apa dengan pria itu?
*
Ujian pertengahan semester akan diadakan besok hari, sudah 3 hari sikap Havier sangt aneh, bahkan Adellia juga banyak diam dari pada berbicara, semuanya sadar mereka tengah berdiam diri, namun tak satupun dari mereka yang mau membahas ini, Jika ada Adellia maka Havier akan menghindar, begitupun sebaliknya, jika ada Havier, Adellia yang akan menghidar.
Hingga Beberapa waktu yang terjadi ini Adellia selalu terlibat dengan Reynanda, pria itu lama-lama terua menjegkelkan, bahkan Adellia tidak mengerti kenapa Reynanda terus saja bertentangan denganya, kadang dia sangat merepotkan dan menganggu, namun kadang dia juga sangat perhatian dan terus ada disekitarnya.
Hingga ujian pertengahan semester dimulai, Adellia sudah belajar dengan maksimal dan akan merencanakan untuk pulang ke kampungnya mengunjungi orang tua, Adellia sangat bahagia sekali beberapa hari lagi akan bertemu dengan mereka, bahkan mama mengatakan ia sudah sangat merindukan Adellia.
"Rey, libur kali ini apa kau akan ke Australia?" tanya Ellysia pada pria yang dia sukai.
"Tidak, aku ingin kesuatu tempat?"
"Kemana? Apa aku boleh pergi bersamamu?"
"Tidak boleh, ini kunjungan pribadiku"
"Kenapa kau begitu ketus membalasku, apakah karna sikapku terakir kali membuatmu marah Rey?"
"El, aku lelah! Aku ingin pulang" pria itu melangkah mendahului Ellysia ketika menangkap Adellia di hadapanya.
"Kepala baru, kemana kau libur kali ini?" tanya Reynanda dengan ingin tahu, bahkan ia memperhatikan bahwa Adellia jarang bersama teman-temanya.
"Itu bukan masalahmu, urus saja masalahmu sendiri"
"Aku sudah mengurusnya, sayangnya aku tidak memiliki masalah apapun, jawab aku apa yang kau lakukan libur kali ini?" tanya Reynanda dengan bahagianya, bahkan membuat Ellysia menatap suram atas tingkah pria itu, Reynanda yang begitu acuh padanya, terlihat hangat pada Adellia, apa kelebihan gadis kampungan itu memangnya, sampai Reynanda bersikap sehangat itu.
"Aku mengunjungi orang tuaku"
"Apakah tidak bisa kau undur?" tanya Reynanda padanya, membuat langkah Adelli terhenti sembari melirikan mata kearahnya.
"Tidak! Bahkan tidak akan pernah, lagian kenapa kau bertanya seperti itu, mengesalkan sekali"
"Astaga, aku hanya bertanya, apa susahnya menjawabnya dengan santai, jika kau terus marah-marah, wajahmu benar-benar akan keriput"
__ADS_1
"Terserah, aku pergi, bye" hingga gadis itu berlari meninggalkan Reynanda untuk bergabung dengan temanya.
Nampaknya Adellia tidak bisa menemaninya menemui seseorang, jika begini Reynanda terpaksa menemui orang itu sendiri. "Dasar keras kepala" dengusnya ketika mengumpat tentang Adellia.