My Complicated Boyfriend

My Complicated Boyfriend
Episode 18 - Apakah kamu berbeda?


__ADS_3

Seorang playan wanita yang mengunakan baju seragam membuka pintu besar itu, tuan muda mereka membawa gadis yang tidak sadarkan diri di gendongaanya, keduanya terlihat basah kuyup namun wajah panik Tuan Muda Reynanda tertampil jelas, hingga mengerti, seseorang yang ia bawa mungkin gadis yang cukup berharga bagi Tuan Muda.


Sebab pelayan yang ada di villa sudah lama bekerja dengan Reynanda, namun mereka tidak pernah melihat pria dingin itu sepanik ini soal wanita, hingga mereka mempertanyakan siapa gadis yang ia bawa di tengah malah ini menuju Villa pribadi?


Elios yang sudah duduk dengan kaki yang ia angkat dengan santi, terkesiap mendapati Reynanda yang terengah membawa seorang gadis dipangkuanya, ia tadinya berfikir jika Reynanda ingin menambah obat alerginya, tapi siapa yang mengira jika pria itu malah membawa seorang gadis di pelukanya dengan wajah panik yang bisa diakses semua orang.


“Rey, siapa gadis kecil ini. Apa kau menculik seorang gadis untuk begituan” tuduh pria itu dengan tatapan menyelidik, hingga membuat Reynanda naik pitam atas sikapnya.


“Tutup mulutmu, atau kau ingin aku kirim ke korea utara untuk melakukan amal disana” ancamnya dengan jengkel, seraya memasuki kamar yang ada di lantai dasar, tentu saja itu adalah kamar tamu.


“Lalu siapa gadis ini? Tidak mungkin pacarmukan!” tanya Dokter Elios sembari menyusul langkah Rey, ia sangat ingin tahu dengan siapa gadis itu bagi Reynanda yang jijik dengan wanita dan membenci lawan jenisnya.


“Dia hanya gadis bodoh yang tidak sengaja aku pungut untuk menjadi ladang amal. Cepat periksa dia, aku tidak ingin kau melawkan satu halpun terkait tubuhnya” tegas Reynanda ketika merebahkan tubuh Adellia dengan penuh hati-hati, bahkan menumpu kepala gadis itu dengan tanganya agar tidak menyakiti, melihat hal itu tentu membuat Elios terpaku diam menatap pada adik sesupupunya.


"Apakah itu benar-benar Tuan Muda Reynanda?"


“Cepatlah periksa dia, apa yang kau tunggu lagi!” bentaknya dengan jengkel, membuat Elios terperagap tak percaya, atas teriakan kencang itu.


“Baiklah, minggirlah sedikit, bagaimana aku bisa memeriksanya jika kau berdiri sisana”


Pria yang berprofesi sebagai Dokter itu memeriksa tubuh Adellia, bahkan Elios mengeluarkan seluruh perangkat medis untuk memeriksa dirinya, diantara keseriusan itu, sungguh Elios sangat hati-hati dan tidak melewatkan pemeriksaan apapun, bahkan sedari tadi tatapan Reynanda sangat menyelidik kearah dirinya, membuat Eliso cukup kaku meraih tubuh gadis itu.


“Jagan mengambil kesempatan dalam kesempitan” tegur Reynanda dengan tegas.


Membuat Elios menghela nafas ingin membantah, namun tatapan membunuh itu Rey tebarkan dengan sangat Intesn, membuat nyalis Elios tersurut hingga memilih diam untuk memeriksa saja.


“Apa yang terjadi padanya, kenapa lama sekali” dengus Reynanda yang kala itu sangat tidak sabaran terkait kondisi Adellia.


“Kenapa kau begitu khawatir, memangnya siapa gadis ini, jika aku lihat dari wajahnya sepertinya dia tipe idealku” sautnya dengan sembarangan.


Bahkan Elios tanpa disaring dan juga mengeluarkan sikap bercanda namun aura pekat di wajah Reynanda terpampang nyata hingga pria itu berulang kali bergindik ngeri.

__ADS_1


“D-Dia hanya tertidur” celetuk pria itu saat membalas pertanyaan Reynanda dengan serius, rasanya bergurau dengan pria dingin berhati iblis itu sangatlah tidak mungkin.


“Apa kau memeriksanya dengan benar, apa kau tidak mempermainkan ku!!!” kejarnya dengan tidak percaya.


“Jika kau tidak percaya, kau bawa saja ia ke rumah sakit terhebat di dunia ini. Bahkan belum sampai disana dia akan sadar” saut pria itu dengan tatapan panjang. "Meskipun saat ini dia tengah demam, tapi dengan beberapa obat dan juga istirahat yang cukup, gadis ini akan baik-baik saja. Dia hanya kelelahan, nanti dia akan bangun sendirinya”


“Baiklah, berikan obat paling ampuh untuk kesehatanya, jagan sampai ada yang tersisa dari pemerikasaanmu, jika terjadi sesuatu karna pemeriksaanmu, akan aku beri hukuman paling berat untuk kau jalani seumur hidup” acamnnya hingga pria itu memalingkan kepala menatap Rey.


“Bahkan untuk diirnya sendiri, dia tidak pernah semenyeramkan itu, kenapa untuk gadis ini dia amat posesif, menyebalkan sekali” gumam elios dengan tidak percaya.


“Jika kau tidak percaya dengan kemampuanku, kenapa kau masih mempertahankan aku di sisimu. Bukankah kau sangat kejam Rey, jika begini aku benar-benar ingin putus hubungan dengan mu” balas Elios degan memelas, membuat mata Reynanda menajam memandang kearahnya.


“Tutup mulutmu, lekaslah tingalkan obat dan pergi dari sini. Jika kau terus berada disini aku benar-benar akan mengirimu untuk pergi, ke-"


“Baiklah..... baiklah. Aku hanya bercada, aku akan pergi” sambungnya saat mengeluarkan beberapa obat yang sudah tersedia


Bahkan Elios memberikan beberapa vitamin untuk gadis itu “Minum obat ini 3 kali sehari, dan paksa dia meminum vitamin di botol ini, selain itu lepaskan baju basah itu dari tubuhnya, aku peringatkan untuk tidak menyentuh gadis itu sembarangan, jika kau melakukanya akan aku buat kau bertanggung jawab” dengus Elios kearah sepupunya.


Membuat pria itu amat mengerti dan paham sekali, namun jika terus ada dirinya, Reynanda benar-benar amat jengkel.


Hingga mata Rey terpaku melirik Adellia yang tengah memejamkan kedua matanya, nampaknya gadis itu amat kelelahan sampai dirinya terlelep begitu saja, kenapa ia sangat ceroboh dan tidak berhati-hati, jika saja Reynanda memiliki niat buruk apa yang akan dilakukanya, benar-benar wanita merepotkan.


*


Sudah hampir tengah malam, namun Adellia masih saja menutup kedua matanya, membuat Reynanda melirik kearah jam yang melingkar di tangan pria kekarnya, bahkan ia sudah mengatakan kepada Elios terkait kondis wanita itu, namun Elios hanya mengatakan untuk tidak membangunkan Adellia, hanya saja gadis itu harus meminum obat untuk meredakan panasnya, bahkan permukaan tangan Reynanda mendarat di kepala Adellia untuk merasakan suhu tubuhnya yang lebih tinggi dibandingkan suhu tubuh normal.


Pria itu keluar dari kamar untuk menuju kearah dapur, ia melihat pembantu yang tengah membereskan rumah sambil memberikan sapaan padanya.


“Tuan muda, apa ada yang bisa saya bantu?” tanya wanita itu dengan sungkan, membuat Rey meragu sambil menyampaikan maksudnya, bahkan ia tidak tahu akan mengatakan apa pada pembantu tersebut, lantaran Reynanda tidak pernah merawat orang sakit sebelumnya.


"Itu....jika seseorang tengah panas tinggi, air apa yang di oleskan diatas kepalanya?” tanyanya dengan sedikit gugup, membuat wanita parubaya itu menautkan kedua alisnya seoalah bingung atas perkataan Reynanda. "Maksudnya—“

__ADS_1


“Apa maksud tuan muda ingin mengompres tubuh nona itu dengan handuk kecil” tebaknya dengan segera.


"Aaa..... benar, mengompres" saut Reynanda dengan senyum ramahnya, sebab seseorang mengerti akan pertanyaan yang ia tanyakan itu.


“Tunggu sebentar tuan muda, biar bibi buatkan air hangat untuk menurunkan panasnya"


Wanita itu dengan segera membalikan badan untuk mencari sesuatu, matanya teralihkan pada lemari pantry sambil mengambil baskom kecil dengan handuk baru yang ada di beberapa laci, bahkan wanita itu amat girang ketika memberikanya pada Reynanda.


“Ini” sodornya dengan penuh semangat, membuat Reynanda sedikit enggan namun ia ambil secara perlahan. “Gunakan handuk ini untuk mengompres kepalanya, pastikan melakukanya berulang-ulang hingga merasakan suhu tubuh nona sudah menurun” terus pelayan villa dengan lugas, ia memandangi wajah Tuan Muda yang selama ini muram dan dingin hari ini memiliki banyak ekspresi yang sedikit berwarna, tidak hanya khawatir dan cemas, namun ia terlihat perhatian dan hangat.


"Terimakasih bi"


"Sama-sama Tuan"


Seketika, Reynanda berlalu meningalkan dapur, ia menapakan kaki menuju kamar Adellia sembari berfikir. “Astaga, ada apa denganku” batin pria itu setelah meningalkan beliau.


Mata reynanda terpaku melihat seorang gadis yang begitu lelap dalam tidurnya, bahkan rasanya sangat canggung untuk mengurus seseorang dirumah ini, tapi kenapa setiap kali gadis itu dalam kesulitan, Reynanda selalu saja ingin melindunginya.


“Kenapa kau menyusahkan sekali” decak pria itu dengan tatapan jengkel, sebelum mengaplikasikan benda yang ada ditanganya.


Reynanda memeras handuk kecil yang sudah ia basahi kedalam air hangat yang ada dibaskom, tentu ia mengerti cara mengaplikasikanya, hanya saja akibat gugup Reynanda terkesan seperti orang bodoh.


Perlahan mata pria itu terpaku melihat wajah Adellia yang sangat teduh jika sedang diam, fikiranya masih berfikir tengang masalah apa yang di hadapi gadis itu dengan Tuan Muda Prasetyo, bahkan banyak pertanyaan yang mengusik fikiranya tentang Adellia.


Sudah hampir beberapa waktu Reynanda membantu mengompres tubuh Adellia, bahkan air yang tadinya hangat sudah mendingin di permukaan tanganya, bahkan ia amat cekatan saat mengusap lembut kepala Adellia penuh sayang, hingga menyingkirkan rambut-rambut yang mungkin mengaggu wajah gadis ituitu.


Jika bisa di katakan, baru kali ini ia merasa peduli kepada wanita. Tapi kenapa harus wanita menyebalkan ini yang membuat fokusnya terpecah, wanita yang paling di benci Reynanda tentu bukan Adellia, melainkan sikap Adellia yang tidak ia sukai.


*


Reynanda adalah ahliwaris keluarga Tama, dan ibunya yang sudah meninggal dunia membuat Reynanda membenci ibu tirinya saat ini.

__ADS_1


Nyonya Tama yang merupakan nyonya besar di keluarga Tama hari ini tentu saja tidak membuat Reynanda menyukainya, dia berasal dari kalagan rendahan yang selalu menempel kepada ibunya dimasa muda, bahkan ibu dari Reynanda sudah mengangap dirinya sebagai adik perempuan, hingga pada akirnya membiarkan wanita itu tinggal di rumah keluarga Tama, bahkan ia di besarkan dengan belas kasih dari ibunya, hingga pada akirnya wanita licik itu mampu merangkak ke ranjang ayahnya dan pada akirnya mengkhianati ibunya, bahkan kematian ibunya yang tidak bisa ia terima itu adalah hal yang membuat Reynanda membenci wanita seperti ibu tirinya. Sebab sampai detik ini Reynanda percaya jika kematian ibunya adalah campur tangan nyonya Renata bratama.


“Apakah kamu berbeda?” gumam Reynanda saat terpaku memandang Adellia.


__ADS_2